
Gapuramanise.com, Ambon – Peristiwa Kudatuli (Kerusuhan 27 Juli 1996) kembali direfleksikan dalam sebuah diskusi yang menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang. Diskusi tersebut tidak hanya mengulas sejarah perjuangan demokrasi, tetapi juga menyoroti peran generasi muda, pentingnya ideologi yang diwujudkan dalam tindakan, serta makna Kudatuli dalam perjalanan bangsa.
Ketua KNPI Maluku, Arman Kalean, menekankan pentingnya peran pemuda dalam menghadapi bonus demografi Indonesia yang mencapai sekitar 62 juta jiwa. Menurutnya, generasi muda harus mampu memanfaatkan ruang digital sebagai sarana perjuangan dan pendidikan politik.
Ia mengkritik fenomena organisasi kepemudaan yang dinilai belum serius membangun komunikasi dengan anak muda, bahkan hal sederhana seperti mengikuti akun media sosial organisasi pun sering diabaikan. Di sisi lain, pemerintah dinilai telah menguasai ruang digital melalui berbagai strategi komunikasi.
“Anak muda tidak harus menjadi anggota partai untuk mengkritik pemerintah. Kalau punya gagasan yang baik, maka kritik itu bisa disampaikan demi kepentingan bangsa,” ujarnya.
Arman juga menyinggung isu Carbon Chapter yang menurutnya belum banyak mendapat perhatian dari kalangan muda. Ia mengingatkan agar generasi muda tidak hanya larut dalam euforia sebuah isu, tetapi juga memikirkan arah dan keinginannya.
Sementara itu, Pdt. Daniel Wattimanela menegaskan bahwa ideologi harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Mengutip ayat Alkitab, ia menyampaikan bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati, yang menurutnya sejalan dengan prinsip bahwa ideologi tanpa perjuangan juga akan kehilangan maknanya.
Ia berharap PDI Perjuangan tetap hidup dan mampu berada dalam atmosfer kekuasaan agar dapat memperjuangkan kepentingan rakyat melalui kebijakan yang berpihak kepada masyarakat.
Menurutnya, anggota legislatif harus berjuang bukan hanya untuk daerah pemilihannya, tetapi juga untuk konstituen, partai, dan seluruh masyarakat. Ia juga menekankan pentingnya menghidupkan fungsi penyeimbang dalam demokrasi serta menjadikan partai sebagai berkat bagi banyak orang.
Perwakilan Generasi Z, Maydeelyne Usmany, turut menyampaikan pendapat mengenai posisi dan tantangan Gen Z dalam kehidupan demokrasi serta pentingnya keterlibatan generasi muda dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan dan demokrasi.

Suasana diskusi menjadi semakin haru ketika Lucky Wattimury, kader PDI Perjuangan sekaligus Anggota DPRD Provinsi Maluku, membagikan buktinya sebagai pelaku sekaligus saksi sejarah dinamika politik menjelang peristiwa Kudatuli.
Dengan mata berkaca-kaca, Lucky menceritakan berbagai dinamika Kongres PDI di Medan hingga Kongres Luar Biasa (KLB) Surabaya. Ia mengisahkan bagaimana delegasi Maluku saat itu mendapat tekanan dan pengawalan karena dianggap sebagai penentu arah dukungan kepada Megawati Soekarnoputri.
Menurutnya, berbagai ancaman, iming-iming jabatan, hingga tidak diberikannya uang transportasi tidak mampu menggoyahkan sikap delegasi Maluku yang tetap memilih memperjuangkan Megawati sebagai Ketua Umum demi menegakkan konstitusi partai.
“Kudatuli bukan hanya cerita, tapi jiwa perjuangan,” ungkap Lucky dengan penuh haru.
Ia mengingat kembali pernyataan Megawati saat itu bahwa secara de facto dirinya adalah Ketua Umum, meskipun secara de jure belum diakui. Baginya, perjuangan tersebut bukan sekedar mempertahankan kepemimpinan, melainkan mempertahankan demokrasi dan konstitusi partai.
Lucky menegaskan bahwa tembok Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro memang dapat diruntuhkan, namun nilai-nilai perjuangan tidak akan pernah bisa dihancurkan. Ia menyebut Kudatuli sebagai momentum yang menguji demokrasi Indonesia melalui kekerasan, namun justru melahirkan kepercayaan rakyat kepada PDI Perjuangan dan menjadi salah satu cikal bakal bergulirnya Reformasi 1998.
“Kudatuli bukan sekedar tanggal, tempat, atau waktu. Kudatuli adalah saat demokrasi diuji dengan kekerasan,” ujarnya.
Ia juga berpesan kepada generasi muda bahwa makna Kudatuli harus dipahami sebagai darah demokrasi Indonesia yang mengajarkan pentingnya memperjuangkan konstitusi, pelestarian rakyat, dan nilai-nilai demokrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (LB-GM)
