Home » Hoaks Serang Kapolri Baru, Ketua KNPI Maluku: Kritik Boleh, Fitnah Jangan

Gapuramanise.com, Ambon –Ketua DPD KNPI Maluku, Faisal Syarif Hayoto, mengajak masyarakat untuk tidak mudah terpengaruh maupun terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi terkait Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto.

Menurut Faisal, munculnya berbagai informasi negatif, hoaks, maupun narasi yang menyerang pribadi Kapolri baru perlu disikapi secara bijak. Masyarakat diminta mengedepankan fakta dan tidak langsung mempercayai informasi yang beredar luas di media sosial.

Ia menilai penyebaran informasi yang tidak benar tidak hanya berpotensi merugikan pribadi Jenderal Suyudi Ario Seto, tetapi juga dapat berdampak terhadap kepercayaan masyarakat kepada institusi Polri.

“Jangan sampai informasi yang belum jelas kebenarannya kemudian dipercaya dan disebarluaskan. Kita harus melihat persoalan secara objektif dan memberikan ruang kepada Kapolri yang baru untuk menjalankan tugas serta membuktikan kepemimpinannya,” kata Faisal kepada Gapurmanise.com, Kamis (08/10/2026).

Faisal mengatakan, keputusan Presiden Prabowo Subianto dalam menetapkan Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri tentu telah melalui berbagai pertimbangan. Karena itu, menurutnya, masyarakat perlu menghormati proses tersebut dan memberikan kesempatan kepada Kapolri baru untuk menjalankan amanahnya.

“Kita tentu menghormati keputusan Presiden. Jenderal Suyudi sudah diberikan kepercayaan untuk memimpin institusi Polri. Mari kita berikan kesempatan untuk bekerja, sekaligus kita kawal agar kepemimpinannya benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat dan negara,” ujarnya.

Menurut Faisal, kepemimpinan Kapolri yang baru harus mampu memperkuat hubungan antara kepolisian dan masyarakat. Kedekatan polisi dengan masyarakat, kata dia, tidak cukup hanya menjadi slogan, tetapi harus diwujudkan melalui pelayanan yang humanis, profesional dan responsif.

“Polri membutuhkan kepercayaan masyarakat. Sebaliknya, masyarakat juga membutuhkan polisi yang mampu memberikan rasa aman, perlindungan dan pelayanan dengan baik. Karena itu, membangun kedekatan dengan masyarakat harus menjadi bagian penting dari kepemimpinan Kapolri yang baru,” jelasnya.

Faisal juga menyoroti perkembangan informasi di ruang digital yang semakin cepat. Menurutnya, media sosial dapat menjadi sarana positif untuk menyampaikan kritik dan aspirasi, namun dapat pula menjadi ruang penyebaran fitnah, provokasi dan disinformasi apabila tidak digunakan secara bertanggung jawab.

“Media sosial harus kita gunakan untuk menyampaikan informasi yang benar dan membangun. Jangan sampai ruang digital justru menjadi tempat menyebarkan fitnah, kebencian dan informasi palsu yang akhirnya memecah belah masyarakat,” katanya.

Ia menegaskan, kritik terhadap institusi Polri tetap merupakan bagian penting dalam kehidupan demokrasi. Namun kritik, menurut Faisal, harus disampaikan berdasarkan fakta, data dan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Kita tidak boleh alergi terhadap kritik. Kritik justru penting untuk memperbaiki sebuah institusi. Tetapi kritik harus dibedakan dengan fitnah dan hoaks. Kalau ada kekurangan atau persoalan di tubuh Polri, sampaikan secara terbuka berdasarkan fakta dan melalui mekanisme yang benar,” tegasnya.

Faisal mengingatkan bahwa penyebaran hoaks secara terus-menerus dapat membentuk persepsi negatif di tengah masyarakat. Jika tidak diantisipasi, kondisi tersebut dapat menimbulkan ketidakpercayaan terhadap institusi negara.

“Kalau informasi yang salah terus diulang, masyarakat bisa menganggapnya sebagai sebuah kebenaran. Ini yang berbahaya. Kita tidak ingin masyarakat kehilangan kepercayaan hanya karena informasi yang ternyata tidak memiliki dasar yang jelas,” tuturnya.

Karena itu, Faisal mengajak generasi muda, khususnya pengguna media sosial di Maluku, untuk ikut menjadi bagian dalam menciptakan ruang digital yang sehat. Masyarakat diminta membiasakan diri melakukan verifikasi sebelum mempercayai maupun membagikan sebuah informasi.

“Jangan karena sebuah informasi viral lalu kita langsung percaya. Periksa sumbernya, lihat faktanya, dan jangan ikut menyebarkan sesuatu yang belum terbukti. Generasi muda harus menjadi bagian dari upaya membangun budaya digital yang sehat,” ungkapnya.

Faisal juga mendorong media massa, organisasi kepemudaan, akademisi, tokoh masyarakat serta seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama meningkatkan literasi digital dan melawan penyebaran disinformasi.

Menurutnya, menjaga kepercayaan publik terhadap institusi negara bukan berarti menutup ruang kritik, melainkan memastikan setiap kritik dan informasi yang disampaikan memiliki dasar yang jelas.

“Yang kita butuhkan adalah masyarakat yang kritis tetapi tetap objektif. Kita kawal pemerintah dan institusi negara, kita kritik jika ada kesalahan, tetapi jangan menggunakan hoaks dan fitnah sebagai alat untuk menjatuhkan seseorang,” katanya.

Lebih lanjut, Faisal mengajak masyarakat memberikan kesempatan kepada Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto untuk menjalankan amanah sebagai Kapolri. Menurut dia, kinerja kepemimpinan Kapolri baru harus dinilai berdasarkan kerja nyata dan hasil yang dirasakan masyarakat.

“Berikan kesempatan kepada Kapolri baru untuk bekerja. Kita kawal dan kita beri masukan apabila ada yang perlu diperbaiki. Pada akhirnya, yang harus menjadi kepentingan bersama adalah bagaimana Polri semakin profesional, humanis, dekat dengan masyarakat dan semakin mendapatkan kepercayaan publik,” pungkas Faisal. (LB-GM)

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *