
Gapuramanise.com, Jakarta – Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali menjadi perhatian setelah gunung api tersebut mengalami episode erupsi menerus selama sekitar 25 jam pada 4–6 September 2026. Meskipun episode erupsi menerus tersebut telah berakhir, aktivitas vulkanik masih menunjukkan dinamika dan status Gunung Anak Krakatau berada pada Level III atau Siaga.
Kondisi tersebut turut menjadi perhatian Ikatan Keluarga Besar Manipa (IKABAPA) Jakarta, khususnya terhadap masyarakat asal Pulau Manipa, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku, yang saat ini berada dan beraktivitas di wilayah Jakarta dan sekitarnya.
Juru Bicara IKABAPA Jakarta, Ibon Tarmon, mengimbau masyarakat Manipa di Jakarta dan Jabodetabek untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan dampak abu vulkanik, terutama bagi warga yang memiliki aktivitas di luar ruangan.
“Kami mengimbau keluarga besar Manipa yang berada di Jakarta atau Jabodetabek untuk tetap berhati-hati dan tidak panik. Yang terpenting adalah memperhatikan kondisi di lingkungan masing-masing serta mengikuti informasi dan imbauan keselamatan yang disampaikan oleh pihak berwenang,” ujar Ibon.
Menurut Ibon, kewaspadaan diperlukan bukan untuk menimbulkan kekhawatiran, melainkan sebagai langkah antisipasi terhadap perubahan kondisi atmosfer maupun kemungkinan persebaran abu vulkanik.
Badan Geologi sebelumnya menyatakan potensi bahaya dari aktivitas Gunung Anak Krakatau antara lain lontaran batu pijar dan hujan abu lebat. Masyarakat juga diminta tidak mendekati kawasan dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif.
Ibon menekankan agar masyarakat Manipa di Jakarta tidak mudah menerima maupun menyebarkan informasi yang belum jelas sumbernya.
“Dalam situasi seperti ini, masyarakat perlu tetap tenang, kritis terhadap informasi dan memastikan setiap informasi yang diterima berasal dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Jika terdapat perubahan kondisi, tentu kita mengikuti perkembangan berdasarkan informasi resmi,” katanya.
Ia juga mengingatkan warga yang beraktivitas di luar ruangan untuk memperhatikan kondisi udara dan menggunakan masker apabila terdapat paparan abu vulkanik.
Bagi IKABAPA Jakarta, keselamatan masyarakat menjadi perhatian bersama. Karena itu, kewaspadaan perlu ditempatkan sebagai bagian dari kesiapsiagaan masyarakat tanpa menimbulkan kepanikan.
“Intinya, waspada bukan berarti panik. Masyarakat Manipa di Jakarta tetap beraktivitas secara normal dengan memperhatikan perkembangan situasi dan mengikuti arahan keselamatan yang relevan,” ujar Ibon.
Sementara itu, Badan Geologi menyatakan episode erupsi menerus Gunung Anak Krakatau telah berakhir. Namun, aktivitas vulkanik masih terus dipantau karena dinamika kegempaan tetap tinggi.
Masyarakat di wilayah yang berpotensi terdampak abu vulkanik diimbau untuk tetap memperhatikan perkembangan informasi kebencanaan dari sumber resmi serta mengikuti arahan keselamatan yang dikeluarkan oleh pihak berwenang. (ACT-GM)
