
Artikel ini dirangkum dari diskusi ASSA Podcast Eps 16 bersama Pak Martin Kisna (Wasekjen Laskar Ampera / Angkatan ’66) dan Pak Fransiskus Gian (Pembina Pusat Studi Papua FISIPOL UKI).
Menjaga Indonesia bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan juga seluruh elemen masyarakat, termasuk generasi muda. Semangat kebangsaan perlu dibangun melalui pemahaman sejarah, pendidikan yang berkualitas, serta kemampuan menyikapi dinamika politik dan sosial secara kritis. Pesan tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam ASSA Podcast Episode 16 bertajuk “Bersama Menjaga Indonesia” yang menghadirkan Martin Kisna, Wakil Sekretaris Jenderal Laskar Ampera Angkatan ’66, dan Fransiskus Giang, Ketua Program Studi Ilmu Politik FISIPOL Universitas Kristen Indonesia (UKI).
Diskusi tersebut mempertemukan perspektif lintas generasi mengenai tantangan menjaga persatuan bangsa di tengah perkembangan teknologi digital, perubahan sosial, dan dinamika politik nasional.
Belajar dari Sejarah, Merawat Persatuan
Martin Kisna menekankan pentingnya memahami sejarah sebagai landasan dalam menjaga keutuhan bangsa. Menurutnya, Indonesia terbentuk melalui semangat kebersamaan masyarakat yang memiliki latar belakang suku, agama, dan budaya yang beragam. Karena itu, Pancasila harus tetap menjadi dasar bersama yang mempersatukan seluruh elemen bangsa.
Ia juga mengingatkan generasi muda agar tidak menjadikan sejarah sekadar slogan. Pemahaman terhadap perjalanan bangsa diperlukan untuk mengenali persoalan dan menentukan langkah yang tepat dalam menghadapi tantangan masa kini.
Pengalaman Angkatan ’66, menurut Martin, menunjukkan bahwa gerakan pemuda memiliki peran penting dalam perjalanan politik Indonesia. Namun, semangat menjaga bangsa tidak berhenti pada pengalaman masa lalu. Generasi muda saat ini tetap memiliki tanggung jawab untuk mengawal kepentingan masyarakat, khususnya persoalan kesejahteraan dan stabilitas kehidupan berbangsa.
Pendidikan dan Nalar Kritis sebagai Benteng Bangsa
Dari perspektif akademisi, Fransiskus Giang menilai bahwa pendidikan memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran kebangsaan. Ia mengingatkan bahwa kebangkitan nasional Indonesia tidak dapat dilepaskan dari tumbuhnya kesadaran nasionalisme di kalangan masyarakat terdidik.
Dalam konteks saat ini, tantangan tersebut semakin kompleks karena perkembangan teknologi digital mempercepat penyebaran informasi dan pembentukan opini publik. Informasi yang beredar tidak selalu disertai konteks yang utuh sehingga masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk memeriksa kebenaran dan menilai informasi secara rasional.
Menurut Fransiskus, lembaga pendidikan tidak cukup hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga harus membentuk kemampuan berpikir logis dan rasional. Dengan kemampuan tersebut, masyarakat diharapkan tidak mudah terjebak dalam informasi yang menyesatkan maupun dinamika politik yang dibangun tanpa dasar pemikiran yang kuat.
Menyampaikan Aspirasi dengan Gagasan dan Solusi
Pembahasan juga menyoroti cara generasi muda menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah. Fransiskus menilai bahwa demonstrasi merupakan salah satu instrumen demokrasi, tetapi sebaiknya tidak menjadi pilihan pertama tanpa didahului upaya komunikasi dan penyampaian aspirasi melalui jalur lain.
Audiensi, diskusi publik, seminar, forum diskusi kelompok, serta pemanfaatan saluran pengaduan digital dapat menjadi ruang untuk menyampaikan kritik sekaligus menawarkan alternatif kebijakan.
Ia menekankan bahwa gerakan mahasiswa dan masyarakat sipil perlu memiliki gagasan yang jelas, tuntutan yang terukur, serta solusi yang dapat dipertanggungjawabkan. Kritik yang hanya berisi kemarahan tanpa usulan perbaikan berisiko kehilangan substansi. Sementara itu, tindakan kekerasan, vandalisme, dan penjarahan tidak dapat disamakan dengan penyampaian aspirasi secara demokratis.
Dalam pembahasannya mengenai kerusuhan Agustus 2025 dan dinamika yang berlanjut pada 2026, Fransiskus juga menyoroti risiko penyebaran informasi yang tidak utuh dan pembentukan opini publik secara masif. Karena itu, generasi muda perlu memahami persoalan secara menyeluruh sebelum terlibat dalam suatu gerakan.
Indonesia Emas 2045: Pangan, Pendidikan, dan Kesejahteraan
Menjelang Indonesia Emas 2045, kedua narasumber menyoroti pentingnya pembangunan sumber daya manusia. Martin Kisna menempatkan ketahanan pangan sebagai salah satu fondasi utama. Menurutnya, ketersediaan pangan yang memadai diperlukan untuk mendukung pertumbuhan generasi yang sehat dan berkualitas.
Ia juga menyoroti pentingnya dukungan terhadap petani, penguatan produksi pangan, serta pengembangan koperasi yang dapat membantu menyediakan kebutuhan pertanian dan menyalurkan hasil produksi. Dalam pandangannya, kritik terhadap kebijakan perlu disertai solusi yang konkret dan dapat diterapkan.
Sementara itu, Fransiskus Giang menekankan perlunya pemerataan akses pendidikan, termasuk pendidikan tinggi. Menurutnya, kualitas pendidikan tidak boleh hanya dinikmati oleh kelompok masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi lebih baik. Perbaikan akses dan mutu pendidikan menjadi bagian penting dalam membangun kesejahteraan nasional.
Ia juga mengingatkan bahwa peningkatan produksi pangan perlu diikuti pembenahan distribusi dan tata kelola pasar. Persoalan harga yang tinggi di tengah ketersediaan produksi perlu ditelaah, termasuk kemungkinan adanya hambatan distribusi atau praktik kartelisasi.
Dalam bidang energi, Fransiskus turut menekankan pentingnya kehati-hatian dalam transisi menuju energi baru dan terbarukan. Indonesia perlu mengembangkan kemampuan teknologi dan inovasi dalam negeri agar proses transisi energi tidak menimbulkan ketergantungan berlebihan terhadap teknologi maupun pembiayaan dari luar negeri.
Pesan untuk Generasi Muda
Pada bagian penutup, Martin Kisna mengingatkan bahwa menjaga Indonesia merupakan tanggung jawab bersama. Generasi muda perlu memahami persoalan secara akademis, mencari penyelesaian, serta tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi, terutama di tengah perkembangan kecerdasan buatan dan media sosial.
Fransiskus Giang menambahkan bahwa kemampuan menyampaikan pendapat harus dibangun melalui etika, kredibilitas pengetahuan, logika, dan gagasan yang jelas. Kebebasan berpendapat perlu disertai tanggung jawab untuk menawarkan solusi dan mempertimbangkan dampak dari setiap tindakan.
Diskusi dalam ASSA Podcast Episode 16 tersebut menegaskan bahwa menjaga Indonesia membutuhkan kolaborasi antargenerasi. Pengalaman generasi terdahulu perlu dipertemukan dengan kreativitas dan pemikiran kritis generasi muda. Dengan berpegang pada Pancasila, memperkuat pendidikan, menjaga ketahanan pangan, dan membangun budaya demokrasi yang rasional serta berorientasi pada solusi, generasi muda diharapkan dapat mengambil bagian nyata dalam mewujudkan Indonesia yang lebih maju pada 2045.
