Home » Peletakan Batu Pertama Cafe Edukasi UKIM Menandai Langkah Baru Membangun Ruang Belajar, Kolaborasi, dan Kreativitas

Gapuramanise.com, Ambon – Sebuah Batu diletakkan. Namun dari batu yang sederhana itu, sebuah harapan sedang dibangun. Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) menggelar peletakan batu pertama pembangunan Cafe Edukasi UKIM, Senin, 1 September 2026, di sekitar kawasan kampus UKIM. Kegiatan tersebut menjadi penanda dimulainya pembangunan sebuah ruang edukatif yang diharapkan tidak sekadar menjadi tempat berkumpul, tetapi juga menjadi ruang bertemunya pengetahuan, gagasan, kreativitas, dan kolaborasi.

Peletakan batu pertama ini dihadiri sejumlah pimpinan dan keluarga besar UKIM, termasuk Ketua Umum Majelis Pekerja Harian (MPH) Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM), Pdt. Sacharias Izak Sapulette, S.Th., M.Si.; Rektor UKIM, Pendeta Dr. Steve G. C. Gaspersz, M.Si., M.A.; serta Ketua YAPERTI GPM, Prof. Dr. M. J. Saptenno, S.H., M.Hum.

Cafe Edukasi UKIM dirancang sebagai ruang yang mempertemukan suasana akademik dengan interaksi sosial. Di tempat ini, mahasiswa diharapkan dapat belajar dalam suasana yang lebih terbuka, berdiskusi, bertukar gagasan, mengembangkan kreativitas, hingga melahirkan berbagai bentuk karya.

Bagi UKIM, pembangunan fasilitas tersebut bukan semata-mata pembangunan fisik. Ia merupakan bagian dari upaya menghadirkan lingkungan akademik yang semakin hidup dan responsif terhadap kebutuhan sivitas akademika.

Pdt. Sacharias: Gereja dan Pendidikan Harus Terus Bertumbuh

Ketua Umum MPH Sinode GPM, Pdt. Sacharias Izak Sapulette, S.Th., M.Si., dalam sambutannya menekankan bahwa pembangunan Cafe Edukasi harus ditempatkan dalam semangat pengembangan pendidikan dan pelayanan.

Menurutnya, pendidikan tidak berhenti di ruang kelas. Kehidupan akademik juga tumbuh melalui perjumpaan, percakapan, pengalaman, dan kemampuan untuk melihat persoalan kehidupan secara kritis.

“Kita tidak sedang hanya meletakkan sebuah batu untuk membangun sebuah bangunan. Kita sedang meletakkan tanda bahwa pendidikan harus terus bertumbuh. Ruang seperti Cafe Edukasi ini diharapkan menjadi tempat di mana pengetahuan bertemu dengan kehidupan, gagasan bertemu dengan pengalaman, dan iman bertemu dengan tanggung jawab.”

Ia berharap keberadaan Cafe Edukasi nantinya dapat memberikan ruang yang positif bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi sekaligus membangun karakter.

“Kiranya tempat ini menjadi ruang yang melahirkan percakapan-percakapan yang baik, gagasan-gagasan yang konstruktif, dan karya-karya yang memberikan manfaat bagi gereja, masyarakat, dan bangsa.”

Rektor UKIM: Membangun Ruang, Menghidupkan Gagasan

Sementara itu, Rektor UKIM Pendeta Dr. Steve G. C. Gaspersz, M.Si., M.A., menyampaikan bahwa Cafe Edukasi merupakan bagian dari ikhtiar UKIM untuk membangun ekosistem pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada proses pembelajaran formal, tetapi juga pada pengembangan kreativitas dan kolaborasi.

“Cafe Edukasi ini kita bayangkan bukan sekadar tempat untuk makan dan minum. Kita ingin menghadirkan ruang yang memungkinkan mahasiswa berdiskusi, bertukar pikiran, mengembangkan kreativitas, bahkan menemukan gagasan-gagasan baru.”

Menurutnya, sebuah universitas harus menjadi ruang yang memungkinkan terjadinya perjumpaan antara berbagai disiplin ilmu dan perspektif.

“Gagasan besar sering kali lahir dari percakapan sederhana. Karena itu, kita ingin ruang ini menjadi bagian dari kehidupan akademik UKIM ruang di mana mahasiswa dapat bertemu, berdiskusi, berkolaborasi, dan menghasilkan karya.”

Rektor menegaskan, pembangunan Cafe Edukasi harus berjalan seiring dengan visi UKIM untuk terus bertumbuh dalam iman, pengetahuan, dan kasih.

“Kita membangun fasilitas ini bukan hanya untuk hari ini. Kita sedang menyiapkan ruang bagi generasi UKIM di masa depan. Semoga dari tempat ini lahir banyak gagasan yang kemudian menjadi karya nyata bagi masyarakat.”

Prof. Saptenno: Infrastruktur Pendidikan Harus Melayani Manusia

Ketua YAPERTI GPM, Prof. Dr. M. J. Saptenno, S.H., M.Hum., menilai pembangunan fasilitas penunjang pendidikan merupakan bagian penting dalam memperkuat kualitas perguruan tinggi.

Menurutnya, pembangunan infrastruktur kampus harus memiliki orientasi yang jelas, yakni memberikan manfaat bagi proses pendidikan dan perkembangan manusia.

“Sebuah perguruan tinggi tidak hanya membutuhkan ruang kuliah. Kita juga membutuhkan ruang-ruang yang memungkinkan manusia di dalamnya bertumbuh, berinteraksi, berdialog, dan mengembangkan kreativitas.”

Ia berharap Cafe Edukasi UKIM dapat menjadi ruang yang memperkuat budaya akademik sekaligus membangun kebersamaan di lingkungan kampus.

“Jangan sampai tempat ini hanya menjadi bangunan yang indah secara fisik. Yang paling penting adalah bagaimana ruang ini dihidupkan dengan aktivitas yang produktif, dengan gagasan, dengan kreativitas, dan dengan semangat membangun masa depan.”

Batu Pertama, Langkah Menuju Masa Depan

Peletakan batu pertama Cafe Edukasi UKIM akhirnya menjadi lebih dari sekadar seremoni pembangunan. Batu pertama itu menjadi simbol sebuah perjalanan baru.

Dari tanah kampus, sebuah ruang akan tumbuh.

Dari ruang itu, percakapan akan bermula.

Dari percakapan, gagasan akan menemukan bentuknya.

Dan dari gagasan, karya-karya baru diharapkan lahir untuk menjawab kebutuhan zaman.

Cafe Edukasi UKIM diharapkan menjadi ruang yang produktif, inklusif, dan inspiratif sebuah tempat di mana mahasiswa tidak hanya datang untuk belajar, tetapi juga menemukan ruang untuk bertanya, berdiskusi, mencipta, dan berkolaborasi.

Sebab kampus bukan hanya tentang tembok dan ruang kelas. Kampus adalah tempat gagasan tumbuh, karakter dibentuk, dan masa depan dipersiapkan.

Dan hari itu, UKIM memulainya dari sebuah batu pertama.

UKIM — Bertumbuh di dalam dan oleh Iman, Pengetahuan, dan Kasih

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *