
Gapuramanise.com, Ambon – Hermanus Yunus Temmar, atau yang dikenal luas dengan nama pena Bongso Temmar, merupakan putra kelahiran Ambon, 12 Juli 1998. Selain dikenal sebagai penulis, ia juga aktif sebagai pegiat seni, budaya, dan sastra. Kiprahnya membawanya tampil di berbagai panggung sastra dan pertunjukan seni budaya, termasuk kegiatan yang diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan.
Merawat Suara melalui Sastra dan Musik
Pada awal 2026, Bongso Temmar menjadi salah satu talenta terpilih yang mengisi bidang sastra bertajuk Siklus Suara dalam pertunjukan seni budaya MTN Wave 2026. Melalui penampilan bertajuk MANTRA, ia memadukan kekuatan puisi dengan aliran musik rap, menghadirkan perpaduan ekspresi yang menjadi ciri khasnya di atas panggung.
Karya tersebut mengangkat isu tentang tanah, sebuah tema yang menyentuh hubungan manusia dengan ruang tempatnya berpijak, warisan yang harus dijaga, serta hak-hak yang tidak semestinya dirampas.
Melalui penampilan yang penuh penghayatan dan ketegasan, Bongso menunjukkan bahwa sastra bukan sekadar rangkaian kata di atas kertas. Sastra juga dapat menjadi suara yang menggugah kesadaran, menyampaikan kegelisahan, sekaligus mengingatkan manusia akan persoalan-persoalan yang kerap terabaikan.
Di dunia musik, ia dikenal dengan nama panggung Icibong, seorang rapper yang menjadikan musik sebagai salah satu medium untuk menyampaikan gagasan dan menyuarakan persoalan sosial.
“NALA”: Kisah tentang Luka, Penolakan, dan Keberanian Menemukan Diri
Pada Agustus 2026, Bongso Temmar resmi menerbitkan karya terbarunya, sebuah novel berjudul NALA melalui Penerbit Subaltern Inti Media.
Novel ini mengisahkan perjalanan seorang perempuan yang berani menemukan jati dirinya di tengah penolakan dunia. Kisah Nala menjadi refleksi tentang perjuangan menerima diri sendiri, merawat luka batin, dan tetap berdiri tegak meskipun dunia tidak selalu bersedia menerima seseorang apa adanya.
Namun, kisah tentang Nala tidak bermula dari buku tersebut.
Jauh sebelum novelnya diterbitkan, pada 1 Januari 2024, Icibong telah merilis lagu berjudul Nala melalui kanal YouTube resminya, Icibong Official. Lagu ini menjadi salah satu medium awal dalam menyampaikan pesan yang kini kembali dihadirkan melalui karya sastra.
Isu kekerasan seksual dan misoginisme memang bukan hal baru dalam karya seni. Berbagai seniman telah mengangkat persoalan tersebut melalui beragam medium. Namun, bagi Icibong, menyuarakan pengalaman dan perjuangan perempuan melalui musik hip-hop merupakan pilihan artistik sekaligus sikap terhadap realitas sosial.
Di tengah lanskap hip-hop Indonesia yang dalam sejumlah karyanya masih menonjolkan romantisasi gaya hidup mewah, relasi yang timpang, hingga objektifikasi tubuh perempuan, Icibong memilih menghadirkan perspektif berbeda. Ia berupaya menempatkan pengalaman perempuan sebagai persoalan yang layak didengar, dipahami, dan direnungkan.
“Nala hanyalah satu dari sekian banyak kasus kekerasan dan misoginisme yang dialami oleh kaum perempuan di negeri patriarki ini,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa Nala bukan semata-mata sebuah nama atau tokoh dalam karya seni. Nala merepresentasikan pengalaman banyak perempuan yang berhadapan dengan kekerasan, ketidakadilan, stigma, dan penolakan dalam lingkungan sosial yang belum sepenuhnya memberikan ruang aman bagi mereka.
Dari Lagu Menjadi Novel: Memperluas Ruang untuk Bersuara
Melalui lagu dan novel NALA, Bongso Temmar berupaya memperluas ruang bagi cerita-cerita yang kerap terpinggirkan. Ia menghadirkan pesan bahwa di balik setiap nama yang mungkin dianggap biasa, terdapat kehidupan yang menyimpan perjuangan, suara yang berhak didengar, dan keberanian untuk menentukan jalan hidupnya sendiri.
Karya ini juga mengajak pembaca untuk melihat bahwa nilai seseorang tidak semestinya ditentukan oleh penilaian orang lain. Ada proses panjang untuk mengenali diri, menerima pengalaman hidup, dan membangun keberanian agar tidak terus-menerus terikat pada pengakuan dari luar.
Dalam konteks itu, NALA menjadi lebih dari sekadar sebuah novel. Ia merupakan ruang refleksi tentang kemanusiaan, keberanian, harga diri, serta hak setiap orang untuk hadir dan diterima tanpa harus kehilangan dirinya sendiri.
Bagi Bongso Temmar, sastra dan musik menjadi dua medium yang saling melengkapi. Keduanya membuka jalan untuk menyampaikan kegelisahan, mengangkat persoalan sosial, dan merawat suara-suara yang sering kali tidak mendapatkan tempat yang layak.
Sebuah Pesan untuk Mereka yang Sedang Berjuang
Buku NALA kini telah diterbitkan oleh Penerbit Subaltern Inti Media pada Agustus 2026. Sementara itu, lagu Nala dapat didengarkan melalui kanal YouTube resmi Icibong Official.
Melalui perjalanan Nala, Bongso Temmar menghadirkan pesan sederhana tetapi mendalam: setiap orang berhak menemukan dirinya sendiri, menyuarakan pengalamannya, dan menjalani hidup tanpa harus terus-menerus membuktikan kelayakannya di hadapan dunia.
Sebab, pada akhirnya, keberanian tidak selalu berarti mampu mengalahkan segala hal. Terkadang, keberanian dimulai dari kesediaan untuk menerima diri sendiri, bertahan dalam proses pencarian jati diri, dan tetap melangkah meskipun penerimaan tidak selalu datang dari orang lain.
Dan bagi siapa saja yang sedang berjuang menemukan tempatnya di dunia, kisah Nala menyampaikan satu pengingat: aku ada, aku berhak didengar, dan aku berharga. (VT-GM)
