
Gapuramanise.com, Masohi – Ancaman kekeringan yang mulai melanda kawasan pertanian di Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah, mendapat perhatian serius DPRD Provinsi Maluku. Komisi III memastikan telah melakukan koordinasi dengan sejumlah instansi teknis guna mengantisipasi dampak musim kemarau terhadap sektor pertanian, khususnya sentra produksi padi di Kecamatan Seram Utara Timur Seti dan Seram Utara Timur Kobi.
Ketua Komisi III DPRD Provinsi Maluku, Alhidayat Wajo, mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Pertanian Provinsi Maluku, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), serta Balai Wilayah Sungai untuk memastikan ketersediaan air bagi lahan pertanian tetap terjaga.
Menurut Wajo, langkah antisipatif harus dilakukan sejak dini agar dampak El Nino tidak mengganggu produktivitas pertanian masyarakat.
“Terhadap dampak El Nino di Seram Utara Timur Seti dan Seram Utara Timur Kobi, kami sudah berkoordinasi dengan Dinas Pertanian Provinsi, Balai Sungai, dan Dinas PU Provinsi untuk mengantisipasi kekurangan air bagi petani,” kata Wajo.
Politisi PDI Perjuangan itu menegaskan, pemenuhan kebutuhan air menjadi faktor utama yang harus segera ditangani agar aktivitas pertanian tetap berjalan.
“Langkah cepat dibutuhkan untuk memastikan ketersediaan air bagi petani dan memenuhi kebutuhan air bagi lahan pertanian,” ujarnya.
Kekhawatiran terhadap kondisi tersebut muncul setelah sejumlah sungai dan jaringan irigasi di wilayah Seram Utara mulai mengalami penyusutan debit air akibat kemarau yang berlangsung sekitar satu bulan terakhir.
Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Maluku Tengah, Ahmad Saibony Tihurua, mengatakan berdasarkan laporan dari kelompok tani di Seram Utara Timur Seti, Kali Wailoving telah mengering sepenuhnya. Kondisi serupa juga terjadi pada jaringan irigasi Wailoving, Mulyo, Waiputih, dan Waitila yang selama ini menjadi sumber utama pengairan sawah.
“Sudah sekitar sebulan cuaca sangat panas. Kali Wailoving sudah kering total, begitu juga irigasi Wailoving, Mulyo, Waiputih dan Waitila,” ujar Ahmad.
Ia menjelaskan, Bendung Tihuana saat ini hanya mampu memenuhi kebutuhan air bagi Negeri Tihuana. Sementara aliran menuju kawasan Wailoving diperkirakan hanya tersisa sekitar 20 persen sehingga mulai berdampak pada lahan pertanian.
Kondisi serupa mulai dirasakan petani di Kobisonta, Wonosari hingga kawasan Trans Baru yang selama ini dikenal sebagai salah satu sentra produksi padi di Kabupaten Maluku Tengah.
Meski demikian, Ahmad menyebut kelompok Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM) MasjidMu masih memiliki dua embung yang diperkirakan mampu menopang kebutuhan irigasi selama kurang lebih tiga bulan. Namun apabila musim kemarau berlangsung lebih lama, ancaman kekurangan air diperkirakan akan semakin meluas.
Menanggapi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah terus memperkuat langkah mitigasi melalui pembangunan infrastruktur sumber air.
Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Maluku Tengah, Arsad Slamat, mengatakan Kementerian Pertanian telah mengalokasikan pembangunan 34 unit sumur bor yang saat ini memasuki tahap pekerjaan. Selain itu, pemerintah kembali memperoleh tambahan 15 unit sumur bor yang masih dalam proses administrasi dan survei investigasi desain (SID).
Menurut Arsad, setiap sumur bor akan dilengkapi pompa berkekuatan 4 HP yang mampu menyuplai air ke areal persawahan saat debit sungai menurun.
Selain pembangunan sumur bor, pemerintah juga telah menyalurkan bantuan pompa air kepada pemerintah desa sejak 2024 hingga 2026. Ia meminta seluruh kepala desa segera menyerahkan bantuan tersebut kepada kelompok tani agar dapat dimanfaatkan secara maksimal.
“Pompa jangan disimpan. Harus digunakan petani untuk mengantisipasi kekeringan di areal persawahan,” tegas Arsad.
Arsad menilai dampak kekeringan terhadap produksi padi hingga saat ini masih relatif terkendali karena sebagian besar lahan sawah di Seram Utara sedang memasuki masa panen. Kalender tanam berikutnya juga diperkirakan dimulai pada akhir Agustus seiring datangnya musim hujan.
Namun demikian, ia mengingatkan tanaman hortikultura berpotensi menjadi komoditas yang paling terdampak apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang dari perkiraan.
Di sisi lain, pemerintah juga terus memperkuat mekanisasi pertanian melalui bantuan alat panen modern. Tahun ini, Kementerian Pertanian menyalurkan 10 unit combine harvester yang telah diserahkan kepada kelompok tani di Kobisonta. Dengan tambahan tersebut, jumlah combine harvester di Kabupaten Maluku Tengah kini telah mencapai lebih dari 20 unit untuk mendukung proses panen di sekitar 9.000 hektare lahan persawahan.
Sinergi antara pemerintah daerah, DPRD, Balai Wilayah Sungai, dan para petani dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga ketahanan pangan di Maluku Tengah. Upaya percepatan penyediaan sumber air diharapkan mampu meminimalkan dampak musim kemarau sehingga produktivitas pertanian di Seram Utara tetap terjaga. (LB-GM)
