Home » Konflik Lisabata-Patahuwe, Saadiah Ingatkan Besarnya Kerugian Sosial

Gapuramanise.com, Ambon – Perdamaian yang terganggu akibat konflik sosial selalu meninggalkan kerugian yang panjang bagi masyarakat. Bukan hanya kerusakan yang terlihat secara fisik, tetapi juga aktivitas ekonomi yang terhenti, hubungan persaudaraan yang renggang hingga trauma yang dapat bertahan dalam waktu lama.

Kondisi inilah yang menjadi perhatian Anggota DPR RI Daerah Pemilihan Maluku, Saadiah Uluputty, menyikapi konflik sosial yang terjadi di Kecamatan Taniwel, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), khususnya antara warga Negeri Lisabata dan Patahuwe.

Saadiah mengingatkan agar persoalan tersebut tidak hanya dilihat dari sisi gangguan keamanan. Menurutnya, konflik memiliki konsekuensi yang jauh lebih luas terhadap kehidupan masyarakat dan keberlangsungan pembangunan.

“Konflik membutuhkan biaya yang sangat besar, baik dalam konteks sosial, psikologis maupun ekonomi, karena sifatnya destruktif dan menguras sumber daya produktif,” ujar Saadiah kepada Gapuramanise.com, Minggu (13/9/2026).

Menurutnya, konflik dapat memaksa pemerintah mengeluarkan anggaran besar untuk melakukan penanganan dan pemulihan. Bahkan, dana yang semestinya digunakan bagi sektor produktif berpotensi dialihkan untuk menangani berbagai dampak yang muncul.

Sektor pendidikan, kesehatan dan pembangunan infrastruktur, kata Saadiah, merupakan bidang yang dapat terdampak apabila pemerintah harus memusatkan perhatian dan sumber daya untuk memulihkan kondisi pascakonflik.

Ia menegaskan, tidak ada keuntungan yang dapat diperoleh masyarakat dari sebuah konflik. Sebaliknya, apa yang dibangun dalam waktu bertahun-tahun dapat mengalami kerusakan dalam waktu yang singkat.

Berbagai fasilitas dan aset masyarakat, mulai dari rumah warga, fasilitas umum, sarana ibadah, infrastruktur hingga kawasan pertanian, membutuhkan biaya besar apabila harus dipulihkan kembali.

Dampaknya juga langsung dirasakan oleh masyarakat yang menggantungkan kehidupan melalui aktivitas ekonomi sehari-hari.

“Waktu, tenaga dan konsentrasi masyarakat akhirnya habis untuk menghadapi konflik. Aktivitas kerja, perdagangan dan berbagai kegiatan produktif ikut terganggu,” jelasnya.

Luka Konflik Tidak Selalu Terlihat

Selain persoalan ekonomi dan kerusakan fisik, Saadiah menyoroti dampak psikologis yang dialami masyarakat ketika konflik terjadi.

Menurutnya, ada luka yang tidak selalu dapat dilihat secara kasatmata. Trauma, kecemasan, stres dan berbagai tekanan psikologis dapat tetap dirasakan warga, bahkan ketika kondisi keamanan telah kembali normal.

Konflik juga berpotensi menghancurkan kepercayaan yang selama ini dibangun dalam kehidupan masyarakat, baik antarkeluarga, antarkelompok maupun antarwarga.

“Kepercayaan yang hilang tidak mudah dipulihkan. Bisa membutuhkan waktu bertahun-tahun, bahkan lintas generasi,” tekannya.

Saadiah mengatakan, perpecahan yang muncul akibat konflik dapat melahirkan rasa saling curiga dan melemahkan persatuan masyarakat.

Padahal, energi yang digunakan untuk menghadapi pertikaian seharusnya dapat diarahkan kepada kegiatan yang lebih bermanfaat, seperti membangun kerja sama, mengembangkan ekonomi lokal dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Konflik menjadi mahal karena bukan hanya menghancurkan apa yang sudah ada saat ini, tetapi juga merampas potensi masa depan,” tegasnya.

Sebagai Anggota DPR RI Komisi XIII yang memiliki mitra kerja di bidang hukum dan HAM, Saadiah menilai konflik sosial yang terjadi di Maluku harus menjadi perhatian serius seluruh pihak.

Menurutnya, penyelesaian persoalan tidak boleh hanya dilakukan setelah konflik berkembang menjadi kekerasan.

Langkah pencegahan harus dilakukan sejak awal melalui pemetaan persoalan, memahami akar konflik, memperkuat komunikasi serta membuka ruang dialog di tengah masyarakat.

Selain itu, penegakan hukum juga harus berjalan untuk memberikan kepastian dan mencegah persoalan yang sama kembali terjadi.

“Ini menjadi catatan penting untuk kita diskusikan dan kita urai persoalannya, sehingga kejadian-kejadian seperti ini tidak terus berulang,” ujarnya.

Warga Diminta Mengutamakan Kedamaian

Saadiah juga menyampaikan keprihatinannya terhadap masyarakat yang terdampak konflik di Kecamatan Taniwel.

Ia mengajak warga Negeri Lisabata dan Patahuwe untuk tidak terpancing melakukan tindakan yang dapat memperluas situasi dan memperbesar dampak konflik.

“Saya ikut dan turut prihatin yang mendalam atas kejadian yang menimpa basudara yang berkonflik di Kecamatan Taniwel, khususnya Desa Lisabata dan Desa Patahuwe. Semoga kita semua diberi kemampuan untuk menahan diri dan menjaga kedamaian,” imbuhnya.

Ia berharap tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat dan generasi muda dapat mengambil peran untuk meredakan situasi.

Menurut Saadiah, dialog dan musyawarah harus menjadi jalan yang diutamakan dalam menyelesaikan setiap persoalan yang muncul di tengah masyarakat.

Di saat yang sama, masyarakat juga diminta memberikan dukungan terhadap aparat keamanan dalam menjaga kondisi agar tetap aman dan memastikan proses hukum berjalan sesuai ketentuan.

Saadiah turut memberikan perhatian terhadap penggunaan media sosial di tengah situasi konflik.

Ia meminta masyarakat tidak menyebarkan foto, video maupun informasi yang belum terverifikasi, terutama konten yang dapat memancing emosi dan memperkeruh keadaan.

“Satu yang bisa kita semua lakukan adalah tetap bijak dalam bermedia sosial. Jangan menyebarkan konten provokatif yang justru memperbesar masalah,” cetusnya.

Menurut Saadiah, masyarakat Maluku memiliki kekuatan besar dalam nilai adat, agama dan persaudaraan yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan bersama.

Nilai-nilai tersebut, katanya, harus terus dijaga sebagai fondasi untuk merawat perdamaian dan memperkuat hubungan antarsesama.

“Mari katong saling mengingatkan, menjaga persatuan dan harmoni sosial, saling membantu korban, serta bersama-sama menjaga Maluku tetap aman dan damai. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa dan Pelindung senantiasa menjaga Maluku tercinta,” pungkasnya. (LMW-GM) 

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *