
Penulis : Almides F. Syauta, S.Sos., M.Si.
Pasar Mardika bukan sekadar ruang transaksi tempat bertemunya penjual dan pembeli. Ia adalah salah satu wajah penting Kota Ambon sebuah ruang yang sejak dahulu menjadi denyut perdagangan, perjumpaan manusia, sekaligus persilangan berbagai kebudayaan.
Namun di balik hiruk-pikuk pasar, nama Mardika menyimpan lapisan sejarah yang jauh lebih tua daripada bangunan dan aktivitas perdagangan yang kita kenal hari ini.
Kawasan Mardika pada masa lampau diyakini berkaitan dengan permukiman kelompok Mardijker, yang berada di sekitar kawasan benteng Portugis yang kemudian dikenal sebagai Benteng Nieuw Victoria. Dari sinilah pertanyaan sejarah muncul:
Dari mana sebenarnya nama Mardika berasal, dan siapa sesungguhnya orang-orang yang pernah mendiami kawasan itu?
Mardika dan Mardijker: Sebuah Nama yang Menyimpan Sejarah
Istilah Mardijker memiliki sejarah panjang dalam dunia kolonial Asia. Dalam berbagai catatan sejarah, istilah ini digunakan untuk menyebut kelompok masyarakat yang telah memperoleh status bebas dari perbudakan, terutama mereka yang sebelumnya berada dalam struktur masyarakat kolonial Portugis maupun kemudian VOC.
Kata Mardijker sering dikaitkan dengan istilah yang bermakna merdeka atau bebas. Dalam konteks sejarah kepulauan Maluku, istilah tersebut kemudian menjadi penanda bagi suatu kelompok masyarakat yang memiliki latar belakang etnis dan geografis yang beragam.
Mereka bukanlah kelompok yang lahir dari satu akar kebudayaan saja.
Di dalam komunitas Mardijker terdapat manusia-manusia yang datang dari berbagai wilayah, termasuk Asia Selatan dan kawasan lain yang pernah berada dalam jaringan kolonial Portugis. Mereka kemudian hidup, bekerja, dan membangun kehidupan baru di pusat-pusat kekuasaan kolonial, termasuk Ambon.
Karena itu, Mardijker bukan hanya sebuah istilah sosial.
Ia adalah jejak tentang manusia yang berpindah, tentang kebebasan yang diperoleh, dan tentang identitas yang kemudian berubah bersama zaman.
Dari Militer hingga Perdagangan
Dalam perkembangannya, kelompok Mardijker mempunyai peran dalam kehidupan sosial dan ekonomi kota kolonial. Mereka dapat ditemukan dalam berbagai aktivitas, termasuk perdagangan, pekerjaan publik, serta bidang kemiliteran.
Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa sejarah Ambon tidak pernah berdiri di atas satu kebudayaan saja.
Ambon tumbuh dari pertemuan banyak manusia: masyarakat lokal, Portugis, Belanda, orang-orang dari Asia, serta berbagai kelompok lain yang datang melalui jalur perdagangan dan kolonialisme.
Di tengah pertemuan itulah Mardijker pernah menjadi bagian dari lanskap sosial Ambon.
Tetapi sejarah manusia tidak selalu meninggalkan jejak yang mudah dibaca.
Ada sejarah yang tertulis dalam arsip.
Ada sejarah yang tertanam dalam batu.
Dan ada pula sejarah yang perlahan larut ke dalam darah, nama keluarga, bahasa, perkawinan, dan kebiasaan sehari-hari hingga pada akhirnya sulit dibedakan dari masyarakat yang telah lebih dahulu ada.
Ketika Identitas Larut dalam Asimilasi
Jejak Mardijker di Ambon hari ini menjadi persoalan yang menarik sekaligus rumit.
Proses asimilasi dan perkawinan antarkelompok memungkinkan identitas mereka berbaur secara mendalam dengan masyarakat lokal maupun kelompok pendatang lainnya. Nama, bahasa, agama, tradisi, dan identitas keluarga dapat mengalami perubahan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dalam konteks inilah dugaan mengenai keberadaan Mardijker yang memiliki asal-usul dari India Selatan maupun wilayah Asia lainnya menjadi penting untuk dikaji secara lebih serius.
Bukan tidak mungkin sebagian dari mereka kemudian menggunakan nama dan marga yang telah beradaptasi dengan lingkungan sosial tempat mereka tinggal. Akibatnya, identitas asal yang dahulu menjadi penanda kelompok perlahan kehilangan cirinya.
Tradisi yang dahulu mungkin membedakan mereka dapat berubah.
Bahasa dapat menghilang.
Nama keluarga dapat berganti.
Kesenian dapat berbaur.
Dan pada akhirnya, keturunan mereka mungkin hadir di tengah masyarakat Ambon tanpa lagi mengetahui bahwa leluhur mereka pernah menjadi bagian dari komunitas Mardijker.
Di situlah paradoks sejarah bekerja: semakin dalam manusia berbaur, semakin samar pula identitas asalnya.
Pasar Mardika dan Sejarah yang Terlupakan
Hari ini kita mengenal Mardika terutama sebagai kawasan perdagangan yang ramai. Orang datang membawa barang, menjual hasil bumi, membeli kebutuhan sehari-hari, lalu pulang.
Tetapi mungkin tidak banyak yang berhenti sejenak untuk bertanya:
Mengapa tempat ini disebut Mardika?
Sebuah nama terkadang lebih tua daripada ingatan manusia yang mengucapkannya.
Nama Mardika mungkin masih bertahan, sementara manusia yang dahulu membuat nama itu hidup telah melebur dalam perjalanan sejarah.
Pasar berubah.
Bangunan berubah.
Jalan berubah.
Generasi berganti.
Tetapi sebuah nama tetap tinggal sebagai fosil bahasa diam, namun menyimpan cerita tentang masa lalu.
Karena itu, Pasar Mardika semestinya tidak hanya dilihat sebagai pusat ekonomi Kota Ambon. Ia juga dapat dibaca sebagai ruang sejarah, tempat berbagai lapisan migrasi, perdagangan, kolonialisme, pembebasan, dan asimilasi pernah bertemu.
Mencari Jejak yang Tidak Lagi Terlihat
Persoalan terbesar bukan semata-mata apakah keturunan Mardijker masih ada.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:
Seberapa banyak sejarah mereka yang telah hilang sebelum sempat dicatat?
Ketiadaan bukti yang mudah ditemukan bukan berarti sebuah kelompok manusia tidak pernah ada. Jejak sejarah dapat tersembunyi dalam arsip kolonial, catatan gereja, dokumen keluarga, nama tempat, makam tua, silsilah, peta lama, catatan militer, maupun tradisi lisan masyarakat.
Karena itu, penelitian mengenai Mardijker di Ambon masih merupakan ruang terbuka yang menarik untuk ditelusuri secara akademis.
Kita membutuhkan penelitian lintas disiplin sejarah, antropologi, linguistik, genealogi, arkeologi, hingga kajian arsip untuk mencoba menyusun kembali kepingan-kepingan sejarah tersebut.
Sebab sejarah tidak selalu hilang karena dihancurkan.
Kadang-kadang sejarah hilang karena terlalu lama dibiarkan tanpa ditanyakan.
Mardika: Nama yang Bertahan, Identitas yang Memudar
Mungkin itulah ironi terbesar Mardika.
Nama itu masih hidup di bibir masyarakat Ambon.
Ia melekat pada pasar, jalan, kawasan, dan ingatan kota.
Namun manusia yang dahulu menjadi bagian dari sejarah di balik nama tersebut justru semakin sulit dikenali.
Mardika akhirnya bukan hanya sebuah tempat.
Ia adalah pertanyaan sejarah.
Ia adalah pintu menuju masa ketika Ambon menjadi titik temu berbagai bangsa dan kebudayaan.
Dan di balik keramaian pasar hari ini, mungkin masih tersimpan gema dari orang-orang yang pernah hidup di sana orang-orang yang pernah merasakan kehilangan, memperoleh kebebasan, membangun keluarga, lalu perlahan melebur hingga nama mereka sendiri hampir tak lagi dapat dilacak.
Pasar Mardika boleh terus berubah mengikuti zaman. Tetapi sejarah yang terkubur di bawah namanya jangan sampai ikut hilang.
Sebab sebuah kota tidak hanya dibangun oleh gedung dan jalan.
Kota dibangun oleh ingatan.
Dan ketika ingatan itu hilang, sebuah bagian dari identitas kota pun ikut lenyap.
