
Gapuramanise.com, Jakarta – Kabar mengenai pengunduran diri Menteri Agama Nasaruddin Umar dari jabatannya mencuat di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU). Informasi tersebut menyebutkan Nasaruddin telah menyampaikan surat pengunduran diri kepada Presiden Prabowo Subianto karena disebut akan maju dalam bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Informasi itu berasal dari sumber yang disebut berada di lingkungan pemerintahan. Sumber tersebut menyatakan surat pengunduran diri Nasaruddin telah diterima pihak Istana.
“Pak Nasaruddin Umar mengundurkan diri. Dia sudah menyerahkan suratnya ke Istana. Pihak Istana sudah menerima dan merestui,” ujar sumber tersebut.
Menurut sumber itu, langkah tersebut berkaitan dengan rencana Nasaruddin untuk mengikuti kontestasi pemilihan Ketua Umum PBNU. Ia menyebut terdapat ketentuan yang mengharuskan pejabat negara mengundurkan diri apabila maju sebagai calon Ketua Umum PBNU.
Namun, kabar tersebut langsung dibantah Nasaruddin Umar.
Saat dikonfirmasi, Nasaruddin memastikan dirinya tidak pernah mengajukan surat pengunduran diri kepada Presiden Prabowo. Ia bahkan menyebut informasi tersebut sebagai kabar yang kemungkinan sengaja disebarkan oleh pihak tertentu.
“Kata siapa? (Mengundurkan diri), tidak pernah. Itu kayaknya ada orang panik,” kata Nasaruddin.
Nasaruddin juga menegaskan bahwa pada Rabu, 26 Agustus 2026, dirinya masih menjalankan tugas sebagai Menteri Agama. Ia mengaku tetap melakukan aktivitas kedinasan sebelum bertolak ke Jawa Timur.
“Saya enggak pernah melakukan itu (mengundurkan diri). Malah saya telah melakukan kegiatan di kantor, peringatan Maulid,” ujarnya.
Ia kembali menegaskan bahwa tidak pernah menyerahkan surat pengunduran diri kepada Presiden.
“Enggak pernah,” katanya.
Ketika ditanya mengenai aturan yang mengharuskan dirinya mundur dari jabatan Menteri Agama apabila maju sebagai calon Ketua Umum PBNU, Nasaruddin juga membantah adanya ketentuan tersebut.
“Iya,” jawabnya ketika ditanya apakah tidak ada aturan yang mewajibkan dirinya mundur.
Bertolak ke Jawa Timur
Di tengah isu tersebut, Nasaruddin diketahui sedang dalam perjalanan menuju Surabaya, Jawa Timur. Keberangkatannya berlangsung sehari menjelang dimulainya Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung mulai Kamis, 27 Agustus 2026.
Saat ditanya apakah kunjungannya berkaitan dengan Muktamar NU, Nasaruddin tidak memberikan jawaban secara langsung. Ia menyebut agenda yang akan dihadirinya adalah pelantikan Ikatan Ahli Ekonomi Islam di Jawa Timur.
“Melantik … Ikatan Ahli Ekonomi Islam di Jawa Timur besok pagi,” ujarnya.
Kehadiran Nasaruddin di Jawa Timur menjadi perhatian karena berlangsung bertepatan dengan semakin intensnya pembicaraan mengenai kandidat Ketua Umum PBNU periode mendatang.
Tujuh Nama Mengemuka
Muktamar ke-35 NU kini menjadi salah satu agenda organisasi keagamaan yang paling mendapat perhatian. Selain agenda organisasi, pertarungan gagasan dan dukungan di balik pemilihan Ketua Umum PBNU juga mulai menjadi sorotan.
Nama-nama calon sebelumnya disebut mencapai sekitar 15 tokoh. Namun, berdasarkan peta kandidat yang beredar menjelang Muktamar, jumlah tersebut kemudian mengerucut menjadi tujuh nama.
Ketujuh tokoh tersebut memiliki latar belakang dan basis dukungan yang berbeda. Mereka dapat dipetakan ke dalam tiga kelompok besar, yakni poros struktural, poros pesantren tradisional, serta poros regenerasi dan pembaruan.
Poros Struktural
Kelompok pertama mengedepankan kesinambungan organisasi, pengalaman struktural, serta kemampuan membangun relasi dengan pemerintah dan jaringan internasional.
Nama Ketua Umum PBNU saat ini, KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, masih menjadi salah satu kandidat utama. Gus Yahya secara terbuka telah menyatakan keinginannya untuk kembali memimpin PBNU.
Kepemimpinannya selama periode sebelumnya banyak dikaitkan dengan upaya memperkuat peran NU dalam isu perdamaian dunia, dialog antaragama, dan diplomasi keagamaan. Gagasan “Merawat Jagat, Membangun Peradaban” menjadi salah satu narasi penting yang melekat pada kepemimpinannya.
Di poros yang sama, nama Nasaruddin Umar juga menjadi perhatian. Menteri Agama sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal itu dipandang memiliki kombinasi pengalaman keulamaan dan birokrasi pemerintahan.
Nasaruddin juga disebut memperoleh dukungan dari sejumlah jaringan NU di luar Jawa. Jika benar masuk dalam kontestasi, pencalonannya berpotensi membawa dinamika baru karena menawarkan figur dengan pengalaman pemerintahan sekaligus latar belakang keagamaan yang kuat.
Namun, sampai saat ini Nasaruddin sendiri secara tegas membantah telah mengundurkan diri dari jabatan Menteri Agama maupun mengajukan surat kepada Presiden.
Poros Pesantren dan Tradisi
Kelompok berikutnya berasal dari kalangan pesantren yang membawa narasi penguatan kembali akar tradisional NU.
Salah satu nama yang mencuat adalah KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Latar belakang keluarganya yang memiliki hubungan langsung dengan KH Hasyim Asy’ari memberikan posisi simbolik yang kuat dalam peta kepemimpinan NU.
Gus Kikin dipandang merepresentasikan kesinambungan tradisi pesantren dan khazanah keilmuan klasik yang menjadi salah satu fondasi utama NU.
Nama lain adalah KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo, Jawa Tengah. Ia dikenal memiliki jaringan kuat di tingkat akar rumput dan membawa isu kesejahteraan warga serta dakwah kultural sebagai bagian dari narasi kepemimpinannya.
Sementara itu, KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin menawarkan pendekatan yang lebih menitikberatkan pada pendidikan. Ia mendorong agar tradisi keilmuan pesantren tetap dipertahankan sekaligus mampu beradaptasi dengan perkembangan pendidikan modern.
Poros Regenerasi dan Pembaruan
Kelompok ketiga terdiri dari tokoh-tokoh yang menawarkan pembaruan tata kelola organisasi serta regenerasi kepemimpinan.
KH Zulfa Mustofa menjadi salah satu nama yang diperhitungkan. Sebagai Wakil Ketua Umum PBNU, ia memiliki pengalaman dalam struktur organisasi sekaligus dikenal memiliki basis keilmuan Islam yang kuat.
Sosok lainnya adalah KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam, pengasuh Pondok Pesantren Tambakberas. Ia dikenal cukup vokal menyuarakan pentingnya mekanisme pengawasan dan keseimbangan kekuasaan di lingkungan internal PBNU.
Gus Salam juga menekankan agar NU tidak terlalu larut dalam politik praktis dan tetap berorientasi pada kemaslahatan masyarakat, khususnya warga NU di tingkat bawah.
Kontestasi Semakin Dinamis
Munculnya isu pengunduran diri Nasaruddin Umar menambah warna dalam dinamika menjelang Muktamar ke-35 NU. Di satu sisi, terdapat informasi dari sumber pemerintahan yang menyebut Nasaruddin telah menyerahkan surat pengunduran diri. Di sisi lain, Nasaruddin secara langsung membantah informasi tersebut dan menyatakan masih menjalankan tugas sebagai Menteri Agama.
Perbedaan informasi ini membuat posisi Nasaruddin dalam bursa Ketua Umum PBNU masih menjadi tanda tanya. Kepastian mengenai langkah politik-organisasinya baru akan semakin jelas seiring berlangsungnya rangkaian Muktamar.
Di luar persoalan Nasaruddin, kontestasi Ketua Umum PBNU juga memperlihatkan adanya persaingan sejumlah orientasi kepemimpinan: mempertahankan kesinambungan organisasi, memperkuat kembali basis pesantren, atau mendorong regenerasi dan pembaruan tata kelola.
Muktamar ke-35 NU pada akhirnya tidak hanya akan menentukan siapa yang memimpin PBNU untuk lima tahun mendatang. Forum tersebut juga akan menjadi ruang untuk menentukan arah organisasi dalam menghadapi perubahan sosial, politik, ekonomi, pendidikan, serta posisi NU di tengah dinamika nasional dan global.
Dengan demikian, perhatian terhadap bursa Ketua Umum PBNU diperkirakan akan semakin meningkat hingga proses pemilihan berlangsung. Sementara itu, isu mengenai Nasaruddin Umar masih menyisakan dua versi informasi yang bertolak belakang dan menunggu kepastian resmi dari pihak-pihak terkait. (Tim)
