Gapuramanise.com, Ambon – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Ambon telah berlalu. Namun, di balik kemeriahan perayaan tersebut, ada satu pekerjaan besar yang masih menanti: bagaimana menjadikan Ambon City of Music bukan sekadar predikat, tetapi ekosistem yang benar-benar memberi ruang dan masa depan bagi musisi serta talenta muda Maluku.
Pertanyaan itu menjadi semakin penting karena musik Maluku sesungguhnya memiliki sejarah panjang dan karakter yang kuat dalam perjalanan musik Indonesia.
Dari generasi ke generasi, Ambon dan Maluku telah melahirkan penyanyi, pencipta lagu dan musisi yang mampu memberi warna bagi musik nasional. Bahkan, hingga hari ini, musik Timur terus menunjukkan daya saingnya di tengah perkembangan industri musik Indonesia.
Namun, persoalannya bukan lagi apakah Maluku memiliki talenta.
Talenta itu ada. Sangat banyak.
Persoalannya adalah apakah daerah mampu menyediakan ruang agar talenta tersebut tumbuh, berkembang dan menjadikan musik sebagai pilihan hidup yang memiliki masa depan.
Empat musisi Maluku, Doddie Latuharhary, Toton Caribo, Vicky Salamor dan Justy Aldrin, menyampaikan pandangan mereka kepada Gapuramanise.com terkait masa depan musik Maluku dan makna Ambon sebagai kota musik.
Doddie: Jangan Biarkan Talenta Berakhir Hanya Karena Tidak Ada Ruang
Penyanyi Maluku Doddie Latuharhary menilai sejarah dan karakter musik Maluku harus menjadi bahan bakar bagi generasi sekarang untuk optimistis.
Menurutnya, industri musik Indonesia masih menghadapi berbagai persoalan, termasuk ketimpangan akses terhadap popularitas, media, modal dan jalur distribusi yang membuat musisi daerah harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan tempat.
Namun Doddie tidak ingin kondisi tersebut menjadi alasan untuk menyerah.
“Kita punya sejarah, landasan dan karakter kuat dalam musik tanah air sejak dulu sampai sekarang. Itu yang harusnya jadi bahan bakar buat kita optimis menatap masa depan musik,” ujar Doddie kepada Gapuramanise.com, Minggu (6/9/2026).
Ia menilai musik Timur kini mulai menunjukkan kekuatannya dan mampu menembus batas geografis maupun pusat industri.
Karena itu, menurutnya, Ambon tidak boleh hanya menjadi tempat lahirnya talenta, sementara para talenta tersebut harus pergi keluar daerah untuk mengejar impian.
Doddie bahkan menyoroti fenomena anak-anak muda berbakat yang akhirnya meninggalkan cita-cita bermusik karena tidak tersalurkan.
“Anak-anak di Ambon sarat dengan bakat dan talenta yang tak terhitung banyaknya, tapi semua pupus dan berakhir dalam cita-cita menjadi PNS karena tidak tersalur. Salah siapa?” katanya.
Menurut Doddie, pemerintah memiliki tanggung jawab besar karena telah membawa nama Ambon ke dunia sebagai Kota Musik.
Ia mendorong pemerintah membentuk dan mengawal ekosistem musik dengan orang-orang yang benar-benar memahami dunia musik dan memiliki komitmen terhadap regenerasi.
Ia juga mengusulkan sebuah program penghargaan bernama AMMA (Ambon Musik Award).
AMMA, menurut konsepnya, dapat menjadi agenda tahunan atau dua tahunan yang memberikan penghargaan kepada musisi berdasarkan sejumlah indikator seperti popularitas di media sosial, performa lagu di radio dan televisi lokal, serta penilaian independen dari musisi senior di tingkat nasional.
Lama bertahannya sebuah lagu atau artis di tangga lagu dalam satu tahun juga dapat menjadi salah satu indikator penilaian.
Menurut Doddie, program tersebut dapat menjadi pemicu agar musisi-musisi lokal kembali memiliki semangat berkompetisi dan berkarya.
Toton: Pemerintah Tidak Harus Selalu Memberi Uang, Tapi Harus Membuka Jalan
Sementara itu, Toton Caribo menilai perjuangan musisi Maluku tidak boleh berhenti pada persoalan pengakuan.
Ia mengaku pengalaman menerima kritik dan hujatan justru menjadi motivasi untuk membuktikan bahwa karya dari Maluku mampu diterima di luar daerah.
Menurutnya, ketika penyanyi dari luar Ambon bahkan penyanyi yang telah memiliki nama nasional mau membawakan lagu bernuansa Maluku, hal tersebut merupakan sebuah kebanggaan.
Toton mencontohkan karya “Ambon Manise” yang pernah ia ciptakan dan nyanyikan bersama Novia Bachmid dan Jackson.
“Saya jadikan itu motivasi buat saya. Puji Tuhan akhir-akhir ini saya sangat bangga akhirnya ada penyanyi-penyanyi dari luar Ambon yang memang sudah kelas nasional yang ingin nyanyi lagu Maluku,” ujar Toton dalam wawancara dengan Gapuramanise.com, 7/9/2026.
Toton juga memiliki gagasan untuk membuat sebuah event nostalgia yang mempertemukan generasi sekarang dengan para artis Maluku tempo dulu yang masih ada.
Konsep tersebut ingin menghadirkan kembali suasana Ambon masa lalu melalui musik, dekorasi, busana tradisional, kuliner dan kehidupan sosial masyarakat.
Ia membayangkan dua suasana dalam satu event: gate tempo dulu dan gate zaman now.
Menurut Toton, konsep tersebut bukan sekadar pertunjukan musik, tetapi upaya menghidupkan kembali memori kolektif masyarakat sekaligus mempertemukan generasi lama dengan generasi baru.
Namun, ia mengakui bahwa event seperti itu tidak mungkin berjalan sendirian.
“Saya bukan orang yang banyak uang. Saya juga butuh dukungan pemerintah. Ini saya mau supaya katong samua bisa bernostalgia,” katanya.
Toton menegaskan bahwa yang ia harapkan dari pemerintah bukan sekadar pujian.
“Saya tidak butuh pujian. Saya butuh pemerintah buka peluang, buka jalan untuk katong. Bukan hanya katong, tapi par yang akan datang,” ujarnya.
Menurut Toton, pemerintah tidak harus selalu memiliki anggaran besar untuk membantu musisi.
“Kalau dibilang tidak punya uang, sabar dulu. Tapi yang penting support kita, kasih wadah supaya kita bisa maju, kita punya regenerasi. Karena kita ini juga akan habis.”
Vicky: Ambon City of Music Jangan Berhenti Sebagai Gelar
Penyanyi Vicky Salamor melihat predikat Ambon City of Music sebagai sebuah pengakuan terhadap identitas musikal masyarakat Maluku.
Menurutnya, predikat tersebut bukan sekadar gelar seremonial.
“Bagi beta dan teman-teman musisi, predikat Ambon City of Music dari UNESCO bukan sekadar gelar seremonial atau pajangan di plang selamat datang kota,” ujar Vicky kepada Gapuramanise.com, 7/9/2026.
Ia menyebut musik sebagai bagian dari identitas masyarakat Maluku yang telah diwariskan sejak generasi terdahulu.
Namun, pengakuan tersebut harus diterjemahkan dalam langkah nyata.
Vicky mendorong pembangunan ekosistem musik dari hulu hingga hilir, termasuk studio rekaman, ruang latihan yang memadai, perlindungan hak cipta dan royalti, serta panggung pertunjukan yang berjalan rutin sepanjang tahun.
Selain infrastruktur, ia menilai musisi muda perlu dibekali pengetahuan mengenai music business, digital marketing, manajemen produksi dan distribusi digital.
Vicky juga mengingatkan agar musik Timur tidak dibatasi hanya pada satu genre.
“Jangan membatasi musik Timur hanya pada satu genre atau ruang lingkup kedaerahan. Predikat ini harus jadi jembatan agar musisi Maluku berani bereksplorasi memadukan akar budaya lokal dengan tren musik global kontemporer,” katanya.
Menurut Vicky, musik Timur saat ini sudah memiliki peluang besar karena mampu menjangkau pendengar di berbagai wilayah.
Tugas pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan adalah memastikan Ambon menjadi rumah yang kokoh bagi talenta-talenta tersebut.
Justy: Berkarya Terus Tanpa Memadamkan Cahaya Orang Lain
Penyanyi Justy Aldrin juga melihat masa depan musik Timur dengan penuh optimisme.
Menurutnya, generasi sekarang memiliki peluang yang jauh lebih besar dibandingkan generasi sebelumnya karena perkembangan teknologi digital.
Jika dahulu musisi harus pergi ke Jakarta untuk melakukan rekaman dan memasarkan lagu melalui media yang terbatas, sekarang platform digital memungkinkan karya dari Ambon menjangkau pendengar di berbagai belahan dunia.
Justy mencontohkan lagu “Ngapain Mo Repot” milik Toton Caribo yang digunakan hingga di luar negeri.
Menurutnya, fenomena tersebut menjadi contoh bahwa karya musisi Timur memiliki potensi untuk menembus batas.
“Generasi muda kita, orang Ambon, orang Maluku itu punya talenta yang sangat luar biasa dalam bidang musik,” ujar Justy kepada Gapuramanise.com, 7/9/2026.
Ia mengajak generasi muda untuk tidak berhenti berkarya meskipun menghadapi persaingan.
“Berkaryalah terus dan ingat satu pesan dari saya: berkarya terus tanpa harus memadamkan cahaya orang lain,” katanya.
Justy juga mengapresiasi semakin banyaknya event budaya di Kota Ambon yang melibatkan penyanyi daerah.
Menurutnya, ruang seperti itu penting untuk menunjukkan bahwa musisi lokal dapat dihargai dan memiliki tempat di tanahnya sendiri.
Ia berharap Ambon dapat terus menjadi kota yang maju dan menjadikan musik sebagai salah satu kekuatan utama.
Talenta Maluku Tersebar, Ambon Harus Menjemput
Dari empat pandangan tersebut, terdapat satu benang merah yang kuat.
Musik Maluku tidak kekurangan talenta. Yang masih harus diperkuat adalah ekosistemnya.
Talenta-talenta Maluku kini tersebar di berbagai daerah. Ada yang berada di Ambon, Tual, Kupang, Jakarta dan kota-kota lainnya, bahkan sampai di luar negeri.
Namun, ketika berbicara tentang musik Maluku di tingkat nasional, nama Ambon tetap menjadi salah satu identitas yang paling kuat dan dikenal.
Karena itu, Pemkot Ambon seharusnya melihat para musisi Maluku yang berada di luar daerah bukan sebagai orang yang telah meninggalkan Ambon.
Sebaliknya, mereka adalah aset jaringan musik Maluku yang bisa dijemput untuk ikut membangun kota.
Mereka bisa menjadi mentor. Bisa menjadi penghubung industri. Bisa menjadi juri. Bisa membuka kelas musik. Bisa membawa jaringan nasional ke Ambon. Bisa melakukan kolaborasi dengan talenta muda. Dan bisa menjadi bagian dari ekosistem Ambon City of Music.
HUT Sudah Lewat, Pekerjaan Rumah Jangan Ikut Selesai
HUT Kota Ambon memang telah selesai. Panggung boleh dibongkar. Lampu boleh dipadamkan. Spanduk perayaan boleh diturunkan.
Tetapi pekerjaan membangun masa depan musik Ambon tidak boleh berhenti.
Predikat Ambon City of Music harus mulai dirasakan oleh anak-anak muda yang setiap hari bermimpi menjadi penyanyi, pencipta lagu, produser, pemain musik atau pekerja industri kreatif.
Jangan sampai mereka merasa satu-satunya pilihan untuk masa depan adalah menjadi PNS atau meninggalkan Ambon.
Pemkot Ambon tidak harus melakukan semuanya sendiri.
Pemerintah, komunitas, musisi, media, pelaku usaha, industri kreatif dan para musisi Maluku yang telah berhasil di luar daerah dapat duduk bersama membangun satu ekosistem.
Sebab kekuatan musik Maluku sudah terbukti.
Sejarahnya ada. Talennya ada. Musisinya ada. Pasarnya mulai terbuka. Teknologinya tersedia.
Yang dibutuhkan sekarang adalah keberanian untuk menghubungkan semuanya.
Dan mungkin, inilah makna paling penting dari Ambon City of Music:
bukan sekadar bagaimana dunia mengenal musik Ambon, tetapi bagaimana Ambon mampu memastikan anak-anak musiknya sendiri memiliki masa depan di tanahnya. (LB-GM)

