Home » JANGAN BIARKAN MALUKU MENJADI KALIMANTAN BERIKUTNYA (Catatan Pencegahan dari Mahasiswa Ners)

Oleh: Brian Lewerissa S.Kep.

Mahasiswa Profesi Ners STIKES Pasapua Ambon

Di luar Maluku, dampaknya sudah lebih luas dan lebih dulu terjadi. Kita semua menyaksikan bagaimana dalam kepungan asap. Sekolah diliburkan. Bandara ditutup. Ribuan warga menderita ISPA akut. Kerugian ekonomi triliunan rupiah. Hutan yang menjadi paru-paru dunia, hilang menjadi abu.

Hari ini, tanda-tanda itu mulai terlihat di Maluku.

Kabut asap tipis yang dulu hanya kita lihat di berita tentang Sumatera dan Kalimantan, kini mulai kita hirup sendiri di Ambon dan beberapa kabupaten. Ini adalah peringatan dini. Ini bukan lagi ancaman dari luar, ini sudah berada di depan mata.

Sebagai mahasiswa profesi Ners, saya belajar bahwa dalam kesehatan ada prinsip utama: mencegah lebih baik daripada mengobati.

Prinsip yang sama seharusnya berlaku untuk lingkungan.

Kita tidak perlu menunggu Maluku menjadi seperti Kalimantan, dengan langit kuning selama berbulan-bulan, baru kita bertindak. Kita tidak perlu menunggu korban ISPA memenuhi IGD, baru kita membagikan masker.

Untuk itu, dengan segala hormat, kami menitipkan harapan kepada Bapak/Ibu pejabat di Maluku:

1. Pencegahan adalah Pengobatan Terbaik. Perkuat patroli dan pengawasan hutan di Maluku sebelum titik api meluas. Jangan tunggu besar.

2. Siapkan Sistem Kesehatan. Belajar dari Kalimantan, siapkan sejak dini posko kesehatan, cadangan masker, oksigen, dan edukasi untuk kelompok rentan: balita, ibu hamil, dan lansia.

3. Transparansi Data. Sampaikan secara jujur kualitas udara dan peta titik api kepada masyarakat Maluku, agar kami bisa melindungi diri.

Kalimantan adalah pelajaran mahal bagi Indonesia. Maluku jangan menjadi pengulangan.

Jika hutan Kalimantan adalah paru-paru dunia yang sudah terluka, maka hutan Maluku adalah paru-paru yang masih bisa kita jaga tetap sehat.

Mari kita jaga bersama, sebelum hutan benar-benar jadi abu, dan kita semua terlambat untuk berbuat.

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *