Home » Jang Pisah Katong: Merawat Lagu, Menjaga Identitas, dan Memuliakan Hak Masyarakat Adat Maluku


Penulis : Alwin Christh Tetelepta
Pemuda Adat Lease

Lagu “Jang Pisah Katong” yang dinyanyikan oleh grup Mainoro merupakan salah satu karya musik yang memiliki kedalaman makna tentang persaudaraan, identitas, adat, sejarah, serta kehidupan sosial masyarakat Maluku.

Menurut saya, lagu ini tidak semestinya hanya dipandang sebagai sebuah karya seni atau hiburan semata. “Jang Pisah Katong” memiliki pesan budaya yang kuat dan relevan dengan kehidupan masyarakat Maluku hingga saat ini.
Karena itu, sudah waktunya lagu ini mendapatkan perhatian lebih serius dari seluruh elemen masyarakat, khususnya pemerintah daerah, lembaga adat, seniman, budayawan, dan generasi muda Maluku.

Karya yang Perlu Dirawat dan Diwariskan

Saya memberikan apresiasi atas kehadiran lagu “Jang Pisah Katong” yang telah diciptakan puluhan tahun lalu oleh almarhum Bung Roby Lailossa dan pada masa itu dinyanyikan oleh grup Mainoro.

Karya yang mampu bertahan melewati perjalanan waktu tentu memiliki nilai yang tidak sederhana. Di dalamnya terdapat sejarah dan pesan yang masih relevan bagi generasi sekarang.
Karena itu, lagu ini harus dirawat, didokumentasikan, diperkenalkan kembali, dan diwariskan kepada generasi muda Maluku.

Jangan sampai karya-karya budaya yang memiliki nilai sejarah justru hilang dari ingatan generasi karena tidak mendapatkan perhatian dan upaya pelestarian yang memadai.

Saya juga berpandangan bahwa Pemerintah Provinsi Maluku perlu memberikan perhatian dan mempertimbangkan pengakuan terhadap lagu “Jang Pisah Katong” sebagai salah satu karya budaya atau lagu adat Maluku yang memiliki nilai historis dan filosofis.

Upaya tersebut tentu perlu dilakukan melalui mekanisme yang sesuai dengan ketentuan, dengan tetap menghormati pencipta, ahli waris, pelaku seni, serta sejarah perjalanan karya tersebut.

Pesan Persatuan yang Sangat Kuat

Judul “Jang Pisah Katong” sendiri sudah menggambarkan pesan utama lagu ini: jangan sampai orang Maluku terpecah dan kehilangan persaudaraan.
Lirik:

“Sampe rutu-rutu tongka langit,
Biar aer masing akang mo karing,
Jang pisah katong.”

mengandung pesan yang sangat kuat tentang keteguhan mempertahankan persatuan.

Dalam kehidupan masyarakat Maluku, perbedaan merupakan bagian dari realitas sosial. Kita memiliki banyak negeri, pulau, marga, bahasa, dialek, tradisi, dan latar belakang.

Namun seluruh perbedaan tersebut tidak seharusnya menghilangkan nilai orang basudara.

Pela, gandong, ain ni ain, larvul ngabal, serta berbagai nilai kearifan lokal lainnya menunjukkan bahwa masyarakat Maluku memiliki kekayaan budaya yang menempatkan persaudaraan dan kehidupan bersama sebagai sesuatu yang sangat penting.
Karena itu, “Jang Pisah Katong” patut dibaca sebagai sebuah pesan moral agar masyarakat Maluku tidak mudah dipecah oleh kepentingan sesaat.

Nunusaku dan Pertanyaan tentang Identitas

Ada bagian lain dari lagu ini yang menurut saya memiliki makna sangat mendalam:

“Tifa tahuri su seng babunyi,
Waringin di Nunusaku akang bagoyang,
Nusa Ina dudu manangis,
Lia ana cucu pung perbuatan.”

Tifa dan tahuri merupakan simbol budaya yang sangat kuat dalam kehidupan masyarakat Maluku. Sementara Nunusaku dalam ingatan dan narasi budaya Maluku memiliki posisi penting sebagai simbol asal-usul dan persatuan.

Ketika lagu menggambarkan Waringin di Nunusaku yang bergoyang dan Nusa Ina yang menangis melihat perbuatan anak cucunya, kita seperti sedang diajak untuk melakukan introspeksi.
Pertanyaannya sederhana:

Ketika kita mengaku sebagai orang Maluku, apakah kita masih menjaga nilai-nilai yang diwariskan oleh para leluhur?

Menjadi orang Maluku bukan hanya tentang menyebut asal daerah. Menjadi orang Maluku juga berarti memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga adat, tanah, budaya, persaudaraan, dan lingkungan hidup yang diwariskan oleh leluhur.

Jangan Karena Kekuasaan, Hak Masyarakat Adat Dikorbankan

Pesan “Jang Pisah Katong” juga harus kita hubungkan dengan realitas kehidupan masyarakat adat saat ini.
Saya ingin memberikan penekanan bahwa jangan karena seseorang memiliki kedudukan dan kekuasaan, kemudian hak-hak masyarakat adat dapat diabaikan.

Jangan karena kepentingan kekuasaan dan ekonomi, masyarakat adat justru kehilangan ruang hidupnya.

Pembangunan dan investasi memang penting. Namun pembangunan tidak boleh mengorbankan masyarakat yang sejak turun-temurun telah menjaga tanah dan hutan mereka.

Hutan masyarakat adat bukan sekadar kumpulan pohon.

Di dalam hutan terdapat sejarah leluhur, sumber kehidupan, identitas budaya, serta nilai-nilai adat yang sangat penting bagi masyarakat.

Bagi masyarakat adat, tanah dan hutan juga memiliki dimensi sosial dan kultural yang jauh lebih dalam daripada sekadar nilai ekonomi.

Karena itu, setiap kebijakan pembangunan yang menyangkut wilayah masyarakat adat harus menempatkan penghormatan terhadap hak masyarakat adat, partisipasi masyarakat, kelestarian lingkungan, dan keberlanjutan kehidupan anak cucu sebagai bagian penting dalam proses pengambilan keputusan.

Jangan sampai atas nama pembangunan, hutan-hutan masyarakat adat dihancurkan dan sumber daya alam diambil tanpa memberikan keadilan dan manfaat yang sepadan bagi masyarakat pemilik hak.

Pembangunan harus menghadirkan kesejahteraan, bukan menghilangkan identitas dan ruang hidup masyarakat adat.

Nusa Ina Jangan Sampai Terus Menangis

Lirik “Nusa Ina dudu manangis, lia ana cucu pung perbuatan” seharusnya menjadi refleksi bagi seluruh anak Maluku.

Nusa Ina dapat kita maknai sebagai simbol seorang ibu yang melihat anak-anaknya.

Ia akan menangis apabila anak-anaknya saling bermusuhan.

Ia akan menangis apabila anak-anaknya saling berebut kepentingan.

Ia akan menangis apabila tanah leluhur dirusak.

Dan ia akan semakin menangis apabila anak cucunya tidak lagi mengenal dan menghormati adat serta sejarahnya sendiri.

Karena itu, kita harus memastikan bahwa generasi hari ini tidak hanya menikmati kekayaan Maluku, tetapi juga menjaga dan mewariskannya kepada generasi yang akan datang.

Pemerintah Perlu Hadir untuk Melestarikan Karya Budaya

Saya berharap Pemerintah Provinsi Maluku dapat memberikan perhatian terhadap karya-karya musik dan budaya seperti “Jang Pisah Katong”.

Perhatian tersebut dapat diwujudkan melalui dokumentasi, penelitian sejarah karya, pengarsipan, pengenalan dalam kegiatan kebudayaan dan pendidikan, serta langkah-langkah pelestarian lainnya.

Jika berdasarkan kajian dan mekanisme yang berlaku lagu ini memenuhi kriteria sebagai karya budaya daerah, maka saya berharap dapat dipertimbangkan untuk memperoleh pengakuan resmi sebagai bagian dari warisan budaya Maluku.
Ini penting agar karya-karya seperti “Jang Pisah Katong” tidak hanya hidup dalam ingatan generasi tua, tetapi juga dikenal dan dipahami oleh generasi muda.

Jang Pisah Katong, Jang Hilang Katong Pung Identitas

Pada akhirnya, saya melihat “Jang Pisah Katong” bukan hanya sebagai sebuah lagu.

Lagu ini adalah pesan lintas generasi.

Pesan untuk menjaga persaudaraan.

Pesan untuk menjaga adat.

Pesan untuk menghormati tanah leluhur.

Pesan untuk melindungi hutan.

Pesan untuk menghargai masyarakat adat.

Dan pesan untuk tidak menjadikan kekuasaan sebagai alasan untuk mengorbankan hak-hak masyarakat.
Kita boleh berbeda pilihan politik.
Kita boleh berbeda kepentingan.

Kita boleh berbeda pulau dan negeri.
Tetapi jangan sampai perbedaan itu membuat kita kehilangan rasa sebagai orang basudara.

Sebab ketika persaudaraan hilang, maka yang terancam bukan hanya hubungan antarindividu, tetapi juga identitas dan masa depan Maluku.

Oleh karena itu, mari kita dengarkan kembali pesan yang telah diwariskan melalui karya almarhum Bung Roby Lailossa dan dinyanyikan oleh Grup Mainoro.

“Katong seng mau paskali e..
Jangan undur e..
Sio Tuhan tolong e..
Jang pisah katong..”

Pesan itu harus terus hidup.

Jang pisah katong.

Jang pisah orang basudara.

Jang pisah katong dari adat dan tanah leluhur.

Jang pisah katong dari identitas sebagai orang Maluku.

Dan yang paling penting dalam lagu ini
Jangan sampai Nusa Ina terus menangis melihat anak cucunya.

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *