Home » Usai HUT Kota Ambon, Musisi Titip Gagasan Besar untuk Masa Depan Ambon City of Music

Gapuramanise.com, Ambon – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Ambon telah usai. Namun, bagi kalangan musisi, berakhirnya rangkaian perayaan tersebut justru menjadi titik penting untuk mengevaluasi sejauh mana identitas Ambon City of Music diterjemahkan ke dalam pembangunan ekosistem musik yang berkelanjutan.

Sejumlah musisi Maluku menyampaikan gagasan yang tidak berhenti pada persoalan pertunjukan dan hiburan. Mereka mendorong agar musik ditempatkan sebagai bagian dari pembangunan ekonomi kreatif, penguatan identitas budaya, sekaligus ruang pengembangan sumber daya manusia.

Bagi mereka, Ambon sesungguhnya memiliki modal sosial dan budaya yang kuat. Tradisi bernyanyi, keberadaan musisi lintas generasi, kekayaan repertoar lagu daerah serta munculnya talenta-talenta baru merupakan aset yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan industri kreatif.

Persoalannya adalah bagaimana potensi tersebut memperoleh ruang, infrastruktur, kebijakan dan mekanisme industri yang memadai.

City of Music Perlu Diukur dari Ekosistemnya

Penyanyi Vicky Salamor menempatkan predikat Ambon City of Music dalam perspektif yang lebih luas. Menurutnya, status tersebut seharusnya menjadi instrumen untuk memperkuat posisi musisi lokal, bukan sekadar identitas kota.

“Bagi saya dan teman-teman musisi, predikat Ambon City of Music dari UNESCO bukan sekadar gelar seremonial atau pajangan di plang selamat datang kota.”

Gagasan tersebut mengarah pada kebutuhan membangun rantai industri musik secara utuh. Ambon, menurutnya, perlu memiliki fasilitas produksi dan pertunjukan yang memungkinkan seorang musisi berkembang sejak tahap penciptaan karya hingga memasuki pasar.

“Kita butuh ekosistem musik hulu ke hilir yang matang di Ambon,” katanya.

Ekosistem itu mencakup studio rekaman dan ruang latihan yang representatif, panggung pertunjukan berkelanjutan, pemahaman mengenai hak cipta dan royalti, hingga akses terhadap distribusi musik.

Dengan pendekatan tersebut, predikat kota musik tidak hanya diukur dari jumlah event yang digelar, tetapi dari seberapa produktif ekosistem tersebut melahirkan karya dan menciptakan keberlanjutan profesi bagi pelakunya.

Talenta Muda Jangan Hanya Menjadi Penonton

Persoalan regenerasi menjadi salah satu perhatian penting yang disampaikan para musisi.

Justy Aldrin melihat generasi muda Maluku memiliki prospek besar di tengah perubahan industri musik yang semakin digital. Menurutnya, perkembangan teknologi telah mengurangi sejumlah hambatan yang dahulu membuat musisi daerah sulit menjangkau pasar.

“Menurut saya masa depan dari musik timur ini sangat luar biasa terbuka dan saya lihat sangat banyak peluang dan potensi.”

Karena itu, generasi muda tidak cukup hanya menunggu adanya panggung. Mereka perlu aktif menciptakan karya dan membangun identitas artistiknya sendiri.

“Berkaryalah terus tanpa harus memadamkan cahaya orang lain,” pesan Justy.

Perubahan teknologi juga membuka kemungkinan bagi lagu-lagu daerah untuk memperoleh pendengar di luar wilayah Maluku. Media sosial dan platform digital memungkinkan sebuah karya diproduksi dan dipasarkan dengan biaya serta jalur distribusi yang lebih fleksibel dibandingkan era industri musik konvensional.

Namun, peluang digital tersebut menurut gagasan para musisi harus dibarengi dengan literasi industri, sehingga anak muda memahami bagaimana karya dapat dikelola menjadi aset ekonomi.

Pemerintah Tidak Hanya Diminta Membiayai, tetapi Menciptakan Ruang

Toton Caribo memberikan perspektif berbeda mengenai peran pemerintah. Menurutnya, dukungan terhadap musisi tidak harus selalu diterjemahkan dalam bentuk bantuan finansial.

Yang lebih mendasar adalah menciptakan ruang yang memungkinkan musisi bertemu dengan publik, berkolaborasi, memproduksi karya dan membangun komunitas.

“Pemerintah buka ruang untuk kita. Kalau dibilang tidak punya uang, sabar dulu, tapi yang penting support kita, kasih wadah supaya kita bisa kasih maju kita punya regenerasi.”

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa kebijakan kebudayaan dapat diarahkan pada penyediaan akses dan kesempatan, bukan semata-mata pemberian bantuan.

Jika ruang pertunjukan, festival, program komunitas dan agenda musik tersedia secara konsisten, maka aktivitas musik dapat berkembang menjadi ekosistem ekonomi yang melibatkan banyak sektor, mulai dari musisi, penata suara, produksi acara, desain, media, UMKM hingga pelaku ekonomi kreatif lainnya.

Menghubungkan Generasi Lama dan Generasi Baru

Toton juga menawarkan konsep event musik bernuansa nostalgia sebagai upaya mempertemukan dua generasi.

Gagasannya adalah menghadirkan kembali atmosfer Ambon masa lalu melalui penampilan musisi senior, musik klasik Maluku, busana tradisional, kuliner serta dekorasi yang merepresentasikan kehidupan masyarakat tempo dulu.

“Kita boleh gaul dengan dunia sekarang, tapi saya ingin kita sulap jadi zaman dulu,” ujarnya.

Konsep tersebut dapat menjadi model wisata musik dan budaya, karena musik tidak berdiri sendiri tetapi dikombinasikan dengan sejarah, kuliner, fesyen, seni pertunjukan dan identitas masyarakat.

Dengan demikian, warisan musik tidak hanya disimpan sebagai nostalgia, tetapi dapat diolah menjadi produk kebudayaan yang memiliki nilai edukatif dan ekonomi.

AMMA sebagai Mekanisme Apresiasi

Sementara itu, Doddie Latuharhary menawarkan gagasan yang lebih institusional melalui pembentukan AMMA atau Ambon Musik Award.

AMMA dapat dirancang sebagai penghargaan musik daerah yang diselenggarakan secara berkala dengan sistem penilaian yang terukur.

Indikatornya dapat mencakup performa lagu di media sosial, radio dan televisi lokal, konsistensi berada di tangga lagu, serta evaluasi dari praktisi atau musisi senior.

“Ini adalah agenda tahunan atau dua tahunan yang bisa memacu pelaku-pelaku musik yang awalnya tertidur bisa serentak bangun untuk meraih impiannya di podium AMMA.”

Jika direalisasikan secara profesional, AMMA tidak hanya menjadi malam pemberian penghargaan. Program tersebut dapat dikembangkan menjadi platform pemetaan perkembangan musik lokal, sekaligus memberikan insentif reputasi bagi musisi yang menghasilkan karya berkualitas.

Jangan Sampai Talenta Besar Kehilangan Jalur

Doddie juga menyoroti persoalan klasik yang dihadapi talenta musik daerah, yakni keterbatasan jalur pengembangan karier.

“Anak-anak di Ambon sarat dengan bakat talenta yang tak terhitung banyaknya, tapi semua pupus dan berakhir dalam cita-cita menjadi PNS karna tidak tersalur.”

Persoalan tersebut, jika dilihat secara lebih luas, bukan sekadar masalah individu. Ia berkaitan dengan bagaimana sebuah kota membangun sistem pendukung bagi profesi kreatif.

Talenta yang tidak mendapatkan ruang produksi, akses pasar, pendidikan industri maupun kesempatan tampil akan sulit mengubah kemampuan artistiknya menjadi profesi yang berkelanjutan.

Karena itu, predikat Ambon City of Music idealnya diikuti dengan indikator yang dapat dievaluasi: berapa banyak talenta baru yang muncul, berapa banyak karya yang diproduksi, berapa banyak ruang pertunjukan tersedia, serta sejauh mana aktivitas musik memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Setelah HUT, Pekerjaan Besarnya Justru Dimulai

Berakhirnya HUT Kota Ambon seharusnya tidak menjadi penutup pembicaraan mengenai masa depan musik.

Sebaliknya, momentum tersebut dapat menjadi awal untuk menyusun agenda yang lebih sistematis. Pemerintah daerah, musisi, komunitas, akademisi, media, pelaku usaha dan industri kreatif dapat duduk bersama menyusun peta jalan musik Ambon.

Harapannya, Ambon tidak hanya dikenal karena memiliki banyak penyanyi, tetapi juga memiliki sistem yang membuat seorang anak muda dapat belajar musik, menciptakan lagu, merekam, mendapatkan panggung, memperoleh royalti, membangun pasar dan menjadikan musik sebagai profesi.

Sebab, seperti gagasan yang disampaikan para musisi, tantangan terbesar Ambon City of Music bukan lagi bagaimana mendapatkan pengakuan, melainkan bagaimana memastikan pengakuan tersebut menghasilkan perubahan nyata bagi kehidupan para pelaku musik dan generasi berikutnya.

HUT Kota Ambon telah berlalu. Kini yang ditunggu bukan lagi seremoni, melainkan langkah konkret: menjadikan “Ambon City of Music” sebagai ekosistem yang benar-benar hidup, produktif dan berkelanjutan. (LMW-GM) 

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *