
Gapuramanise.com, Tanimbar – Potensi rumput laut di Desa Kamatubun, Kecamatan Wermaktian, Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT), Maluku, mulai diarahkan untuk tidak berhenti sebagai komoditas hasil budidaya.
Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) mendorong kelompok rumput laut di desa tersebut mengembangkan produk bernilai tambah sekaligus memperkuat strategi pemasaran berbasis digital.
Program bertajuk “Pemberdayaan Budidaya Kelompok Rumput Laut Melalui Penguatan Komunikasi Pemasaran Digital untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat pada Desa Kamatubun” itu berlangsung pada 21–25 Agustus 2026 sebagai bagian dari rangkaian kegiatan PKM UKIM.
Program tersebut menyasar persoalan yang selama ini kerap dihadapi pelaku usaha berbasis komoditas lokal. Produksi dapat berjalan, namun tanpa pengolahan, identitas produk, kemasan, serta strategi pemasaran yang tepat, nilai ekonomi yang diterima masyarakat cenderung masih terbatas.
Karena itu, Tim PKM FISIP UKIM tidak hanya memberikan edukasi mengenai budidaya, tetapi juga mengarahkan perhatian masyarakat pada penguatan rantai nilai rumput laut, mulai dari bahan baku hingga menjadi produk yang memiliki daya jual dan mampu menjangkau konsumen lebih luas.
Dalam kegiatan tersebut, tim bersama Penyuluh Perikanan KKT memberikan pendampingan kepada kelompok masyarakat mengenai pengolahan rumput laut serta strategi komunikasi pemasaran digital.
Masyarakat diperkenalkan pada sejumlah aspek penting pemasaran, mulai dari membangun identitas produk, fotografi produk, pembuatan konten, pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi, hingga cara menyampaikan informasi produk secara menarik dan meyakinkan kepada calon konsumen.
Langkah tersebut dinilai penting karena persaingan produk pangan dan UMKM saat ini tidak hanya ditentukan oleh kualitas barang. Kemampuan membangun branding, komunikasi, dan kehadiran digital turut menentukan sejauh mana produk lokal dapat dikenal dan menembus pasar yang lebih luas.
Dikembangkan Menjadi Produk Olahan
Salah satu terobosan yang diperkenalkan dalam kegiatan PKM tersebut adalah pengembangan produk olahan berbahan dasar rumput laut, di antaranya jus rumput laut dan keripik rumput laut.
Pengolahan ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk meningkatkan nilai tambah komoditas. Rumput laut tidak lagi hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk konsumsi dengan segmen pasar yang lebih beragam.
Ketua Tim PKM FISIP UKIM, Demsy Wattimena, S.Sos., M.I.Kom, mengatakan program tersebut tidak boleh berhenti pada kegiatan pelatihan semata.
Menurutnya, potensi rumput laut di Desa Kamatubun harus dikembangkan secara berkelanjutan melalui penguatan kapasitas masyarakat, inovasi produk hingga strategi pemasaran.
“Potensi rumput laut di Desa Kamatubun perlu dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Melalui penguatan komunikasi pemasaran digital, masyarakat tidak hanya memproduksi, tetapi juga mampu memperkenalkan dan memasarkan produknya kepada pasar yang lebih luas,” ujar Wattimena.
Ia menilai pendekatan tersebut penting agar pemberdayaan masyarakat tidak sekadar menghasilkan pengetahuan baru, tetapi juga membuka peluang terbentuknya usaha produktif yang mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
Dengan dukungan teknologi digital, produk rumput laut Kamatubun memiliki peluang untuk diperkenalkan melampaui batas wilayah desa. Media sosial dapat menjadi etalase baru bagi masyarakat untuk membangun merek, menjangkau konsumen, sekaligus membuka jejaring pasar.
Perguruan Tinggi dan Masyarakat Bersinergi
Bagi UKIM, penguatan potensi lokal merupakan bagian dari tanggung jawab perguruan tinggi untuk menghadirkan solusi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
PKM FISIP UKIM di Kamatubun sekaligus memperlihatkan bahwa pemberdayaan masyarakat tidak cukup hanya dengan meningkatkan kemampuan produksi. Masyarakat juga perlu dibekali kemampuan mengemas, mengomunikasikan, mempromosikan, dan memasarkan hasil produksinya.
Sinergi antara perguruan tinggi, masyarakat dan penyuluh perikanan diharapkan menjadi fondasi bagi pengembangan kelompok rumput laut Kamatubun menuju usaha yang lebih mandiri dan berdaya saing.
Tim PKM FISIP UKIM terdiri dari Demsy Wattimena, S.Sos., M.I.Kom selaku ketua, Marleen Muskita, S.P., M.Si., Eko Basuki, M.Si., Kornels Balak, S.Sos., M.Kesos., dan Alda Gazperzs.
Jika pendampingan dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan, produk olahan rumput laut Kamatubun bukan tidak mungkin berkembang menjadi salah satu identitas ekonomi lokal Kepulauan Tanimbar sekaligus membuka peluang baru bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. (VT-GM)
