Home » Penguatan PSI Dinilai Bisa Jadi Strategi Politik Jokowi Menuju 2029, Elektabilitas Naik dan Berpotensi Jadi Kendaraan Politik Mandiri

Gapuramanise.com, Jakarta – Upaya memperkuat Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dinilai memiliki makna lebih luas daripada sekadar meningkatkan posisi partai di tengah persaingan politik nasional. Langkah tersebut disebut dapat berkaitan dengan strategi Joko Widodo dalam menghadapi perubahan peta politik menjelang Pemilihan Presiden 2029.

Direktur Lembaga Survei Indonesia (LSI) Djayadi Hanan menilai PSI berpeluang menjadi salah satu kendaraan politik yang lebih mandiri bagi Jokowi dan kelompok pendukungnya. Pandangan itu disampaikan Djayadi dalam siniar Total Politik yang tayang Kamis (13/8/2026).

Menurut Djayadi, dinamika politik menuju 2029 masih sangat terbuka. Salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah posisi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang belum tentu mendapatkan dukungan politik yang sama seperti saat ini.

Saat ini, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto didukung koalisi besar yang menguasai lebih dari 80 persen kursi parlemen. Namun, konfigurasi tersebut dinilai belum tentu bertahan ketika memasuki pertarungan Pilpres 2029.

Partai-partai yang kini berada dalam koalisi pemerintah memiliki kepentingan politik masing-masing. Tidak tertutup kemungkinan sejumlah partai akan mengusung kader internal untuk posisi calon presiden maupun wakil presiden.

Kondisi itu dapat membuat peta dukungan terhadap Gibran berubah. Dukungan yang ada saat ini tidak otomatis menjadi jaminan bahwa seluruh partai koalisi akan memberikan sokongan yang sama pada kontestasi berikutnya.

Di tengah dinamika tersebut, perkembangan elektabilitas PSI menjadi perhatian. Djayadi memaparkan bahwa berdasarkan sejumlah survei, elektabilitas PSI berada di kisaran 3 hingga 4,1 persen.

Kenaikan tersebut, menurut Djayadi, tidak terlepas dari upaya mengaitkan PSI dengan sosok Jokowi serta konsolidasi terhadap basis pendukung yang selama ini berada di sekitar mantan presiden tersebut.

Djayadi juga memaparkan hasil survei eksperimen yang menunjukkan masih adanya pengaruh Jokowi terhadap pilihan politik masyarakat. Dalam simulasi tersebut, efek positif Jokowi disebut berpotensi memberikan tambahan dukungan hingga sekitar 10 persen bagi PSI.

Jika tren tersebut dapat dipertahankan hingga Pemilu 2029 dan PSI berhasil melewati ambang batas parlemen, posisi partai itu berpotensi menjadi lebih strategis. PSI tidak hanya memiliki kekuatan elektoral, tetapi juga dapat memperoleh representasi formal di parlemen.

Bagi Jokowi, keberadaan partai dengan kekuatan politik sendiri dinilai dapat memberikan ruang manuver yang lebih luas ketika konfigurasi koalisi nasional berubah.

Dengan demikian, penguatan PSI dapat dibaca sebagai bagian dari persiapan menghadapi kemungkinan perubahan arah politik setelah Pemilu 2024. Bukan hanya soal masa depan PSI, tetapi juga tentang bagaimana kelompok politik yang selama ini dekat dengan Jokowi membangun pijakan baru menuju 2029.

Meski demikian, peta politik masih dapat berubah dalam beberapa tahun ke depan. Elektabilitas partai, arah koalisi, serta keputusan para tokoh nasional akan menjadi faktor penting yang menentukan apakah PSI benar-benar mampu memainkan peran lebih besar dalam kontestasi politik mendatang. (Tim)

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *