Home » Ambon Menatap Masa Depan, Pemkot dan Gmango Bahas Smart City Berbasis Transformasi Kesehatan Digital

Gapuramanise.com, Ambon – Pemerintah Kota Ambon mulai memperkuat pembahasan mengenai arah pembangunan kota berbasis teknologi dengan menempatkan sektor kesehatan sebagai salah satu sektor strategis.

Hal itu mengemuka dalam pertemuan Pemerintah Kota Ambon bersama perusahaan teknologi kesehatan Gmango, Selasa (15/9/2026), yang membahas pengembangan Ambon menuju Healthy City sekaligus Smart City, termasuk peluang pemanfaatan aplikasi kesehatan berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), Aiko Health.

Pertemuan tersebut dipimpin langsung oleh Sekretaris Kota Ambon, Robert Sapulette, ST., MT., dan dihadiri jajaran perangkat daerah terkait, antara lain Kepala Dinas Kesehatan Kota Ambon, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika, unsur DPMPTSP Kota Ambon, Bappeda, serta RSUD Kota Ambon di Hutumuri.

Dari pihak Gmango, pertemuan dihadiri Jordi Ramos, Celine Wren, dan Natalie Neeley.

Dalam pertemuan tersebut, Gmango mempresentasikan konsep pemanfaatan teknologi AI dalam pelayanan kesehatan serta kemungkinan membangun ekosistem kesehatan digital yang dapat mendukung agenda pembangunan Kota Ambon ke depan.

Robert Sapulette mengatakan, pemanfaatan teknologi dalam pembangunan kota harus diarahkan untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya dalam meningkatkan kualitas dan kemudahan akses pelayanan publik dan kesehatan.

“Smart City bukan sekadar penggunaan teknologi atau aplikasi, tetapi bagaimana teknologi itu dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan membantu pemerintah meningkatkan kualitas pelayanan,” ujar Robert.

Gmango Paparkan Konsep Healthy City Berbasis AI

Dalam materi presentasinya, Gmango memaparkan konsep pengembangan Ambon sebagai Healthy City yang terintegrasi dengan agenda Smart City.

Penguatan rumah sakit dan jaringan Puskesmas ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem kesehatan kota. Teknologi digital diharapkan dapat memperkuat hubungan antara masyarakat, fasilitas kesehatan, tenaga medis dan pemerintah.

Salah satu teknologi yang diperkenalkan adalah Aiko Health, aplikasi kesehatan berbasis AI yang antara lain dirancang untuk membantu diagnosis awal gejala dan proses triase serta menyediakan akses selama 24 jam.

Aiko Health dirancang untuk mendampingi perjalanan pasien sejak sebelum kunjungan ke fasilitas kesehatan. Teknologi tersebut dapat membantu proses diagnosis awal dan triase, kemudian mendukung pasien ketika melakukan kunjungan, hingga pencatatan riwayat perawatan dan pengingat setelah pasien kembali ke rumah.

Dalam paparannya, Gmango juga memetakan sejumlah tantangan kesehatan di Ambon, termasuk beban fasilitas kesehatan, penyakit kronis dan menular, keterbatasan pertukaran informasi dalam proses rujukan, serta data kesehatan yang masih terfragmentasi.

Kondisi tersebut dinilai membutuhkan sistem yang mampu memperkuat konektivitas antara masyarakat, fasilitas kesehatan dan pemerintah.

Dorong Pemerintahan Berbasis Data

Pembahasan tidak hanya berfokus pada pelayanan kepada pasien. Gmango juga memaparkan bagaimana transformasi digital kesehatan dapat mendukung tata kelola pemerintahan melalui pemanfaatan data.

Salah satu konsep yang diperkenalkan adalah dasbor intelijen kesehatan yang dapat membantu pemerintah membaca pola kebutuhan kesehatan masyarakat.

Dasbor tersebut dirancang untuk menampilkan informasi dalam bentuk data agregat dan anonim, bukan rekam medis individual warga. Dengan demikian, informasi yang tersedia dapat digunakan untuk membantu pemerintah mengenali kecenderungan kesehatan masyarakat secara lebih dini tanpa membuka data medis pribadi.

Pemanfaatan data tersebut dapat mendukung perencanaan program kesehatan, pemetaan kebutuhan fasilitas pelayanan, hingga pengambilan keputusan pemerintah yang lebih berbasis data.

Robert menilai konsep tersebut perlu dikaji secara menyeluruh agar dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi Kota Ambon.

“Kita melihat teknologi ini sebagai bagian dari upaya memperkuat pelayanan. Tetapi tentu perlu dikaji lebih lanjut, termasuk kesiapan sistem, sumber daya manusia, regulasi dan keamanan data,” katanya.

Libatkan Lintas Perangkat Daerah

Pengembangan ekosistem kesehatan digital juga membutuhkan kolaborasi lintas perangkat daerah.

Dinas Kesehatan berkepentingan terhadap kualitas pelayanan dan sistem kesehatan, Bappeda pada aspek perencanaan berbasis data, Kominfo terhadap infrastruktur dan tata kelola digital, DPMPTSP pada aspek investasi dan perizinan, sementara rumah sakit dan Puskesmas menjadi simpul pelayanan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Dengan pola tersebut, Smart City tidak dibangun hanya melalui satu perangkat daerah, melainkan melalui sistem yang saling terhubung.

Kolaborasi juga diperlukan agar pengembangan teknologi tidak berjalan secara terpisah dan dapat mendukung arah pembangunan Kota Ambon secara keseluruhan.

Keamanan Data dan Privasi Jadi Perhatian

Di sisi lain, transformasi kesehatan berbasis AI membutuhkan kehati-hatian. Keamanan data, perlindungan privasi warga, validasi klinis, regulasi, integrasi dengan sistem kesehatan nasional, serta batas kewenangan AI dan tenaga medis menjadi sejumlah aspek yang perlu dibahas lebih lanjut.

Dalam presentasinya, Gmango menyebut penggunaan enkripsi dan anonimisasi data sebagai bagian dari konsep perlindungan informasi.

Gmango juga memaparkan rancangan integrasi dengan SATUSEHAT, dengan posisi Aiko Health sebagai bagian dari ekosistem kesehatan digital yang tidak dimaksudkan untuk menggantikan SATUSEHAT maupun sistem rekam medis elektronik.

Aspek tersebut menjadi penting mengingat data kesehatan merupakan informasi yang membutuhkan perlindungan dan tata kelola yang kuat.

Smart City Berangkat dari Kebutuhan Masyarakat

Pertemuan Pemkot Ambon dan Gmango tersebut membawa pembahasan Smart City pada persoalan yang lebih mendasar, yakni bagaimana teknologi dapat digunakan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

Ambon memiliki karakter sebagai kota kepulauan dengan tantangan tersendiri dalam penyediaan pelayanan publik dan kesehatan. Karena itu, penerapan teknologi perlu mempertimbangkan kondisi geografis, akses masyarakat, kesiapan fasilitas kesehatan, sumber daya manusia serta infrastruktur digital.

Konsep yang dipaparkan Gmango menawarkan ekosistem yang menghubungkan masyarakat dengan fasilitas kesehatan sekaligus menyediakan data agregat yang dapat membantu pemerintah memahami pola kebutuhan kesehatan masyarakat.

Sementara itu, Pemkot Ambon perlu memastikan setiap tahapan pengembangan dilakukan melalui kajian yang matang, termasuk dari sisi regulasi, keamanan data, kesiapan tenaga kesehatan dan manfaat bagi masyarakat.

Pada akhirnya, konsep Smart City tidak cukup diukur dari semakin banyaknya teknologi yang digunakan. Ukurannya adalah sejauh mana teknologi mampu membuat pelayanan lebih mudah diakses, membantu pemerintah mengambil keputusan berbasis data, memperkuat tenaga kesehatan, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Ambon memiliki peluang mengembangkan model kota cerdas yang berangkat dari kebutuhan dan karakter masyarakat kepulauan, dengan sektor kesehatan sebagai salah satu pintu masuk transformasi digital.

Teknologi bukan tujuan akhir pembangunan, melainkan instrumen untuk mendekatkan pelayanan kepada warga, memperkuat tenaga kesehatan dan membantu pemerintah bekerja secara lebih cepat, terintegrasi serta berbasis data.(Ella-GM) 

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *