Home » Eko Saputra Poceratu Sentil Kreator Konten Vulgar di Ambon, Kritik Brand yang Abaikan Etika demi Promosi

Gapuramanise.com, Ambon – Penyair asal Maluku, Eko Saputra Poceratu, menyoroti maraknya konten kreator yang dinilai mengabaikan etika di media sosial. Ia juga mengkritik sejumlah merek atau brand yang masih menggunakan kreator dengan konten vulgar untuk kepentingan promosi.

Kritik tersebut disampaikan Eko melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, @ekosaputrapoceratu, pada Minggu (18/10/2026).

Dalam unggahannya, Eko mengungkapkan keprihatinannya terhadap fenomena konten kreator di Ambon dan Maluku yang masih memproduksi konten berupa makian, komedi vulgar, joget vulgar, hingga ujaran kebencian.

“Di Ambon bahkan di Maluku sampai hari ini seng sadiki konten kreator model ‘kacau’ yang masih aktif bermedsos. Konten-konten maki, komedi vulgar, tanpa etika, joget vulgar, ujaran kebencian, bahkan pelaku penyimpangan seksual masih terus dipuja-puja, dinormalisasi kesalahannya,” tulis Eko dalam unggahannya.

Ia menilai konten-konten tersebut turut memberikan pengaruh negatif terhadap generasi muda, terutama anak-anak yang terpapar berbagai konten di media sosial.

“Jenis konten-konten inilah yang turut merusak katong pung generasi. Tanpa katong perhatikan, anak-anak yang masih kacil justru terpapar dan ada pula yang terinspirasi untuk jadi kreator konten yang negatif (tanpa disadari dampaknya),” lanjutnya.

Selain menyoroti perilaku kreator konten, Eko juga mengkritik sejumlah merek yang dinilainya masih menggunakan kreator dengan konten vulgar dan perilaku kontroversial untuk mempromosikan produk mereka.

“Mirisnya di Ambon, brand-brand terus memakai konten kreator mesum, pelaku tindakan asusila, maki-maki untuk promosi dong pung brand,” tulisnya.

Menurut Eko, pola promosi tersebut cenderung mengutamakan keuntungan dan viralitas tanpa mempertimbangkan dampak sosial dari konten yang dipublikasikan.

“Pola semacam ini tentu hanya memikirkan keuntungan, viralnya konten, ramainya orang yang search/beli produk sambil mengabaikan atau menormalisasi tindakan penyimpangan konten kreator di ruang publik. Mestinya brand bisa ‘waras’ juga,” tegasnya.

Melalui kritik tersebut, Eko mengingatkan pentingnya tanggung jawab kreator konten dan pemilik merek dalam menjaga etika di ruang digital. Menurutnya, popularitas dan tingginya perhatian publik semestinya tidak menjadi satu-satunya pertimbangan dalam memilih kreator untuk kepentingan promosi.

Sorotan ini juga mengangkat persoalan perlindungan generasi muda dari paparan konten negatif di media sosial. Sebab, konten yang beredar di ruang digital dapat diakses berbagai kalangan, termasuk anak-anak yang masih berada dalam tahap perkembangan. (LM-GM)

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *