Home » Ikatan Mahasiswa Evav IAKN Ambon Angkat Budaya Kei di Porseni

Gapuramanise.com, Ambon – Ikatan Mahasiswa Evav Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon memperkenalkan kekayaan budaya Kei melalui kolaborasi Tari Cakalele, Tari Panah, dan Sawat dalam pembukaan Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) IAKN Ambon, Rabu (21/10/2026).

Penampilan tersebut tidak sekadar menjadi hiburan pembuka, tetapi juga merupakan bentuk ekspresi identitas budaya dan komitmen mahasiswa dalam melestarikan warisan leluhur di tengah perkembangan zaman.

Perpaduan gerak, irama, dan karakter dari ketiga tarian itu menghadirkan kekayaan seni budaya Maluku di lingkungan akademik. Cakalele merepresentasikan keberanian dan semangat juang, Tari Panah menampilkan unsur ketangkasan, sementara Sawat menghadirkan dinamika gerak dan irama yang khas.

Kolaborasi tersebut sekaligus menegaskan bahwa kebudayaan bukan hanya peninggalan masa lalu, melainkan bagian dari jati diri yang harus terus dijaga, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Ketua Ikatan Mahasiswa Evav IAKN Ambon, Keisya Betaubun, mengatakan bahwa penampilan tersebut merupakan wujud tanggung jawab generasi muda dalam menjaga keberlanjutan budaya Kei sekaligus memperkenalkannya kepada masyarakat luas.

“Bagi kami, penampilan kolaborasi Tari Cakalele, Tari Panah, dan Sawat bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan bentuk tanggung jawab generasi muda dalam menjaga dan memperkenalkan identitas budaya Kei. Tradisi bukan hanya warisan masa lalu, tetapi bagian dari jati diri yang harus terus hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang,” ungkap Keisya.

Ia menambahkan, keberagaman budaya harus menjadi kekuatan untuk membangun persaudaraan, bukan alasan untuk menciptakan perbedaan di antara sesama.

“Kami ingin menunjukkan bahwa keberagaman budaya bukan alasan untuk terpisah, melainkan kekuatan untuk saling mengenal, menghargai, dan membangun persaudaraan,” lanjutnya.

Menurut Keisya, kegiatan kemahasiswaan seperti Porseni menjadi ruang penting untuk memperkenalkan budaya daerah sekaligus menumbuhkan kesadaran generasi muda terhadap nilai-nilai yang diwariskan para leluhur.

Partisipasi mahasiswa dalam kegiatan seni, lanjutnya, merupakan langkah nyata untuk memastikan tradisi tetap mendapat tempat di tengah perkembangan pendidikan dan modernisasi.

Porseni IAKN Ambon sendiri tidak hanya menjadi wadah pengembangan bakat, kreativitas, dan prestasi mahasiswa, tetapi juga ruang perjumpaan berbagai identitas budaya. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa dapat menampilkan kekhasan daerah masing-masing sekaligus memperkuat solidaritas dan penghargaan terhadap keberagaman.

Penampilan Ikatan Mahasiswa Evav menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki peran strategis sebagai agen pelestarian budaya. Selain mengembangkan kemampuan akademik, mahasiswa juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga nilai-nilai sosial dan kebudayaan yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat.

Kolaborasi Tari Cakalele, Tari Panah, dan Sawat pun menjadi lebih dari sekadar pertunjukan di atas panggung. Penampilan itu membawa pesan bahwa identitas budaya harus terus dihidupkan melalui ruang ekspresi, keterlibatan aktif generasi muda, dan kegiatan yang mempertemukan tradisi dengan kehidupan modern.

Melalui momentum pembukaan Porseni IAKN Ambon, Ikatan Mahasiswa Evav berharap budaya Kei semakin dikenal dan dihargai, khususnya oleh generasi muda di lingkungan perguruan tinggi.

Bagi Ikatan Mahasiswa Evav IAKN Ambon, menjaga budaya berarti merawat jati diri, menghormati warisan leluhur, dan meneruskan nilai-nilai tradisi kepada generasi mendatang. Kemajuan zaman diharapkan tidak membuat generasi muda kehilangan akar budayanya, tetapi justru menjadi peluang untuk memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada masyarakat yang lebih luas. (LB-GM)

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *