Gapuramanise.com, Purwokerto – Komunikasi menjadi salah satu fondasi penting dalam menjaga keharmonisan sebuah hubungan. Perbedaan pemikiran, perasaan, maupun cara menghadapi persoalan menjadi hal yang tidak dapat dihindari, sehingga keterbukaan dalam berkomunikasi diperlukan agar konflik tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih serius.
Namun, tidak semua orang mampu menyampaikan kemarahan, kekecewaan, maupun perasaannya secara terbuka. Salah satu respons yang kerap muncul ketika terjadi konflik adalah silent treatment, yakni tindakan sengaja mendiamkan atau mengabaikan orang lain sebagai bentuk respons terhadap persoalan yang terjadi.
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Ayu Kurnia S, S.Psi., M.Psi., menjelaskan bahwa silent treatment berbeda dengan sikap diam biasa.
Menurut Ayu, silent treatment merupakan tindakan diam yang dilakukan secara sengaja kepada seseorang dengan tujuan memberikan hukuman.
“Silent itu diam gitu. Diamnya seseorang yang sengaja diberikan kepada relasinya yang tujuannya untuk menghukum dia,” jelas Ayu dalam dialog Ruang Psikologi di Pro 1 RRI Purwokerto, Senin (24/8/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan Ayu dalam siaran yang kemudian dipantau dan didengarkan Gapurmanise.com melalui kanal YouTube RRI Purwokerto.
Berawal dari Sakit Hati
Ayu menjelaskan, silent treatment dapat muncul ketika seseorang merasa sakit hati akibat perkataan maupun tindakan orang lain, termasuk pasangan.
Dalam hubungan, persoalan yang menyentuh hal-hal sensitif juga dapat memicu seseorang memilih menarik diri dari komunikasi. Perbedaan pendapat yang berkaitan dengan orang tua, pekerjaan, maupun hal-hal yang dianggap menyangkut harga diri dapat membuat seseorang merespons konflik dengan cara diam.
Persoalannya, ketika diam tersebut sengaja digunakan untuk menghukum pasangan, dampaknya tidak hanya berhenti pada terputusnya komunikasi.
Pihak yang menjadi sasaran dapat mengalami tekanan emosional karena tidak memperoleh penjelasan mengenai apa yang sebenarnya menjadi persoalan.
Korban Bisa Merasa Bersalah
Menurut Ayu, silent treatment dapat memberikan dampak psikologis bagi orang yang mengalaminya.
Korban dapat merasa cemas, bingung, tertekan, bahkan mulai mempertanyakan dirinya sendiri. Tidak adanya komunikasi dan penjelasan dapat membuat seseorang berpikir bahwa dirinya merupakan pihak yang sepenuhnya bersalah dalam hubungan.
Jika dilakukan berulang kali, kondisi tersebut dapat semakin mengganggu kepercayaan diri.
Seseorang yang terus-menerus menghadapi pola diam tanpa penjelasan dapat terbiasa menyalahkan dirinya sendiri setiap kali terjadi konflik. Pada tahap tertentu, orang tersebut bahkan dapat menjadi terlalu takut melakukan atau mengatakan sesuatu karena khawatir kembali mendapatkan perlakuan yang sama.
Karena itu, silent treatment tidak dapat dipandang sekadar sebagai persoalan seseorang yang sedang tidak ingin berbicara.
Tidak Semua Diam adalah Silent Treatment
Meski demikian, Ayu menegaskan bahwa tidak semua sikap diam dapat dikategorikan sebagai silent treatment.
Dalam kondisi tertentu, diam justru dapat menjadi cara seseorang mengendalikan emosi sebelum kembali membicarakan persoalan.
Seseorang yang sedang marah, misalnya, dapat membutuhkan waktu untuk menenangkan diri agar tidak mengeluarkan perkataan yang justru memperburuk keadaan.
“Diam tuh sebenarnya enggak semua diam itu buruk ya. Enggak semua diam itu adalah konteksnya silent treatment tadi. Ada juga pepatah yang mengatakan diam itu emas gitu kan,” ungkap Ayu.
Perbedaan utama terletak pada tujuan dari sikap diam tersebut.
Mengambil jeda untuk menenangkan diri dilakukan agar emosi dapat dikelola sebelum persoalan dibicarakan kembali. Sementara silent treatment dilakukan sebagai bentuk hukuman terhadap pihak lain.
Karena itu, mengambil waktu untuk menenangkan diri sebaiknya tetap disertai komunikasi yang jelas. Seseorang dapat menyampaikan bahwa dirinya membutuhkan waktu sebelum kembali membicarakan persoalan.
Dengan begitu, pasangan tidak dibiarkan berada dalam ketidakpastian.
Jangan Jadikan Diam sebagai Senjata
Ayu mengingatkan agar silent treatment tidak dijadikan senjata dalam menghadapi konflik hubungan.
Menurutnya, pasangan yang menghadapi masalah sebaiknya membangun komunikasi secara terbuka daripada menggunakan diam untuk menghukum pihak lain.
“Silent treatment itu enggak keren ya teman-teman semuanya. Daripada menghukum pasangan kita dengan diam, lebih baik kita mengkomunikasikannya,” tegas Ayu.
Ia bahkan mengingatkan bahwa kebiasaan tersebut dapat menjadi benih kerusakan dalam sebuah hubungan apabila terus dipelihara.
“Karena untuk para pelaku, sadarlah bahwa itu adalah benih-benih dari kehancuran dalam hubungan,” lanjutnya.
Ayu mendorong pasangan yang ingin mempertahankan hubungan agar membangun komunikasi positif dan menghindari penggunaan silent treatment sebagai cara menyelesaikan konflik.
Pada akhirnya, konflik dalam sebuah hubungan merupakan sesuatu yang dapat terjadi. Yang menjadi persoalan bukan semata-mata ada atau tidaknya konflik, melainkan bagaimana pasangan menghadapi dan menyelesaikannya.
Diam sesaat untuk mengendalikan emosi dapat menjadi pilihan yang sehat. Namun, ketika diam digunakan untuk menghukum, mengendalikan, atau membuat pasangan merasa bersalah, pola tersebut justru berpotensi memperlebar jarak dalam hubungan.
Komunikasi yang terbuka, jelas, dan saling menghargai menjadi salah satu jalan penting agar konflik tidak berubah menjadi luka yang terus berulang. (Tim)

