Home » Segelas Air Putih Panas Menjadi Catatan Merah Bagi Caffe Ujung JMP — Part 2: Suara Netizen Pesan Soal Pelayanan

Gapuramanise.com, Ambon – Polemik mengenai pelayanan di Caffe Ujung JMP tidak berhenti pada keluhan seorang pelanggan. Setelah pemberitaan sebelumnya beredar di media sosial dan sejumlah grup percakapan, sejumlah netizen turut menyampaikan pengalaman mereka melalui kolom komentar TikTok.

Beragam tanggapan muncul. Ada yang mengaku pernah kecewa dengan pelayanan, ada yang menilai petugas kurang responsif, dan ada pula yang berharap sorotan tersebut menjadi bahan evaluasi bagi pengelola.

Salah satu komentar datang dari akun TikTok Bang Karim.

“Beta dulu sering ke sana tpi agak kecewa dg dong pelayanan. Pelayan agak cuek. akhirnya tempt yg paling terbaik itu hanya RK Lela. Moga vendor bsa baca ts ini spaya ada perbaikan”

Komentar lain disampaikan akun BETA ONE WAY713, yang menceritakan pengalamannya saat memesan makanan sekaligus meminta air hangat.

“konsumen pesan SOTO DAN NASI, lalu mintanya Air hangat, pelayan bilang tidak ada angkat tapi panas, dg mata sinis. konsumen ada 4 org pesan 3 porsi soto dan nasi tapi pelayan bilang dsni gelas untuk air hangat tidak ada. pelayanan Pleng buruk”

Sementara akun Dea juga menyoroti sikap pelayanan yang menurutnya pernah ia alami.

“Dan mmng pelayan pleng cuek b prnh bataria dg suara kasar bru dong dtg k meja”

Komentar tersebut kemudian ditanggapi akun BETA ONE WAY713.

“Dong Pleng seng sopan kak, ini sengaja ktong Bkin bgni biar jadi bahas evaluasi, ada pembelajaran.”

Akun Dea kembali membalas:

“Batul kk, kira bataria 2x dong cm Liat sja, b bataria ke 3x dg suara bsar bru ding bagara panggel pegawai lain, pdhl yg duduk di blakang meja kasir ad 2org mar z mau bagara!!!”

“Bukan Sekadar Air, Tetapi Soal Pelayanan”

Di tengah percakapan tersebut, muncul pula tanggapan dari Theofransus Litaay, yang disampaikan dalam salah satu grup WhatsApp ketika berita mengenai Caffe Ujung JMP dibagikan.

Theofransus Litaay menilai persoalan pelayanan harus dilihat lebih luas karena berkaitan dengan perkembangan pariwisata dan ekonomi kota.

“Bukan Sekadar Air, Tetapi Soal Pelayanan”, benar sekali. Kalau pariwisata mau maju harus perbaiki service.

Ia kemudian membagikan sebuah kisah yang pernah dialami seniornya, Alex Litaay, ketika berkunjung ke sebuah rumah kopi di Jalan A.Y. Patty, Ambon, bersama sejumlah rekannya dari GMKI pada masa Sidang Raya DGI.

Menurut kisah yang disampaikan Theofransus, ketika seorang pelayan mengantarkan kopi, pelayanan yang diberikan dinilai kurang bersahabat. Namun, Alex tidak langsung memarahi pelayan tersebut.

Sebaliknya, Alex mencoba mencari tahu alasan di balik sikap sang pelayan.

Dalam percakapan tersebut, Alex bertanya:

“Ade, ale hidup susah di kampong?”

Pelayan itu menjawab bahwa tidak ada persoalan. Namun, ketika Alex menanyakan ekspresi wajahnya yang terlihat marah, pelayan tersebut kemudian mengungkapkan bahwa ayahnya sedang berada di rumah sakit.

Alex kemudian memilih pendekatan yang berbeda. Ia merangkul pelayan tersebut dan mengajaknya berdoa agar sang ayah diberikan kesembuhan.

Ia juga memberikan nasihat bahwa persoalan pribadi tidak seharusnya menghilangkan sikap profesional ketika sedang bekerja melayani pelanggan.

Menurut kisah Theofransus, Alex menyampaikan kepada pelayan itu agar tetap bekerja dengan baik dan bersikap sopan kepada orang yang datang membeli kopi.

Pelayan tersebut kemudian meminta maaf dan menerima nasihat itu.

Dari Rumah Kopi ke Wajah Pariwisata Ambon

Kisah tersebut kemudian berkembang menjadi refleksi mengenai wajah pariwisata Ambon.

Dalam pesan yang dibagikan di grup WhatsApp itu, Theofransus juga mengisahkan percakapan Alex dengan ayahnya setelah kejadian tersebut.

Ayahnya mengingatkan bahwa Ambon dahulu memiliki delman yang ditarik kuda yang menurutnya sebenarnya memiliki potensi sebagai daya tarik wisata.

Namun, mengelola sektor pariwisata, menurut pesan tersebut, membutuhkan pembelajaran dan pelayanan yang baik.

Kisah itu kemudian ditutup dengan sebuah pesan yang kuat: kemajuan pariwisata bukan hanya persoalan membangun tempat, tetapi juga membangun manusia yang melayani.

Kritik Sebagai Bahan Evaluasi

Komentar-komentar netizen dan tanggapan Theofransus tersebut memperlihatkan satu benang merah: persoalan pelayanan tidak semestinya berhenti pada perdebatan mengenai tersedia atau tidaknya segelas air hangat.

Yang lebih penting adalah bagaimana pelanggan diperlakukan ketika menyampaikan permintaan.

Ketika suatu permintaan tidak dapat dipenuhi, pelanggan tentu dapat menerima apabila diberikan penjelasan yang baik dan alternatif yang tersedia.

Begitu pula ketika seorang petugas menghadapi persoalan pribadi, pendekatan yang manusiawi tetap penting. Namun, dalam waktu yang sama, profesionalitas dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan juga harus dijaga.

Bagi dunia usaha kuliner dan pariwisata, keramahan, komunikasi, respons cepat, dan penghormatan terhadap pelanggan merupakan bagian dari kualitas layanan.

Karena itu, kritik yang muncul di media sosial dapat menjadi momentum bagi pengelola untuk mengevaluasi kembali standar pelayanan dan membangun budaya kerja yang lebih baik.

Pesan untuk Kemajuan Ekonomi Kota

Theofransus kemudian menyampaikan apresiasi kepada Gapuramanise.com karena mengangkat persoalan pelayanan yang menurutnya kerap terabaikan, padahal memiliki kaitan dengan perkembangan ekonomi kota.

“Terima kasih redaksi Gapuramanise, su angkat sisi berita yang kadang terabaikan padahal sangat penting bagi kemajuan ekonomi kota.”

Pesan tersebut menjadi penutup yang menarik dari rangkaian percakapan mengenai Caffe Ujung JMP.

Sebab, dari persoalan yang terlihat sederhana segelas air putih hangat muncul pembahasan yang lebih besar mengenai etika pelayanan, pengalaman pelanggan, profesionalitas pekerja, dan masa depan pariwisata Ambon.

Segelas air mungkin sederhana. Tetapi cara kita memberikan segelas air kepada seorang tamu dapat menjadi cermin bagaimana kita menghargai orang lain.(Tim) 

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *