
Oleh: Dr. Hobarth Williams Soselisa, S.Sos., M.Si.
Bayangkan sebuah pelabuhan yang tidak lagi puas hanya berdiri diam menatap kapal-kapal singgah dan pergi. Ia ingin bernapas, tumbuh, dan berdenyut seperti jantung yang memompa darah ke seluruh tubuh perekonomian. Itulah gambaran yang kini melekat pada Maluku Integrated Logistic Hub (MILH), proyek yang oleh Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa disebut bukan sekadar pelabuhan tempat kapal singgah, melainkan kawasan industri dan logistik terpadu dengan pelabuhan sebagai infrastruktur utama atau core infrastructure.
Ketika Infrastruktur Diberi Jiwa
Selama ini, wacana pembangunan pelabuhan di kawasan timur Indonesia sering terjebak pada logika fisik semata: dermaga, kedalaman laut, dan kapasitas bongkar muat. MILH menawarkan cara berpikir berbeda. Ia diperlakukan seperti organisme hidup yang memiliki organ-organ pendukung zona logistik umum, pelabuhan khusus perikanan, terminal Ro-Ro, hingga infrastruktur energi seperti terminal LNG.
Pelabuhan di sini bukan lagi anggota tubuh yang berdiri sendiri, melainkan jantung yang memompa aktivitas ekonomi ke seluruh kawasan penyangga di sekitarnya.
Denyut nadi proyek ini semakin kuat setelah Pemerintah Provinsi Maluku mengamankan dan atau mendapatkan dukungan penuh dari Kementerian Bappenas dan Bank Dunia dalam rapat koordinasi di Jakarta pada 11 Agustus 2026. Bappenas bahkan telah menerbitkan rekomendasi resmi kepada Bank Dunia agar tim peneliti segera memulai studi kelayakan teknis dan lingkungan di lapangan.
Namun demikian, studi kelayakan sebesar ini seyogianya tidak hanya digerakkan oleh tim dari luar Maluku semata, melayang di atas kepulauan tanpa menapak pada denyut pengetahuan lokal. Ibarat seorang tabib yang hendak memeriksa tubuh pasien, tim peneliti Bank Dunia sepatutnya menggandeng Pusat Studi Lingkungan Universitas Pattimura (UNPATTI) sebagai “mata dan telinga” yang telah lama merawat serta memahami detak ekosistem laut dan pesisir Ambon secara mendalam.
Pelibatan Pusat Studi Lingkungan UNPATTI bukan sekadar formalitas administratif, melainkan kebutuhan epistemologis. Lembaga ini memiliki jejak riset panjang tentang karakteristik oseanografi, daya dukung lingkungan, serta kearifan ekologis masyarakat pesisir Maluku—pengetahuan yang tidak mudah diperoleh oleh tim eksternal dalam waktu singkat.
Ketika sebuah kajian AMDAL atau studi lingkungan hidup strategis (SLHS) dijalankan tanpa akar lokal semacam ini, risiko yang muncul adalah rekomendasi teknis yang “sehat di atas kertas”, namun rapuh ketika bersentuhan dengan realitas ekologis dan sosial di lapangan.
Lebih jauh, keterlibatan ini semestinya diperluas melampaui UNPATTI seorang diri. Perguruan tinggi lain di Maluku baik yang memiliki program studi kelautan, teknik, maupun sosial-ekonomi perlu didudukkan sebagai mitra setara dalam konsorsium riset, bukan sekadar peninjau pasif yang diundang di ujung proses.
Model kolaborasi tripihak antara Bank Dunia, Bappenas, dan jejaring akademisi Maluku ini akan memastikan bahwa MILH tumbuh bukan sebagai proyek yang “diturunkan” dari Jakarta, melainkan sebagai kawasan yang lahir dari rahim pengetahuan setempat, sehingga hasil studi kelayakan benar-benar mencerminkan denyut nadi ekologis dan sosial kepulauan Maluku itu sendiri.
Angka yang Berbicara sebagai Bahasa Tubuh
Jika pelabuhan ini diibaratkan tubuh, maka data ketenagakerjaan adalah otot-ototnya. Gubernur Lewerissa memproyeksikan MILH akan menyerap sekitar 5.000 hingga 6.000 tenaga kerja baru seiring berkembangnya kawasan ekonomi di sekitarnya.
Ini bukan angka kecil untuk provinsi kepulauan yang selama ini bergantung pada distribusi logistik dari luar daerah, sebuah ketergantungan yang membuat harga komoditas melambung di berbagai wilayah kepulauan Maluku.
Secara akademik, logika lokasi kawasan logistik semacam ini sejalan dengan teori lokasi Alfred Weber yang diterapkan dalam konteks kepelabuhanan modern oleh Rodrigue (2020): lokasi ideal adalah titik minimum biaya logistik antara sumber daya, pasar, dan distribusi, dengan syarat konektivitas multimoda, kedalaman perairan yang aman, serta lahan penyangga yang luas untuk dry port dan kawasan ekonomi pelabuhan.
Kajian kelayakan yang difasilitasi Bank Dunia menemukan bahwa lokasi di Pulau Ambon merupakan pilihan paling optimal berdasarkan parameter itu, sementara skema pembiayaan tengah disusun melalui APBN maupun Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).
Dua Jantung, Satu Tubuh Maluku
Pemerintah Provinsi Maluku menyandingkan MILH dengan Blok Masela sebagai dua penggerak utama ekonomi atau prime economic mover bagi transformasi Maluku. Hal ini sangat menarik.
Ibarat tubuh dengan dua jantung yang berdenyut serentak, energi dari Masela dan logistik dari MILH diharapkan saling memperkuat aliran investasi dan lapangan kerja. Pemprov menargetkan seluruh proses persiapan tuntas hingga peletakan batu pertama atau groundbreaking pada 2027.
Tantangan yang Menguji Napas Panjang
Namun, tubuh yang tumbuh terlalu cepat rentan kelelahan bila fondasinya tidak kuat. Sejarah proyek strategis nasional di kawasan timur Indonesia sering menunjukkan jarak antara komitmen dokumen dan realisasi lapangan mulai dari pembebasan lahan, kesiapan tata kelola BUMD pendukung, hingga daya serap tenaga kerja lokal yang harus dipersiapkan sejak dini, bukan sekadar dinikmati ketika proyek rampung.
Di sinilah peran akademisi, birokrat, dan masyarakat sipil Maluku menjadi krusial: memastikan bahwa “jantung baru” ini benar-benar memompa manfaat ke seluruh “tubuh” kepulauan, bukan hanya berdenyut kencang di pusat kawasan sementara pinggiran tetap kekurangan darah ekonomi.
MILH, dengan segala metafora kehidupan yang melekat padanya, sesungguhnya adalah cermin harapan Maluku untuk keluar dari status penonton dalam rantai pasok nasional. Ia menuntut kita tidak hanya membangun beton dan dermaga, tetapi juga merawat tata kelola, transparansi, dan keberlanjutan agar napas panjang pembangunan ini benar-benar sampai ke seluruh gugusan kepulauan.
