Gapuramanise.com – Perdagangan minyak mentah dunia pada awal pekan ditutup di zona hijau seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Kekhawatiran pasar terhadap potensi terganggunya pasokan energi global mendorong harga minyak kembali menguat.
Pada penutupan perdagangan Senin (20/7), minyak mentah jenis Brent menguat sekitar 1,3 persen dan berada di level US$89,22 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turut mencatat kenaikan sekitar 0,9 persen menjadi US$83,23 per barel.
Penguatan tersebut memperpanjang tren positif harga minyak sepanjang Juli. Secara akumulatif, harga minyak dunia telah meningkat hampir 20 persen dalam sebulan terakhir akibat meningkatnya risiko geopolitik yang memicu kekhawatiran terhadap stabilitas distribusi energi internasional.
Salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar adalah memanasnya hubungan antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi semakin tegang setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan pernyataan keras menyusul tewasnya tiga personel militer AS.
Trump menegaskan bahwa Iran akan menghadapi konsekuensi berat apabila kembali terjadi serangan yang menewaskan tentara Amerika. Ia juga mengaku telah memberikan arahan kepada jajaran pertahanan dan pimpinan militer AS untuk mengambil langkah yang diperlukan.
Pernyataan tersebut sempat mendorong harga minyak Brent melonjak hingga mendekati level US$90 per barel, sebelum akhirnya kenaikan sedikit mereda setelah muncul sinyal dari pemerintah Iran mengenai peluang melanjutkan jalur diplomasi.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menyampaikan bahwa pembicaraan dengan Washington masih terbuka selama tidak bertentangan dengan kepentingan nasional negaranya. Pernyataan itu memberi sedikit harapan bagi pelaku pasar bahwa konflik tidak akan berkembang menjadi konfrontasi yang lebih luas.
Di sisi lain, tekanan terhadap pasar energi juga datang dari kelompok Houthi di Yaman. Kelompok yang didukung Iran tersebut mengumumkan embargo maritim terhadap Arab Saudi dan kembali mengancam akan menutup Selat Bab el-Mandeb.
Selat tersebut merupakan salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia karena menjadi penghubung antara Laut Merah dan Teluk Aden. Gangguan di kawasan itu berpotensi menghambat distribusi minyak menuju pasar internasional.
Ancaman tersebut menjadi perhatian serius mengingat Arab Saudi dalam beberapa waktu terakhir telah mengalihkan sebagian ekspor minyaknya melalui terminal di Laut Merah sebagai alternatif distribusi di tengah meningkatnya konflik kawasan.
Para pelaku pasar kini terus memantau perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah. Selama ketegangan antara Amerika Serikat, Iran, dan kelompok Houthi belum mereda, harga minyak diperkirakan masih berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan tetap berada pada level tinggi. (Tim)

