
Gapuramanise.com, Jakarta – Rencana Presiden FIFA Gianni Infantino untuk membuka sebagian kepemilikan hak komersial turnamen-turnamen FIFA kepada investor swasta memicu perdebatan di dunia sepak bola. Di tengah gelombang penolakan dari sejumlah konfederasi dan asosiasi sepak bola dunia, Menteri Pemuda dan Olahraga sekaligus Ketua Umum PSSI Erick Thohir justru menyatakan dukungannya. Menurut Erick, skema tersebut dapat menjadi peluang bagi negara-negara berkembang untuk memperoleh tambahan pendanaan guna mempercepat pembangunan sepak bola.
FIFA berencana membentuk anak perusahaan komersial bernama FIFA Forward Enterprise (FFE) yang akan mengelola aset-aset komersial organisasi, termasuk Piala Dunia. Investor eksternal nantinya dapat membeli kepemilikan minoritas di perusahaan tersebut tanpa memiliki kendali atas penyelenggaraan kompetisi. FIFA meyakini model ini mampu menghasilkan miliaran dolar yang akan digunakan untuk memperkuat pengembangan sepak bola di seluruh dunia.
Dalam wawancara dengan Sky News, Erick mengatakan Indonesia masih membutuhkan dukungan pendanaan agar transformasi sepak bola yang tengah berjalan dapat terus berlanjut. “Sepak bola Indonesia telah bertransformasi dalam tiga tahun terakhir. Kami telah melakukan pembenahan. Peringkat tim nasional naik dari 174 ke 118. Untuk melanjutkan transformasi ini, kami membutuhkan pendanaan,” kata Erick.
Ia juga menyinggung kerja sama antara PSSI dan FIFA melalui pembentukan FIFA Hub di Jakarta sebagai langkah strategis bagi pengembangan sepak bola Asia Tenggara dan Asia Timur. Erick menilai keterlibatan investasi dalam industri sepak bola bukanlah hal baru. “Jika anggota FIFA menyetujuinya, itu menunjukkan memang ada kebutuhan agar kesepakatan ini terlaksana,” ujarnya.
Dukungan Erick bertolak belakang dengan sikap UEFA. Dalam pertemuan darurat yang dipimpin Presiden UEFA Aleksander Ceferin, seluruh 55 asosiasi anggota UEFA sepakat menolak proposal tersebut dan mengancam akan memboikot seluruh kompetisi FIFA apabila rencana itu disahkan. UEFA menilai Piala Dunia merupakan warisan sepak bola dunia yang tidak boleh diperlakukan sebagai aset investasi.
“Kami secara bulat dan tanpa keraguan menolak proposal FIFA untuk mengalihkan kepemilikan atas Piala Dunia dan kompetisi FIFA lainnya kepada investor swasta,” demikian pernyataan UEFA.
UEFA juga menilai proposal tersebut disusun tanpa proses konsultasi yang memadai. Menurut organisasi itu, asosiasi nasional dipaksa menerima sebuah ultimatum untuk menyerahkan sebagian kepemilikan kompetisi terbesar sepak bola kepada investor swasta. “Ini bukan sebuah keputusan demokratis, melainkan tata kelola melalui intimidasi,” tegas UEFA.
Penolakan serupa datang dari Concacaf. Sebanyak 41 asosiasi anggota konfederasi sepak bola Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Karibia menyatakan menolak proposal FIFA setelah menggelar pertemuan pada 30 Juli. Mereka mempertanyakan perlunya investasi swasta ketika FIFA baru saja menyelenggarakan Piala Dunia yang disebut sebagai edisi paling menguntungkan dalam sejarah. Concacaf juga mengkritik minimnya proses konsultasi dan tenggat waktu yang dinilai terlalu singkat.
Di Asia, AFC menyatakan kecewa karena tidak dilibatkan dalam pembahasan sebelum proposal diumumkan kepada publik. Sementara itu, Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) masih akan mengevaluasi usulan tersebut melalui rapat komite eksekutif sebelum menentukan sikap resmi.
Menanggapi berbagai kritik, FIFA menegaskan bahwa mereka tidak sedang menjual sepak bola. Dalam pernyataan resminya pada Jumat (31/7), FIFA menyebut pembentukan FIFA Forward Enterprise hanya bertujuan memperkuat pengelolaan aset komersial dengan membuka ruang bagi investasi minoritas. “Tidak ada yang sedang menjual sepak bola. FIFA tidak akan pernah mempertimbangkan hal semacam itu,” demikian pernyataan FIFA.
FIFA juga menyatakan akan melanjutkan proses konsultasi agar seluruh 211 asosiasi anggota memiliki kesempatan memberikan suara berdasarkan informasi yang lengkap. Proposal tersebut akan diputuskan melalui pemungutan suara, dengan Gianni Infantino membutuhkan sedikitnya 106 suara agar rencana tersebut disetujui. Sebelumnya, Infantino menawarkan pendanaan hingga US$40 juta kepada setiap asosiasi anggota yang mendukung proposal itu, dengan pencairan awal sebesar US$20 juta bagi federasi yang menyetujui sebelum tenggat 19 September.
Perbedaan pandangan antara FIFA dan sejumlah konfederasi besar membuat masa depan proposal ini masih belum pasti. Jika tidak tercapai kesepakatan, ancaman boikot dari UEFA dan Concacaf berpotensi memicu salah satu konflik tata kelola terbesar dalam sejarah sepak bola internasional, sekaligus memengaruhi penyelenggaraan berbagai kompetisi FIFA di masa mendatang. (Tim)
