
Gapuramanise.com – Dunia hitam Negeri Sakura memiliki sejarah panjang. Pada zaman Dinasti Edo, sekitar abad ke-17, Yakuza mulai menunjukkan keberadaannya di Jepang. Kelompok ini kemudian dikenal bukan sekadar sebagai gangster, tetapi juga sebagai salah satu sisi gelap dari proses modernisasi Jepang.
Menariknya, Yakuza tidak lahir dari kalangan kriminal elite. Akar kelompok ini justru berasal dari lapisan masyarakat bawah. Kemunculannya ditandai oleh dua kelompok utama, yakni Tekiya, para pedagang keliling, dan Bakuto, kelompok penjudi jalanan.
Kesenjangan sosial yang berkembang pada masa itu menjadi salah satu latar munculnya kelompok-kelompok tersebut. Meski bergerak di dunia yang dianggap menyimpang, mereka memiliki struktur organisasi dan sistem yang cukup kokoh. Hubungan antara pemimpin dan anak buah dibangun atas dasar kepatuhan serta loyalitas yang sangat kuat.
Dari Tekiya dan Bakuto
Yakuza sering disebut sebagai salah satu organisasi kriminal dengan sejarah paling panjang di dunia. Mereka memiliki seperangkat aturan yang berkaitan dengan kehormatan, tradisi, ritual, dan simbol. Hal tersebut menjadi salah satu karakteristik yang membedakan mereka dari jaringan kriminal lainnya, seperti kartel di Amerika Latin maupun mafia di Italia dan Rusia.
Sejumlah kelompok awal yang menjadi cikal bakal Yakuza, termasuk Tekiya dan Bakuto, kemudian mengembangkan struktur organisasi dengan mengadopsi sejumlah tradisi dari budaya samurai. Di dalamnya terdapat nilai kehormatan, loyalitas, kepatuhan, serta hubungan hierarkis yang ketat.
Dalam perkembangannya, hubungan tersebut dikenal dengan konsep Oyabun-Kobun, yang secara harfiah menggambarkan hubungan “ayah-anak”. Oyabun berperan sebagai pemimpin, sedangkan Kobun merupakan anggota yang berada di bawah perlindungan sekaligus kewajiban untuk menunjukkan kesetiaan kepada pemimpinnya.
Selain itu, terdapat pula konsep Ninkyo, yang berkaitan dengan nilai kehormatan dan kedisiplinan dalam kehidupan organisasi.
Nama Yakuza dan Angka 8-9-3
Istilah Yakuza sendiri kerap dikaitkan dengan kombinasi angka 8, 9, dan 3 dalam permainan kartu Jepang. Kombinasi tersebut dianggap sebagai nilai yang buruk atau tidak berguna.
Ironisnya, istilah yang berkonotasi sebagai “pecundang” itu kemudian melekat pada kelompok yang berkembang menjadi salah satu jaringan kriminal paling terorganisasi di Asia.
Pasca-Perang Dunia II, pengaruh Yakuza berkembang semakin luas. Mereka tidak hanya menjalankan berbagai aktivitas ilegal, tetapi juga mulai memasuki sejumlah sektor bisnis dan berusaha mendapatkan pengaruh dalam kehidupan sosial maupun politik Jepang.
Perlu dicatat, Yakuza sebenarnya bukan nama dari satu organisasi kriminal tertentu. Istilah tersebut lebih umum digunakan untuk menggambarkan berbagai kelompok kriminal terorganisasi yang beroperasi di Jepang.
Tradisi, Tato, dan Yubitsume
Yakuza memiliki sejumlah tradisi yang kemudian menjadi identitas mereka. Salah satunya adalah irezumi, yakni tato tradisional yang menutupi bagian tubuh dalam ukuran besar, bahkan dapat mencakup hampir seluruh tubuh.
Tradisi lainnya adalah yubitsume, yaitu pemotongan sebagian jari sebagai bentuk penebusan atas kesalahan tertentu. Ritual tersebut secara historis dikaitkan dengan bentuk pertanggungjawaban dan loyalitas terhadap organisasi.
Bagi sebagian anggota, pengabdian kepada organisasi tidak hanya dipandang sebagai kewajiban, tetapi juga sebagai bentuk kehormatan. Loyalitas kepada oyabun menjadi salah satu prinsip penting dalam hubungan hierarkis tersebut.
Ketika Yakuza Mulai Terdesak
Namun, kejayaan Yakuza perlahan mengalami kemerosotan. Pemerintah Jepang menerapkan berbagai kebijakan untuk membatasi aktivitas organisasi kriminal tersebut.
Pengetatan hukum terhadap kejahatan terorganisasi, terutama melalui aturan yang diperkenalkan pada 1992 dan diperkuat dengan kebijakan pada 2010, memberikan tekanan besar terhadap keberadaan Yakuza.
Akibatnya, aktivitas mereka menjadi semakin sulit dilakukan secara terbuka. Struktur organisasi dan cara memperoleh keuntungan pun mengalami perubahan.
Sejumlah kelompok yang sebelumnya dikenal secara terbuka mulai bergerak lebih tersembunyi dan anonim. Aktivitas kriminal yang dikaitkan dengan jaringan tersebut mencakup penipuan, perampokan, pencurian, hingga perdagangan narkoba dan manusia.
Dalam perkembangan terbaru, sebagian aktivitas kriminal juga disebut melibatkan kelompok semi-terorganisasi yang dikenal sebagai hangure. Kelompok-kelompok ini tidak selalu memiliki struktur formal seperti organisasi Yakuza tradisional, tetapi dapat terlibat dalam berbagai tindak kriminal.
Dari pedagang keliling dan penjudi jalanan pada era Edo, Yakuza kemudian tumbuh menjadi jaringan kriminal yang memiliki struktur, tradisi, dan pengaruh luas. Namun, tekanan hukum dan perubahan lanskap kriminal di Jepang membuat organisasi tersebut kini menghadapi tantangan besar untuk mempertahankan bentuk lamanya. (Tim)
