
Gapuramanise.com, Ambon – Semarak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia turut terasa di lingkungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Pattimura (Unpatti). Mengusung semangat “Indonesia Berdaulat dan Makmur”, FKIP Unpatti menggelar berbagai perlombaan yang melibatkan jajaran pegawai di halaman kantor fakultas.
Sejumlah perlombaan yang digelar antara lain lomba banding nyanyi kategori pria dan wanita, memasukkan paku ke dalam botol, tendangan penalti pria dan wanita, serta lomba oper kain sarung. Berbagai kegiatan tersebut berlangsung dalam suasana penuh keakraban dan keceriaan.
Dekan FKIP Unpatti, Prof. Dr. Izaak Hendrik Wenno, S.Pd., M.Pd., mengatakan kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi bagian dari perayaan HUT Kemerdekaan, tetapi juga menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi dan membangun kebersamaan di antara para pegawai.
Menurut Wenno, semangat kebersamaan tersebut sejalan dengan moto FKIP Ceria yang merupakan akronim dari Cerdas, Edukatif, Religius, Integritas, dan Amanah.
“Kegiatan ini dibuat sebagai ajang silaturahmi untuk tetap merajut tali kasih di antara para pegawai, menjaga sinergitas di lingkungan fakultas, serta lebih memperkuat sense of belonging antarpegawai,” ujar Wenno.
Di balik kemeriahan perayaan kemerdekaan, Wenno turut menyampaikan pandangannya mengenai tantangan pembangunan pendidikan di Indonesia, khususnya di wilayah kepulauan seperti Maluku.
Sebagai pimpinan fakultas yang bergerak di bidang pendidikan, ia menilai makna Indonesia yang berdaulat dan makmur harus diwujudkan pula melalui pembangunan pendidikan yang merata dan berkeadilan.
Wenno berharap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dapat mendorong pembangunan sektor pendidikan secara terintegrasi, mulai dari tingkat pusat hingga daerah. Menurutnya, karakteristik Indonesia sebagai negara kepulauan harus menjadi pertimbangan penting dalam menentukan arah kebijakan pembangunan pendidikan.
“Secara khusus, gugusan kepulauan harus menjadi skala prioritas dalam kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto,” katanya.
Ia menilai masih terdapat sejumlah persoalan mendasar yang dihadapi dunia pendidikan di Maluku. Persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan proses pembelajaran, tetapi juga menyangkut ketersediaan infrastruktur dan akses terhadap teknologi.
Keterisolasian informasi, keterbatasan jaringan internet dan teknologi, kondisi infrastruktur jalan, fasilitas bangunan sekolah, hingga kesejahteraan tenaga pendidik disebut masih menjadi pekerjaan rumah yang membutuhkan perhatian serius pemerintah.
“Dunia pendidikan harus ditunjang dari sisi sarana dan prasarana pendukung demi mengoptimalkan pengajaran kepada siswa maupun mahasiswa,” tegasnya.
Menurut Wenno, pemerataan fasilitas pendidikan menjadi bagian penting dalam menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Karena itu, pembangunan pendidikan di daerah kepulauan tidak dapat disamakan sepenuhnya dengan wilayah yang memiliki akses infrastruktur lebih baik.
Ia berharap berbagai persoalan tersebut dapat menjadi perhatian dalam agenda pembangunan nasional sehingga cita-cita mewujudkan Indonesia yang berdaulat dan makmur tidak hanya dirasakan oleh masyarakat di pusat-pusat perkotaan, tetapi juga oleh masyarakat di wilayah kepulauan dan daerah tertinggal.
“Harapannya, pembangunan pendidikan dapat dilakukan secara adil dan terintegrasi dari hulu hingga hilir, dari pusat hingga daerah,” pungkas Wenno.
Rangkaian kegiatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di FKIP Unpatti pun menjadi momentum yang tidak hanya menghadirkan semangat perayaan, tetapi sekaligus memperkuat kekeluargaan di lingkungan fakultas dan menyuarakan pentingnya pemerataan pembangunan pendidikan bagi seluruh masyarakat, khususnya di Maluku. (LW-GM)
