Home » Suyudi Ario Seto Siapkan Gaya Kepemimpinan Baru, Tegaskan Polri Harus Dekat dengan Masyarakat

Gapuramanise.com, Jakarta – Komjen Pol Suyudi Ario Seto menegaskan arah kepemimpinannya di tubuh Polri akan menempatkan pimpinan sebagai pihak yang aktif melihat langsung kondisi di lapangan. Ia menilai persoalan internal kepolisian maupun keluhan masyarakat tidak cukup diselesaikan hanya dari balik meja.

Pernyataan tersebut disampaikan Suyudi saat menjalani uji kelayakan dan kepatutan sebagai calon Kapolri di DPR RI, Kamis (1/10/2026). Dalam kesempatan itu, mantan Kapolda Banten tersebut menyampaikan pentingnya pemimpin hadir langsung untuk memahami persoalan yang dihadapi anggota maupun masyarakat.

Menurut Suyudi, turun ke lapangan bukan bagian dari upaya membangun citra pribadi. Kehadiran pimpinan, kata dia, harus menghasilkan pemahaman terhadap masalah sekaligus keputusan yang benar-benar dijalankan.

“Saya akan turun ke lapangan bukan untuk mencari panggung, tetapi untuk melihat masalah, mendengarkan anggota dan masyarakat, mengambil keputusan, serta memastikan keputusan dilaksanakan,” ujar Suyudi.

Perwira tinggi Polri lulusan Akpol 1994 itu juga memandang pembenahan institusi harus dimulai dari pucuk pimpinan. Ia menilai perubahan tidak akan berjalan apabila hanya dibebankan kepada anggota tanpa adanya contoh nyata dari para pejabat di atasnya.

“Perubahan Polri tidak mungkin terjadi apabila pimpinan hanya meminta anggota berubah. Perubahan harus dimulai dari pimpinan dan dibuktikan di lapangan,” katanya.

Tegas soal penyalahgunaan wewenang

Dalam pemaparannya, Suyudi turut menyoroti persoalan integritas anggota kepolisian. Ia menegaskan target maupun tekanan pekerjaan tidak boleh menjadi alasan bagi anggota untuk melakukan tindakan yang bertentangan dengan hukum.

Ia menyebut sejumlah praktik seperti pemerasan, suap, rekayasa perkara, menjadi pelindung aktivitas ilegal hingga penggunaan kekuatan secara berlebihan tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun.

“Tidak ada tekanan pekerjaan yang dapat menjadi pembenaran untuk memeras, menerima suap, merekayasa perkara, menjadi backing kegiatan ilegal, atau menggunakan kekerasan secara sewenang-wenang,” tegasnya.

Komitmen tersebut menjadi bagian dari gagasan Suyudi dalam membangun budaya kerja Polri hingga 2029. Ia ingin jajaran kepolisian menjalankan kewenangan secara bertanggung jawab serta memberikan pelayanan kepada masyarakat tanpa tindakan yang merugikan atau merendahkan.

Suyudi merangkum prinsip tersebut dalam pesan sederhana yang menurutnya harus menjadi pegangan setiap anggota Polri: bekerja dengan jujur, tidak menyalahgunakan jabatan, dan tidak bertindak semena-mena kepada masyarakat.

“Semangat yang ingin saya hidupkan sederhana. Jangan bohong, tidak berbohong, tidak menyalahgunakan kewenangan, dan tidak menyakiti masyarakat secara sewenang-wenang,” ujarnya.

Dengan pendekatan tersebut, Suyudi menempatkan kehadiran pimpinan, keteladanan, dan integritas sebagai bagian penting dari agenda pembenahan Polri di bawah kepemimpinannya. (CMM-GM) 

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *