Home » Basir Tuhepaly: Penataan Waitomu Perlu Didukung Kajian Ilmiah dan Kepastian Perizinan

Gapuramanise.com, Ambon – Penataan kawasan Sungai Waitomu di Kota Ambon menjadi perhatian Ketua Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kota Ambon, Mohamat Basir Tuhepaly. Ia menilai, rencana yang digagas Kodam XV/Pattimura tersebut patut diapresiasi sebagai upaya mendorong pembenahan kawasan perkotaan, dengan tetap memperhatikan ketentuan hukum dan aspek teknis pembangunan.

Basir berpandangan, diskusi mengenai rencana tersebut seharusnya menjadi ruang untuk memperkuat sinergi antara pemangku kepentingan, bukan justru menimbulkan kesan adanya pertentangan antara masyarakat dan institusi TNI.

Menurutnya, tujuan pembangunan perlu ditempatkan sebagai kepentingan bersama. Namun, dukungan terhadap rencana penataan harus disertai upaya memastikan seluruh prosesnya memenuhi persyaratan administrasi, perizinan, dan standar teknis yang berlaku.

“Yang perlu kita dorong adalah bagaimana niat baik untuk membangun ini dapat diwujudkan melalui proses yang benar. Dengan begitu, pembangunan tidak hanya terlihat secara fisik, tetapi juga memiliki landasan hukum dan perencanaan yang dapat dipertanggungjawabkan,” ujar Basir kepada Gapuramanise.com, Selasa (20/10/2026).

Ia menjelaskan, kawasan sungai memiliki karakteristik yang berbeda dengan lahan perkotaan pada umumnya. Oleh sebab itu, rencana pembangunan di lokasi tersebut perlu didukung kajian yang komprehensif agar tidak mengabaikan aspek keselamatan maupun fungsi lingkungan.

Sejumlah aspek yang menurutnya perlu mendapat perhatian meliputi kajian hidrologi untuk memahami karakteristik aliran air, hidraulika, kondisi tanah, geoteknik, serta analisis dampak terhadap lingkungan sekitar.

Basir menegaskan bahwa pendekatan ilmiah seharusnya menjadi landasan utama dalam menentukan kelayakan desain, metode konstruksi, hingga pengelolaan kawasan setelah pembangunan selesai.

“Jangan melihat kajian dan perizinan sebagai sesuatu yang menghambat. Justru melalui proses itu, kita bisa mengetahui apakah perencanaan sudah sesuai dengan kondisi lapangan, bagaimana risikonya, dan langkah apa yang harus disiapkan untuk menjamin keamanan,” katanya.

Ia menambahkan, pengembangan kawasan di sekitar perairan bukan hal yang mustahil dilakukan. Berbagai konsep penataan kota modern memungkinkan integrasi ruang publik dan kawasan sungai, tetapi keberhasilannya sangat bergantung pada kesesuaian desain, teknologi, serta kepatuhan terhadap regulasi.

Karena itu, Basir mendorong agar pembahasan penataan Waitomu melibatkan Pemerintah Kota Ambon, Kodam XV/Pattimura, akademisi, Balai Wilayah Sungai, dan masyarakat. Keterlibatan para pihak tersebut dinilai penting untuk menghasilkan keputusan berdasarkan kajian objektif dan kebutuhan nyata di lapangan.

Ia juga berharap komunikasi yang terbuka dapat mencegah kesalahpahaman sekaligus memberikan ruang bagi masyarakat untuk memahami tujuan, proses, dan dampak rencana pembangunan.

“Semua pihak perlu duduk bersama. Kita ingin pembangunan berjalan, tetapi aspek legalitas, keselamatan, dan kelestarian lingkungan juga harus menjadi perhatian. Dengan dialog yang baik, saya yakin solusi yang menguntungkan kepentingan publik bisa ditemukan,” ungkapnya.

Basir menilai, penataan kawasan Waitomu dapat menjadi kesempatan untuk memperbaiki kualitas ruang kota apabila direncanakan secara matang dan dilaksanakan dengan prinsip tata kelola yang baik.

Ia berharap rencana tersebut tidak hanya menghasilkan perubahan fisik, tetapi juga memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat Kota Ambon tanpa mengesampingkan fungsi sungai dan keseimbangan lingkungan.

“Dukungan terhadap pembangunan harus berjalan seiring dengan tanggung jawab untuk memastikan semuanya sesuai aturan dan kaidah keilmuan. Itu yang perlu kita kawal bersama demi pembangunan Ambon yang lebih baik,” tutup Basir. (LM-GM) 

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *