
Gapuramanise.com, Maluku Barat Daya – Maluku Barat Daya memiliki persoalan yang khas. Sebagai daerah kepulauan, pembangunan tidak hanya berbicara tentang jalan dan gedung pemerintahan, tetapi juga tentang kapal, pelabuhan, listrik, pendidikan, kesehatan, air bersih dan keterhubungan antarpulau.
Pembangunan MBD kalau kita bisa lihat sendiri bahwa transportasi merupakan kunci membuka aksesibilitas dan mengurangi keterisolasian wilayah. Kondisi geografis yang didominasi laut membuat transportasi air dan udara menjadi bagian penting dalam pelayanan masyarakat.
Data BPS menunjukkan bahwa MBD mengalami perkembangan dalam berbagai indikator sosial. Kemiskinan, misalnya, menunjukkan kecenderungan menurun dalam jangka panjang. Namun, persentase penduduk miskin masih berada pada angka 27,65 persen pada 2025. Artinya, persoalan kesejahteraan belum selesai dan masih membutuhkan kebijakan yang menyentuh masyarakat secara langsung. BPS juga mencatat pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, perumahan, dan kemiskinan sebagai bagian penting dalam melihat perkembangan kesejahteraan masyarakat Maluku Barat Daya.
Begitu pula dengan pembangunan manusia. Angka IPM MBD mengalami peningkatan dibandingkan satu dekade sebelumnya. Namun, peningkatan indikator tersebut berjalan bersamaan dengan tantangan pemerataan pelayanan dasar, terutama bagi masyarakat yang tinggal jauh dari pusat pemerintahan dan pelayanan.
Di sinilah persoalan aksesibilitas menjadi penting. Bagi masyarakat di pulau-pulau kecil, terlambatnya kapal bukan hanya berarti terlambat bepergian. Distribusi kebutuhan pokok, hasil pertanian dan perikanan, pelayanan kesehatan, pendidikan hingga aktivitas ekonomi juga ikut terdampak.
Persoalan tersebut menjadi salah satu isu yang selama ini disuarakan Anos Yeremias, S.Sos., M.Si., anggota DPRD Provinsi Maluku.
Dalam berbagai agenda reses, Anos turun langsung ke sejumlah wilayah MBD. Pada September 2026, misalnya, ia mengunjungi Karbubu di Wetar Barat, Masapun dan Mahuan di Wetar Selatan, Luang Barat dan Luang Timur hingga Metimiarang. Aspirasi yang ditemui berkaitan dengan transportasi laut, kesehatan, listrik, air bersih, abrasi, pelabuhan dan kebutuhan masyarakat di wilayah perbatasan.
Perhatian terhadap transportasi laut juga bukan baru muncul dalam reses terakhir. Anos sebelumnya telah menyuarakan kebutuhan pelayanan kapal perintis di MBD. Pada 2026, ia kembali mendorong agar empat desa di Wetar Selatan—Ilputi, Masapun, Mahuan dan Tomliapat—mendapat akses kapal perintis reguler.
Ada pula contoh yang lebih konkret. Pada Agustus 2026, Pemerintah Negeri Luang Timur mengajukan permohonan agar KM Sabuk Nusantara 87 dapat menyinggahi Luang. Permohonan tersebut kemudian diteruskan melalui Pemerintah Provinsi Maluku kepada Kementerian Perhubungan. Pada September, kapal tersebut akhirnya melayani masyarakat Luang melalui deviasi trayek.
Perjalanan tersebut memperlihatkan satu pola dalam aktivitas Anos, persoalan yang ditemui di lapangan dibawa ke ruang kebijakan sesuai kewenangannya sebagai anggota DPRD Provinsi Maluku.
Hal yang sama terlihat ketika masyarakat Luang menyampaikan persoalan air bersih, abrasi, dermaga, BBM dan listrik. Di wilayah Metimiarang, perhatian diarahkan pada kondisi masyarakat sekaligus fasilitas pendukung pengamanan kawasan perbatasan.
Karena itu, pembicaraan tentang masa depan MBD tidak cukup hanya melihat angka pembangunan. Data penting sebagai pijakan, tetapi pengalaman menghadapi persoalan masyarakat juga menjadi bagian dari proses politik pembangunan.
MBD memang terus berkembang. Namun, karakter kepulauan membuat kebutuhan pembangunan tidak pernah sederhana. Jalan harus terhubung dengan pelabuhan. Pelabuhan harus didukung kapal. Listrik harus menjangkau pulau-pulau. Pendidikan dan kesehatan harus dapat diakses masyarakat tanpa terkendala jarak dan transportasi.
Di tengah kebutuhan tersebut, perjalanan Anos Yeremias memperlihatkan keterlibatannya dalam sejumlah isu yang langsung bersentuhan dengan akses masyarakat MBD. Dari transportasi laut, listrik, BBM, kesehatan hingga wilayah perbatasan, persoalan-persoalan itu menjadi bagian dari agenda yang dibawanya dalam kapasitas sebagai wakil rakyat.
Maka, “Saatnya Maluku Barat Daya Balik Arah”, dapat dimaknai sebagai dorongan untuk memperkuat pembangunan yang berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat, lebih terhubung, lebih merata dan lebih dekat dengan pulau-pulau yang selama ini menghadapi keterbatasan akses.
Dan pada akhirnya, perjalanan politik seseorang tidak hanya dibaca dari jabatan yang pernah diduduki, tetapi dari persoalan apa yang diperjuangkan, masyarakat mana yang ditemui, serta sejauh mana aspirasi tersebut berhasil dibawa ke meja kebijakan.
Perjalanan Politik yang Masih Panjang
MBD memiliki banyak aktor politik dengan latar belakang, pengalaman dan rekam jejak masing-masing. Sejumlah figur telah memberikan kontribusi melalui pemerintahan, legislatif maupun kehidupan sosial masyarakat. Dinamika politik di MBD juga terus bergerak seiring dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan pembangunan daerah.
Dalam dinamika tersebut, Anos Yeremias menjadi salah satu figur politik yang memiliki perjalanan dan keterlibatan cukup panjang dalam isu-isu yang berkaitan dengan MBD. Ia telah menjadi anggota DPRD Provinsi Maluku dan kembali menjalankan tugas sebagai wakil rakyat pada periode 2024–2029.
Perjalanan tersebut tentu masih panjang. Tantangan pembangunan MBD juga terus berubah, sementara kebutuhan masyarakat di pulau-pulau terus berkembang. Karena itu, langkah seorang figur politik tidak hanya dilihat dari posisi yang pernah ditempati, tetapi juga dari konsistensi mengikuti persoalan masyarakat dan memperjuangkannya melalui ruang kebijakan.
Dalam beberapa waktu terakhir, keterlibatan Anos di MBD terlihat melalui agenda reses dan isu yang dibawanya, mulai dari transportasi laut, listrik, air bersih, kesehatan hingga persoalan kawasan perbatasan.
Dinamika politik ke depan juga masih terbuka dan akan terus berkembang. Banyak aktor politik MBD yang memiliki rekam jejak dan capaian masing-masing. Dalam situasi tersebut, setiap figur memiliki ruang untuk menunjukkan kapasitas, kerja dan kontribusinya bagi masyarakat.
Bagi Anos Yeremias, langkah perjuangan tersebut juga masih panjang. Pengalaman sebagai anggota DPRD Provinsi Maluku menjadi bagian dari perjalanan politik yang terus berjalan, sementara berbagai persoalan masyarakat MBD masih membutuhkan perhatian dan tindak lanjut.
Pada akhirnya, perjalanan politik MBD tidak hanya ditentukan oleh jabatan atau momentum tertentu. Yang menjadi catatan adalah bagaimana setiap figur menerjemahkan pengalaman politiknya menjadi kerja, memperjuangkan aspirasi masyarakat dan menghadirkan kebijakan yang menjawab kebutuhan daerah.
MBD memiliki banyak figur, banyak potensi dan banyak jalan perjuangan. Dinamika itu akan terus berjalan. Dan bagi Anos Yeremias, langkah juang untuk MBD masih merupakan perjalanan yang panjang. (SWW-GM)
