
Gapuramanise.com, Saparua – Dari jejak perdagangan cengkih dan sejarah kolonial hingga baju cele serta kuliner tradisional, Pasar Saparua menjadi ruang bertemunya ekonomi, budaya dan kehidupan sosial masyarakat antarpulau. Namun, di balik tradisi yang terus hidup, kondisi fisik pasar kini menghadapi persoalan serius. Genangan air membuat sejumlah bagian pasar terendam dan mengganggu aktivitas pedagang.
Pukul 05.00 WIT, ketika sebagian besar masyarakat baru memulai aktivitas pagi, denyut kehidupan sudah terasa di Pasar Saparua. Pedagang mulai menata hasil bumi, hasil laut, makanan tradisional, pakaian dan berbagai kebutuhan rumah tangga.
Warga dari berbagai negeri berdatangan membawa barang dagangan maupun kebutuhan sehari-hari. Keramaian mencapai puncaknya setiap Rabu dan Sabtu, yang dikenal masyarakat sebagai hari pasar.
Tradisi tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Saparua dan wilayah kepulauan di sekitarnya selama puluhan tahun. Pasar bukan sekadar tempat transaksi, tetapi menjadi ruang perjumpaan masyarakat dari berbagai negeri untuk bertukar hasil bumi, berinteraksi dan mempertahankan kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Namun, di balik aktivitas tersebut, kondisi fisik pasar menjadi perhatian. Ketika hujan turun, sejumlah area pasar terendam genangan air. Pakaian, hasil bumi, makanan, perlengkapan dagangan dan barang lainnya harus ditata atau dipindahkan agar tidak terkena air.
Bagi pedagang, kondisi tersebut bukan persoalan kecil. Barang dagangan yang terkena air berpotensi rusak dan menimbulkan kerugian.
Jejak Perdagangan Cengkih
Tradisi perdagangan di Saparua tidak dapat dilepaskan dari sejarah panjang Maluku sebagai pusat rempah-rempah dunia.
Sejak abad XVI, Maluku menjadi incaran bangsa-bangsa Eropa karena kekayaan cengkih dan rempah-rempah lainnya. Saparua termasuk kawasan yang memiliki posisi penting dalam jaringan perdagangan tersebut.
Pada masa kolonial Belanda, posisi strategis Saparua diperkuat dengan keberadaan Benteng Duurstede yang dibangun pada 1691 oleh Gubernur Nicolas van Saghen. Benteng tersebut memiliki arti penting dalam pertahanan, perdagangan dan pengawasan jalur pelayaran.
Jejak sejarah perdagangan tersebut hingga kini masih menjadi bagian dari identitas Saparua.
Rabu dan Sabtu, Hari Pasar yang Dinanti
Aktivitas perdagangan berlangsung hampir setiap hari, tetapi Rabu dan Sabtu menjadi hari dengan transaksi paling ramai.
Pedagang dari berbagai negeri membawa hasil pertanian, ikan, hasil laut, makanan olahan, pakaian dan berbagai kebutuhan masyarakat. Masyarakat dari Pulau Nusalaut dan Haruku juga memanfaatkan hari pasar untuk melakukan transaksi.
Aktivitas biasanya berlangsung sejak sekitar pukul 05.00 hingga 11.00 WIT. Bagi masyarakat dari pulau-pulau sekitar, terutama Nusalaut, waktu sangat penting karena mereka harus memperhitungkan kondisi laut sebelum kembali ke pulau asal.
Di sisi lain, kondisi pasar di darat juga menjadi tantangan. Ketika hujan turun, pedagang harus berupaya menyelamatkan barang dagangan dari genangan.
“Pasar Panas” dan “Pasar Dingin”
Mama Sin, salah seorang pedagang yang telah puluhan tahun berjualan di Pasar Saparua, mengenal istilah “pasar panas” dan “pasar dingin”.
Saat ditemui jurnalis Gapuramanise.com, Senin (31/8/2026), Mama Sin menjelaskan, pasar panas biasanya terjadi ketika hari pasar bertepatan dengan momentum besar masyarakat seperti Idulfitri, Natal atau acara peneguhan sidi.
Pada saat tersebut, transaksi meningkat karena kebutuhan masyarakat bertambah.
“Biasanya transaksi jual beli secara besar-besaran. Pendapatan pedagang juga bisa meningkat beberapa kali lipat,” ujar Mama Sin.
Sementara pasar dingin merupakan hari pasar dalam kondisi normal.
Namun, persoalan genangan menjadi tantangan tersendiri bagi pedagang, terlepas dari ramai atau sepinya pasar. Ketika air menggenangi tempat berjualan, pedagang harus memikirkan keselamatan barang dagangan sekaligus tetap berusaha melayani pembeli.
Budaya dan Kuliner Tetap Hidup
Hari pasar juga memperlihatkan kuatnya identitas budaya masyarakat Maluku. Sejumlah mama-mama pedagang mengenakan baju cele, pakaian adat khas Maluku.
Bahasa lokal, hasil bumi, ikan, makanan tradisional dan interaksi antarmasyarakat membuat Pasar Saparua menjadi lebih dari sekadar pusat perdagangan.
Kuliner tradisional seperti kue waji, yang berbahan beras ketan atau nasi pulut dan gula merah, juga menjadi salah satu daya tarik pasar.
Karena itu, keberadaan pasar tidak hanya penting bagi ekonomi, tetapi juga bagi pelestarian budaya masyarakat Saparua.
Pemuda Saparua Soroti Kondisi Pasar
Kondisi Pasar Saparua mendapat perhatian dari pemuda setempat.
Lucky Marcel Wenno, pemuda Saparua asal Negeri Porto, saat menyampaikan pandangannya kepada Gapuramanise.com, Senin (31/8/2026), mengatakan Pasar Saparua merupakan bagian penting dari kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.
“Pasar ini bukan hanya tempat orang berjualan. Di sini ada kehidupan masyarakat, ada interaksi antarnegeri dan antarpulau, ada budaya yang terus hidup. Karena itu, kondisi pasarnya juga harus mendapat perhatian,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah daerah memberikan perhatian terhadap persoalan pasar, terutama drainase, genangan, kebersihan, sanitasi, kenyamanan serta fasilitas pedagang dan pembeli.
Menurutnya, pembenahan penting dilakukan tanpa menghilangkan karakter tradisional Pasar Saparua.
Tradisi yang Perlu Dijaga
Tradisi Hari Pasar hingga kini belum memiliki catatan sejarah yang secara pasti menjelaskan kapan pertama kali dimulai. Namun, masyarakat meyakini kebiasaan tersebut telah berlangsung sejak masa kolonial dan terus diwariskan hingga sekarang.
Karena itu, menjaga Pasar Saparua berarti bukan hanya menjaga aktivitas jual beli, tetapi juga menjaga ruang perjumpaan antarnegeri dan antarpulau, budaya, kuliner serta sumber penghidupan masyarakat.
Pemerintah daerah diharapkan memberi perhatian serius terhadap kondisi pasar, terutama drainase dan pengendalian genangan, lantai serta bangunan pasar, kebersihan, sanitasi dan fasilitas pedagang.
Perbaikan diperlukan agar pedagang tidak terus menghadapi persoalan genangan dan barang dagangan tidak menjadi korban ketika hujan turun.
Bukan Sekadar Pasar
Pasar Saparua telah bertahan melewati perubahan zaman. Dari sejarah perdagangan cengkih hingga aktivitas perdagangan masyarakat hari ini, pasar tetap menjadi bagian penting dari kehidupan kepulauan.
Hari pasar setiap Rabu dan Sabtu bukan hanya tentang membeli dan menjual barang. Di dalamnya terdapat hubungan antarnegeri, antarpulau, budaya, kuliner dan nilai sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Ketika pasar terendam, yang terdampak bukan hanya barang dagangan. Ada denyut ekonomi masyarakat, ruang sosial dan bagian dari tradisi Saparua yang ikut terdampak.
Tantangannya kini adalah memastikan warisan tersebut tetap hidup, sekaligus memberikan ruang pasar yang layak, aman, bersih dan nyaman bagi masyarakat.(LB-GM)
