Home » PP PMKRI 2026–2028 Resmi Dilantik, Christian Rettob Tegaskan Kepemimpinan Berbasis Kebenaran dan Karya Nyata

Gapuramanise.com, Jakarta – Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PP PMKRI) Sanctus Thomas Aquinas Periode 2026–2028 resmi dilantik di Gedung Margasiswa I, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (28/9/2026).

Rangkaian pelantikan diawali dengan Misa Pelantikan, pemberkatan, dan perutusan para pengurus. Momentum tersebut menjadi penanda dimulainya kepengurusan baru di bawah kepemimpinan Christian A.D. Rettob selaku Mandataris MPA XXXIII/Formatur Tunggal/Ketua Presidium PP PMKRI Periode 2026–2028.

Dalam homilinya, Pastor Hans mengingatkan para pengurus agar momentum pelantikan tidak berhenti pada seremoni organisasi. Mandat yang telah diterima harus segera diterjemahkan dalam karya nyata di tengah masyarakat.

Menurutnya, PMKRI memiliki misi penting untuk ikut membangun keadaban publik yang lebih baik. Karena itu, para kader ditantang menghadirkan gerakan yang tidak hanya berbicara mengenai perubahan, tetapi mampu memberikan dampak nyata bagi kehidupan masyarakat.

Pesan tersebut kemudian menemukan relevansinya dalam pidato kebangsaan yang disampaikan Christian A.D. Rettob seusai prosesi pelantikan.

Kepemimpinan Bukan Sekadar Jabatan

Mengawali pidatonya, Christian mengangkat sebuah refleksi mengenai makna kepemimpinan.

“Leadership is not a position or title; it’s action and example.”

Menurut Christian, kepemimpinan tidak boleh berhenti pada posisi, jabatan ataupun gelar. Kepemimpinan harus diwujudkan melalui tindakan dan keteladanan.

Ia kemudian membawa refleksi tersebut pada pertanyaan klasik Pontius Pilatus kepada Yesus dalam kisah pengadilan politik di Yerusalem:

“Quid Veritas est?”

“Apa itu kebenaran?”

Bagi Christian, pertanyaan tersebut menjadi relevan ketika kepemimpinan dan kekuasaan dihadapkan pada pilihan antara mempertahankan kebenaran atau tunduk pada tekanan dan kepentingan.

Ia juga mengangkat kisah Sokrates sebagai refleksi tentang keberanian mempertahankan prinsip.

“Wafat Yesus di Kayu Salib, maupun kematian Sokrates di panggung Athena, secara tempus (waktu) dan locus (tempat) berbeda. Namun, keduanya memiliki keserupaan sikap sebagai seorang pemimpin yang revolusioner, yang menjaga nilai dan prinsip kebenaran.”

Christian menilai kepemimpinan dan kekuasaan pada dasarnya tidak dapat dipisahkan dari persoalan moral.

“Kepemimpinan dan kekuasaan tanpa memegang prinsip kebenaran di dalamnya akan menjadi otoriter dan super power.”

PMKRI dan Kepemimpinan Kristologis

Dalam konteks PMKRI, Christian menegaskan bahwa kepemimpinan tidak sekadar dimaknai sebagai kemampuan memengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan bersama.

Lebih dari itu, kepemimpinan PMKRI harus berakar pada apa yang ia sebut sebagai kepemimpinan Kristologis.

“Kepemimpinan di PMKRI menuntut gaya kepemimpinan yang Kristologis, yakni kepemimpinan yang berpusat pada pribadi, karakter, ajaran serta teladan Kristus.”

Kepemimpinan tersebut, lanjutnya, harus mampu melayani, menjadi teladan, memperjuangkan keadilan sosial dan berkomitmen pada kebenaran.

“Kepemimpinan Kristologis berarti menjadi teladan, menjadi ‘abdi kebenaran’, serta berkomitmen total pada terwujudnya keadilan sosial.”

Christian juga mengingatkan bahwa kepemimpinan semacam itu bukan jalan yang selalu mudah. Ia menggambarkannya sebagai jalan salib, jalan penderitaan, jalan penebusan, jalan pembebasan sekaligus jalan kemenangan.

“Ringkasnya, menjalankan kepemimpinan Kristologis berarti mampu melawan penindasan, melawan konspirasi kotor, maupun melawan aneka tawaran pragmatis.”

Menjadikan Nota Pastoral KWI sebagai Pijakan Gerakan

Dalam pidato kebangsaannya, Christian juga menegaskan bahwa arah gerakan PMKRI selama dua tahun kepemimpinannya akan berpijak pada nasihat dan koreksi kebangsaan yang termuat dalam Nota Pastoral Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) 2026.

Ia menyoroti berbagai persoalan yang dihadapi bangsa, mulai dari krisis sosial, ekonomi, politik, budaya, teknologi hingga ekologi.

Menurut Christian, berbagai persoalan tersebut pada akhirnya bermuara pada persoalan martabat manusia, etika publik, krisis nurani dan lemahnya kualitas kepemimpinan.

Ia juga menyoroti ketimpangan ekonomi, kemiskinan, eksploitasi pekerja informal, persoalan lingkungan, deforestasi, konflik agraria serta perubahan iklim.

Dalam pidatonya, Christian mengatakan:

“Krisis multi dimensi sebagaimana yang digambarkan terdahulu merupakan panggilan darurat bagi seluruh elemen bangsa, termasuk kader PMKRI.”

Menurutnya, persoalan tersebut tidak dapat dijawab melalui respons yang parsial dan aksidental.

“Untuk menghadapi hal ini, tidaklah cukup dengan respon parsial dan aksidental, melainkan perlu dilakukan pendekatan holistik dan substansial, yang melibatkan semua pemangku kepentingan; pemerintah, masyarakat sipil, akademisi, media, institusi keagamaan, termasuk Gereja Katolik Indonesia.”

Dalam kerangka tersebut, Christian melihat PMKRI memiliki ruang untuk mengambil bagian dalam persoalan kebangsaan melalui kerja organisasi, kaderisasi, advokasi dan penguatan gerakan masyarakat sipil.

Kader PMKRI Diminta Menjadi Garam dan Terang

Christian juga menekankan bahwa nilai-nilai kekatolikan harus menjadi fondasi dalam gerakan PMKRI.

Tema pelantikan “Kepemimpinan Transformatif yang Berakar pada Nilai Kekatolikan Menuju PMKRI Paripurna”, menurutnya, harus menjadi spirit bagi kepengurusan baru untuk bekerja secara inovatif, transformatif, visioner, adaptif dan kontekstual.

Ia mengatakan tema tersebut juga mengandung ajakan agar kader PMKRI terus membatinkan nilai cinta kasih, persaudaraan dan solidaritas.

“Itulah panggilan profetis dan kenabian PMKRI. Menjadi PMKRI berarti berani bersaksi tentang kebenaran dan kebajikan. Menjadi garam dan terang dunia. Menjadi mata bagi yang buta, menjadi mulut dan suara bagi yang bisu.”

Penguatan Organisasi dan Kaderisasi

Sebagai Mandataris MPA XXXIII/Formatur Tunggal/Ketua Presidium PP PMKRI, Christian menyebut momentum pelantikan sebagai sebuah tanggung jawab besar.

Ia menggunakan istilah Jerman “Gabe und Auf Gabe”, yang dimaknainya sebagai rahmat sekaligus tanggung jawab.

“Momentum pelantikan ini merupakan suatu ‘Gabe und Auf Gabe’, suatu rahmat sekaligus menuntut tanggungjawab.”

Karena itu, selama satu periode kepengurusan, Christian bersama jajaran pengurus akan berfokus pada pembenahan dan penguatan internal organisasi sekaligus membangun basis gerakan pada aspek eksternal-kemasyarakatan.

Salah satu perhatian utama adalah bidang pendidikan dan kaderisasi.

Christian menegaskan bahwa kaderisasi merupakan nadi PMKRI. Untuk itu, PP PMKRI akan mengembangkan ruang kaderisasi nonformal yang terstruktur dan berkelanjutan.

Sejumlah kelas kompetensi akan diarahkan pada kebutuhan kader, antara lain jurnalistik, advokasi, hukum dan HAM, politik, serta entrepreneurship.

Langkah tersebut ditujukan untuk memperkuat sumber daya kader agar memiliki kapasitas yang relevan dengan tantangan zaman.

Kembangkan Campus Movement

Di bidang hubungan dengan perguruan tinggi, PP PMKRI Periode 2026–2028 juga akan mengembangkan konsep Campus Movement, yang lahir dari kampanye PMKRI Back to Campus.

Melalui gerakan tersebut, kader PMKRI didorong untuk tidak hanya berorientasi pada prestasi epistemik atau akademik, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap dinamika kemahasiswaan dan kehidupan kampus.

Dengan demikian, kampus tidak hanya ditempatkan sebagai ruang akademik, tetapi juga sebagai ruang pembentukan kesadaran sosial, intelektual dan kepemimpinan kader.

Butuh Kolaborasi Banyak Pihak

Christian menyadari bahwa agenda kepengurusan selama dua tahun ke depan tidak dapat dijalankan sendirian.

Ia mengajak seluruh unsur PMKRI, baik Anggota Penyatu maupun Anggota Biasa, serta pemerintah, Cipayung Plus dan berbagai pemangku kepentingan untuk mendukung dan berkolaborasi dalam kerja-kerja organisasi.

“Oleh karenanya dalam menjawab semua tuntutan program ini serta memaksimalkan kerja-kerja organisasi ke depan, maka dibutuhkan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak.”

Di akhir pidatonya, Christian menyampaikan apresiasi kepada seluruh anggota PMKRI yang telah memberikan kepercayaan kepadanya untuk memimpin organisasi tersebut selama periode 2026–2028.

Ia juga meminta dukungan seluruh elemen perhimpunan agar kepemimpinannya bersama jajaran pengurus dapat membawa semangat baru dalam kerja organisasi.

Pidato tersebut kemudian ditutup dengan refleksi mengenai beratnya tanggung jawab seorang pemimpin:

“Leiden ist Leidjen” Memimpin berarti Menderita.

Bagi Christian, pesan tersebut menjadi penegasan bahwa kepemimpinan di PMKRI bukan sekadar mandat untuk memegang jabatan, melainkan kesediaan untuk bekerja, melayani, mempertahankan prinsip, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat. (VT-GM) 

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *