Home » Saadiah Masuk Bursa Gubernur Maluku,Ini Kata Akademisi & SEM-UKIM

Gapuramanise.com, Ambon – Nama Saadiah Uluputty mulai menjadi salah satu figur yang diperbincangkan dalam dinamika kepemimpinan politik Maluku. Pengalamannya sebagai legislator di tingkat daerah maupun nasional dinilai menjadi modal yang patut diperhitungkan apabila dirinya masuk dalam kontestasi kepemimpinan daerah.

Namun, peluang seorang figur untuk tampil dalam kontestasi politik tidak semata-mata ditentukan oleh pengalaman atau popularitas. Rekam jejak, kapasitas, jaringan politik, kinerja, serta sejauh mana seorang figur memperoleh kepercayaan masyarakat tetap menjadi faktor penting yang akan menentukan.

Akademisi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Pattimura, Said Lestaluhu, menilai ruang politik harus terbuka bagi politisi yang memiliki kompetensi dan rekam jejak yang telah teruji.

Dalam konteks Maluku, menurut Said, terdapat sejumlah figur yang telah memiliki pengalaman sebagai pejabat publik. Salah satunya adalah Saadiah Uluputty yang telah beberapa periode dipercaya menjadi anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Maluku.

“Memang soal kepemimpinan politik ini kita harus memberikan kesempatan seluas-luasnya, terutama kepada politisi yang memiliki kompetensi dan rekam jejak. Mereka sudah memiliki pengalaman menjadi pejabat publik,” kata Said dalam wawancara dengan Gapuramanise.com, Senin, (17/08/2026).

Menurut Said, pengalaman panjang Saadiah di dunia politik memberikan nilai tambah tersendiri. Selain pengalaman menjalankan fungsi legislasi, perjalanan tersebut juga membuat seorang politisi memiliki kesempatan membangun jaringan yang lebih luas, baik di daerah maupun di tingkat nasional.

“Untuk konteks Maluku banyak yang sudah teruji, misalnya Ibu Saadiah Uluputty. Beliau sudah beberapa periode menjadi anggota DPR RI Dapil Maluku. Artinya beliau sudah punya pengalaman, punya jaringan yang luas dan itu memberikan nilai tambah sebagai calon pemimpin untuk bagaimana melakukan perubahan terhadap kondisi pemerintahan dan pembangunan,” ujarnya.

Pengalaman Politik Menjadi Modal

Saadiah bukanlah pendatang baru dalam politik Maluku. Sebelum berada di DPR RI, ia telah menjalani pengalaman politik di tingkat daerah.

Lintasan tersebut membuat Saadiah memiliki pengalaman memahami persoalan Maluku dari dua sisi, yakni pemerintahan dan politik di tingkat daerah serta dinamika kebijakan di tingkat nasional.

Bagi Said, pengalaman politik yang berlangsung dalam beberapa periode juga dapat dibaca sebagai bentuk kepercayaan politik dari masyarakat.

“Kalau seseorang sudah diberikan jabatan dan kepercayaan satu, dua, tiga sampai empat periode, itu berarti luar biasa. Ada kepercayaan politik, ada trust,” katanya.

Meski demikian, Said menegaskan bahwa pengalaman tersebut tetap bukan jaminan otomatis seseorang akan memenangkan kontestasi kepala daerah.

Peralihan dari posisi legislator menuju kepala daerah, menurutnya, membutuhkan momentum politik sekaligus kemampuan seorang figur mengonversi pengalaman, jaringan, dan rekam jejak menjadi kepercayaan pemilih.

“Peralihan status dari anggota DPR ke kepala daerah ini hanyalah soal waktu. Setiap waktu pasti punya momentum,” ujarnya.

Berkaca dari Hendrik Lewerissa

Perjalanan Hendrik Lewerissa yang sebelumnya merupakan anggota DPR RI sebelum terpilih sebagai Gubernur Maluku juga menjadi salah satu contoh bahwa pengalaman politik nasional dapat menjadi modal menuju kepemimpinan daerah.

Said melihat terdapat persamaan sekaligus perbedaan antara Hendrik dan Saadiah. Keduanya sama-sama memiliki pengalaman sebagai anggota DPR RI, tetapi masing-masing memiliki karakter, perjalanan politik, dan modal sosial yang berbeda.

“Pak Hendrik mantan DPR RI, Ibu Saadiah juga DPR RI. Tetapi setiap orang punya nilai, punya apa yang melekat sebagai karakter,” katanya.

Dalam konteks Saadiah, faktor pengalaman sebagai perempuan yang telah bertahan dalam arena politik nasional selama beberapa periode menjadi salah satu aspek yang menarik untuk dilihat.

Menurut Said, hal tersebut bukan berarti gender menjadi ukuran utama dalam menentukan kelayakan seorang pemimpin. Justru kapasitas dan kapabilitas tetap harus menjadi dasar penilaian.

Perempuan dan Ruang Kepemimpinan

Ketua Senat FISIP Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM), Reymondus Fautngilyanan, juga melihat bahwa figur perempuan memiliki ruang yang sama untuk masuk dalam kontestasi politik.

Menurut Reymondus, perempuan di Maluku layak diberikan kesempatan yang luas untuk menunjukkan kemampuan dan kepemimpinannya.

Dalam konteks tersebut, munculnya nama Saadiah Uluputty dinilai sebagai bagian dari dinamika demokrasi yang patut mendapat ruang untuk dibicarakan.

Bagi Reymondus, persoalan utama bukan apakah seorang calon laki-laki atau perempuan, tetapi apakah figur tersebut memiliki kapasitas dan kemampuan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.

“Semua layak, apalagi perempuan di Maluku,” demikian pandangannya.

Pandangan tersebut menempatkan Saadiah bukan semata-mata sebagai representasi perempuan, tetapi sebagai seorang politisi yang memiliki perjalanan dan pengalaman yang dapat dinilai publik.

Bukan Karena Perempuan, tetapi Karena Rekam Jejak

Said menilai perdebatan mengenai peluang perempuan dalam politik seharusnya tidak berhenti pada persoalan gender.

Menurutnya, seseorang yang memiliki kapasitas dan kapabilitas yang telah teruji harus memperoleh kesempatan yang sama untuk masuk dalam kontestasi.

“Kalau saya punya pandangan, seseorang yang bisa menjadi sesuatu di politik itu tidak berbasis pada nilai-nilai gender. Sepanjang dia punya kapasitas, kapabilitas yang sudah teruji, maka dia layak sebagai figur untuk menjadi pemimpin daerah,” tegasnya.

Dengan perspektif tersebut, peluang Saadiah seharusnya dibaca berdasarkan keseluruhan perjalanan politiknya, bukan hanya karena dirinya merupakan perempuan.

Pengalaman sebagai legislator, masa pengabdian, jaringan politik, kemampuan memperjuangkan kepentingan daerah, hingga penerimaan masyarakat menjadi bagian dari rekam jejak yang nantinya dapat dinilai.

Said juga menyebut sejumlah politisi perempuan Maluku lainnya, termasuk Mercy Barends, sebagai contoh bahwa perempuan telah memiliki ruang dalam politik daerah.

“Bukan soal gender, tetapi bagaimana masyarakat sekarang sudah melek politik dan mereka sudah tahu bagaimana memilih orang yang benar-benar layak untuk dipercaya dengan segala kapasitasnya,” katanya.

Masyarakat yang Menentukan

Meski memiliki pengalaman politik yang panjang, Saadiah tetap harus menghadapi penilaian masyarakat apabila nantinya benar-benar masuk dalam kontestasi kepemimpinan daerah.

Said mengatakan politik pada akhirnya berbicara mengenai kepercayaan. Seorang figur dapat memiliki pengalaman dan jaringan yang luas, tetapi masyarakat tetap memiliki penilaian sendiri terhadap kinerja dan rekam jejaknya.

Berbagai janji politik, program, maupun keputusan yang pernah dilakukan seorang politisi akan menjadi catatan bagi pemilih.

Karena itu, kontestasi politik idealnya tidak hanya menjadi persaingan antarfigur, tetapi juga menjadi ruang untuk menguji gagasan mengenai masa depan Maluku.

“Demokrasi di tingkat lokal ini butuh kontestasi. Dengan begitu orang akan mengajukan gagasan-gagasan yang bisa menjamin bagaimana ada solusi-solusi dalam membangun daerah, pelayanan umum kepada masyarakat,” jelas Said.

Menurutnya, masyarakat nantinya dapat membandingkan setiap figur berdasarkan “rapor” politik masing-masing.

Semakin Banyak Pilihan, Semakin Terbuka Penilaian

Reymondus berpandangan bahwa semakin banyak figur yang muncul, semakin terbuka pula ruang bagi masyarakat untuk melakukan penilaian.

Saadiah, dengan pengalaman politik yang telah dimilikinya, dapat menjadi salah satu figur yang dibandingkan dengan calon-calon lainnya apabila kontestasi tersebut benar-benar terbentuk.

Sementara Said menilai perkembangan teknologi informasi juga membuat masyarakat semakin mudah menelusuri perjalanan politik seorang calon.

“Semakin banyak calon itu semakin baik, karena dengan itu kita makin mampu melakukan tracking terhadap track record yang selama ini mereka sudah lalui,” katanya.

Keterbukaan informasi tersebut membuat rekam jejak seorang politisi semakin sulit dipisahkan dari penilaian publik. Apa yang dilakukan selama menjalankan jabatan publik dapat menjadi bahan evaluasi ketika figur tersebut kembali meminta kepercayaan masyarakat.

Saadiah dan Momentum Politik Maluku

Dengan pengalaman sebagai legislator di tingkat daerah dan nasional, Saadiah Uluputty memiliki sejumlah modal yang dapat menjadi pertimbangan dalam membaca dinamika politik Maluku.

Namun, apakah modal tersebut cukup untuk membawanya menuju kepemimpinan daerah tetap menjadi pertanyaan yang hanya dapat dijawab melalui proses politik dan penilaian masyarakat.

Pengalaman Hendrik Lewerissa menunjukkan bahwa seorang anggota DPR RI dapat bertransformasi menjadi kepala daerah ketika momentum politik, dukungan, rekam jejak, dan kepercayaan pemilih bertemu.

Dalam konteks Saadiah, kemungkinan serupa terbuka sebagai bagian dari dinamika politik. Tetapi keputusan untuk maju, dukungan politik, konfigurasi pasangan, koalisi partai, hingga respons masyarakat akan menjadi faktor yang menentukan.

Pada akhirnya, nama Saadiah Uluputty berada dalam ruang yang terbuka untuk dinilai bersama figur-figur lainnya.

Bukan semata karena ia perempuan, bukan pula hanya karena telah lama menjadi anggota DPR RI, tetapi karena perjalanan politiknya menyediakan rekam jejak yang dapat ditelusuri dan dinilai masyarakat.

Dan jika kontestasi kepemimpinan Maluku kembali menghadirkan banyak pilihan, masyarakatlah yang akan menentukan siapa yang paling layak memperoleh kepercayaan untuk memimpin daerah ini.

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *