
Gapuramanise.com, Aboru – Dugaan perekaman pembicaraan secara sepihak oleh seorang oknum yang disebut-sebut sebagai anggota intelijen TNI di Desa Aboru pada 17 Agustus 2026 mendapat perhatian masyarakat.
Tindakan tersebut dinilai berpotensi memperkeruh situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), terutama dalam menjaga hubungan persaudaraan adat antara masyarakat Desa Aboru dan Negeri Hualoy.
“Kalau memang benar ada anggota TNI yang melakukan perekaman tanpa sepengetahuan pihak-pihak yang terlibat, kami berharap persoalan ini dapat diperiksa secara serius dan profesional. Jangan sampai tindakan oknum justru memperkeruh keadaan,” ujar salah satu warga yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan.
Informasi yang beredar menyebutkan, perekaman tersebut diduga dilakukan tanpa sepengetahuan seluruh pihak yang hadir dalam pembicaraan. Rekaman itu kemudian dikhawatirkan dapat digunakan atau dipublikasikan dalam konteks tertentu sehingga menimbulkan persepsi negatif terhadap masyarakat Desa Aboru.
“Yang paling penting sekarang adalah menjaga hubungan persaudaraan. Jangan sampai sebuah rekaman yang belum jelas konteksnya kemudian menimbulkan salah paham antara Aboru dan Hualoy,” katanya.
Menurutnya, apabila terdapat dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh oknum tertentu, penyelesaiannya harus ditempuh melalui mekanisme yang sesuai, bukan dengan menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
“Kami tidak ingin persoalan ini berkembang menjadi konflik baru. Semua pihak harus menahan diri dan memberikan ruang bagi proses klarifikasi agar fakta sebenarnya bisa diketahui,” ujarnya.
Selain persoalan perekaman, beredar pula informasi yang mengaitkan kasus tersebut dengan dinamika politik dalam proses pemilihan Raja yang berlangsung beberapa waktu lalu. Nama Demianus Usmany disebut-sebut dalam informasi yang beredar terkait dugaan publikasi rekaman bersama oknum yang disebut sebagai anggota TNI.
Namun, informasi tersebut masih berupa dugaan dan perlu diklarifikasi serta diverifikasi lebih lanjut. Karena itu, masyarakat diimbau tidak terburu-buru mengambil kesimpulan maupun menyebarluaskan informasi yang belum memiliki kepastian.
“Jangan sampai kepentingan tertentu mengorbankan persaudaraan adat yang sudah dibangun sejak lama. Aboru dan Hualoy harus tetap menjaga hubungan baik,” tambahnya.
Masyarakat berharap pemerintah dan pihak berwenang dapat mengambil langkah cepat untuk mengklarifikasi persoalan tersebut. Upaya dialog dan komunikasi dinilai penting untuk memastikan situasi tetap kondusif serta mencegah munculnya kesalahpahaman yang lebih luas.
Pada akhirnya, masyarakat menilai bahwa keamanan, ketenangan, dan persaudaraan adat harus ditempatkan di atas kepentingan kelompok maupun kepentingan politik tertentu. (VT-GM)
