Home » Pemuda dan Mahasiswa Saparua Bangun Gerakan Bersama, Satukan Gagasan untuk Menjawab Persoalan Daerah

Gapuramanise.com, Ambon – Sejumlah pemuda dan mahasiswa asal berbagai negeri di Pulau Saparua, Kabupaten Maluku Tengah, menggelar pertemuan dan diskusi bersama di Caffe Robot, Jalan Jenderal Sudirman, Pandan Kasturi, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Jumat (9/10/2026). Pertemuan ini menjadi langkah awal untuk menghimpun gagasan, menyatukan perspektif, memperkuat solidaritas antarnegeri, serta merintis pembentukan wadah perkumpulan bersama sebagai ruang konsolidasi dan gerakan pemuda yang berkelanjutan.

Pertemuan tersebut berangkat dari kesadaran bahwa Saparua memiliki berbagai persoalan dan potensi yang perlu dibicarakan secara bersama-sama. Para pemuda dan mahasiswa yang hadir ingin membangun ruang komunikasi lintas negeri agar berbagai gagasan, pengalaman, dan pandangan dapat dipertemukan untuk merumuskan langkah yang berorientasi pada kemajuan daerah.

Diskusi tidak hanya membahas pentingnya persatuan, tetapi juga diarahkan pada persoalan sosial, budaya, pendidikan, kesehatan, ekonomi, lapangan pekerjaan, infrastruktur, pemerintahan, politik, serta berbagai kebutuhan masyarakat lainnya. Seluruh isu tersebut menjadi bagian dari pembicaraan awal untuk menentukan arah gerakan dan kegiatan yang dapat dikembangkan ke depan.

Salah satu perwakilan pemuda yang hadir, Basyir Tuhepaly dari Negeri Siri Sori Islam, kepada gapuramanise.com mengatakan pertemuan tersebut merupakan inisiatif bersama untuk membangun kesadaran kolektif di kalangan pemuda dan mahasiswa Saparua.

Menurutnya, pembentukan wadah bersama diperlukan agar komunikasi antarpemuda tidak berhenti pada pertemuan sesaat, tetapi dapat dilanjutkan melalui diskusi, konsolidasi, dan kegiatan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Tujuan pertemuan ini adalah mengumpulkan gagasan, menyatukan perspektif, dan menumbuhkan solidaritas di antara pemuda dan mahasiswa Saparua. Kami ingin membangun wadah bersama yang memiliki keberlanjutan, sehingga apa yang dibicarakan hari ini bisa ditindaklanjuti dalam kegiatan nyata untuk kepentingan daerah,” ujar Basyir.

Ia menegaskan bahwa gerakan tersebut tidak dimaksudkan untuk mewakili satu negeri atau kelompok tertentu, melainkan menjadi ruang bersama bagi seluruh anak negeri Saparua yang memiliki kepedulian terhadap masa depan daerah.

Basyir juga menyoroti pentingnya menghilangkan ego sektoral yang dapat menghambat komunikasi dan kerja sama antarnegeri. Menurutnya, perbedaan asal negeri tidak boleh menjadi penghalang bagi pemuda untuk menyatukan pemikiran dan memperjuangkan kepentingan bersama.

“Jangan sampai kita terjebak dalam ego sektoral masing-masing negeri. Kita memiliki kampung halaman yang sama untuk diperjuangkan. Perbedaan negeri seharusnya menjadi kekuatan untuk saling melengkapi, bukan menjadi batas yang membuat kita berjalan sendiri-sendiri. Saparua membutuhkan keterlibatan dan kontribusi kita semua,” tegasnya.

Pemuda Perlu Membangun Kesadaran dan Tanggung Jawab Bersama

Semangat konsolidasi tersebut turut menjadi perhatian Pier Pattipawaey, pemuda asal Negeri Paperu, yang hadir bersama perwakilan pemuda dan mahasiswa lainnya dalam pertemuan tersebut.

Dalam konteks diskusi yang berlangsung, gagasan yang dibangun menekankan bahwa kemajuan Saparua membutuhkan kesadaran bersama, keterlibatan generasi muda, serta keberanian untuk membicarakan persoalan daerah secara terbuka. Pemuda diharapkan tidak hanya menjadi penonton dalam perkembangan daerahnya, tetapi ikut mengambil bagian melalui pemikiran, kolaborasi, dan kegiatan yang berkelanjutan.

Pier menekankan pentingnya menjaga semangat kebersamaan agar pertemuan tersebut tidak berhenti sebagai forum bertukar pikiran, tetapi berkembang menjadi gerakan yang melibatkan semakin banyak pemuda dari berbagai negeri.

“Bagi kami, yang paling penting adalah bagaimana kesadaran ini terus tumbuh dan tidak berhenti pada pertemuan hari ini. Kita perlu membangun komunikasi, saling mendukung, dan membuka ruang bagi semua pemuda untuk terlibat. Kalau kita memiliki tujuan yang sama untuk membangun Saparua, maka kita juga harus memiliki semangat untuk berjalan bersama,” ujar Pier.

Kehadiran pemuda dan mahasiswa Saparua dalam pertemuan tersebut memperlihatkan bahwa inisiatif ini berupaya membuka ruang kebersamaan lintas negeri. Para pemuda dan mahasiswa berharap gerakan tersebut dapat berkembang secara inklusif, dengan melibatkan pemuda dan mahasiswa yang belum sempat hadir dalam pertemuan awal.

Mereka menyadari bahwa jumlah yang hadir belum sepenuhnya merepresentasikan seluruh pemuda dan mahasiswa dari negeri-negeri di Pulau Saparua. Namun, kondisi tersebut tidak mengurangi arti penting pertemuan sebagai permulaan untuk membangun komunikasi dan memperluas konsolidasi.

Saparua dan Latar Belakang Sejarahnya

Upaya menyatukan pemuda tersebut juga tidak terlepas dari sejarah panjang Saparua dalam perkembangan masyarakat dan pemerintahan di Maluku. Saparua dikenal sebagai wilayah bersejarah dengan tradisi adat, kehidupan sosial, dan peran penting dalam perjalanan sejarah Maluku.

Dalam perkembangan administrasi modern, Kecamatan Saparua merupakan salah satu kecamatan lama di Provinsi Maluku. Kecamatan ini diresmikan pada 30 Juli 1966. Pada awal pembentukannya, wilayah administrasinya mencakup Pulau Saparua dan Pulau Nusalaut, dengan pusat pemerintahan di Negeri Saparua.

Seiring perkembangan pemerintahan dan kebutuhan pelayanan masyarakat, wilayah tersebut mengalami pemekaran. Pulau Nusalaut kemudian menjadi kecamatan tersendiri pada 2011, sedangkan Kecamatan Saparua Timur dibentuk pada 2012 melalui pemekaran wilayah Kecamatan Saparua, dengan pusat pemerintahan di Negeri Tuhaha.

Latar belakang sejarah tersebut menjadi pengingat bahwa Saparua memiliki warisan sosial, budaya, dan pemerintahan yang perlu dijaga oleh generasi penerus. Para pemuda memandang bahwa menjaga warisan tersebut bukan hanya melalui pelestarian adat dan budaya, tetapi juga melalui kepedulian terhadap pendidikan, ekonomi, kesehatan, infrastruktur, serta berbagai persoalan yang memengaruhi kehidupan masyarakat saat ini.

Karena itu, pertemuan di Ambon tersebut menjadi salah satu upaya untuk membangun kesadaran bahwa masa depan Saparua perlu dipikirkan bersama oleh generasi muda, tanpa dibatasi perbedaan negeri maupun kepentingan kelompok.

Keberagaman Negeri sebagai Modal Persatuan

Pulau Saparua memiliki negeri-negeri adat dengan sejarah, karakteristik, dan tradisi yang beragam. Di Kecamatan Saparua terdapat tujuh negeri, yakni Kulur, Saparua, Tiouw, Haria, Porto, Booi, dan Paperu.

Sementara itu, Kecamatan Saparua Timur mencakup sembilan negeri, yakni Sirisori Sarane, Sirisori Islam, Ullath, Ouw, Tuhaha, Ihamahu, Iha, Nolloth, dan Itawaka, serta Negeri Administratif Mahu. Selain itu, terdapat Dusun Pia yang secara administratif berada di bawah Negeri Sirisori Amalatu.

Dengan demikian, berdasarkan pembagian wilayah yang menjadi rujukan dalam diskusi, Pulau Saparua memiliki 16 negeri adat, satu negeri administratif, dan satu dusun.

Keberagaman tersebut merupakan bagian penting dari identitas masyarakat Saparua. Setiap negeri memiliki sejarah, adat istiadat, potensi sumber daya manusia, serta pengalaman sosial yang dapat menjadi modal dalam membangun kerja sama.

Para pemuda menilai bahwa perbedaan tersebut perlu dipertemukan dalam ruang komunikasi yang sehat. Dengan begitu, persoalan yang dihadapi satu negeri dapat menjadi perhatian bersama, sementara potensi yang dimiliki negeri lainnya dapat menjadi bagian dari solusi.

Gagasan ini sekaligus menempatkan persatuan sebagai fondasi gerakan, bukan sebagai upaya menghapus identitas setiap negeri, melainkan memperkuat kerja sama untuk kepentingan Saparua secara keseluruhan.

Mengonsolidasikan Potensi Sumber Daya Manusia Saparua

Dalam pembicaraan tersebut, para pemuda dan mahasiswa turut menyoroti potensi sumber daya manusia asal Saparua yang telah berkiprah di berbagai bidang, termasuk pemerintahan, politik, akademisi, profesi hukum, dan tingkat nasional.

Keberadaan berbagai figur tersebut dipandang sebagai potensi yang dapat dihubungkan dengan kebutuhan pembangunan daerah. Para pemuda berharap komunikasi yang lebih terarah dapat membuka peluang kolaborasi dengan akademisi, praktisi, tokoh masyarakat, dan berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap Saparua.

Potensi sumber daya manusia tersebut juga perlu dihubungkan dengan persoalan yang dihadapi generasi muda, terutama akses pendidikan, kesempatan kerja, pengembangan usaha, pelayanan kesehatan, serta pembangunan infrastruktur yang mendukung kehidupan masyarakat.

Bagi para pemuda dan mahasiswa Saparua, pembangunan daerah tidak cukup hanya mengandalkan program pemerintah. Diperlukan pula partisipasi masyarakat dan inisiatif generasi muda untuk mengidentifikasi persoalan, menawarkan gagasan, serta mengawal keberlanjutan kegiatan yang bermanfaat.

Karena itu, wadah perkumpulan yang sedang dirintis diharapkan dapat menjadi ruang untuk menghimpun kemampuan, pengalaman, dan jaringan anak negeri Saparua yang berada di dalam maupun di luar daerah.

Sosial, Budaya, Ekonomi, Kesehatan hingga Lapangan Pekerjaan Jadi Agenda Diskusi

Berbagai persoalan yang dibicarakan dalam pertemuan tersebut menjadi dasar bagi penyusunan agenda lanjutan. Di bidang sosial dan budaya, para pemuda dapat mengembangkan ruang dialog antarnegeri, memperkuat solidaritas masyarakat, serta menjaga nilai adat dan tradisi lokal.

Di bidang pendidikan dan kesehatan, pembahasan diarahkan pada pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia dan perhatian terhadap kebutuhan pelayanan masyarakat. Sementara itu, persoalan ekonomi dan lapangan pekerjaan menjadi perhatian karena berkaitan dengan peluang generasi muda untuk berkembang dan berkontribusi di daerah asalnya.

Pada sektor infrastruktur, pembahasan menyangkut pentingnya pembangunan yang mendukung aksesibilitas dan kebutuhan masyarakat. Adapun isu pemerintahan dan politik menjadi bagian dari ruang diskusi untuk mendorong pemahaman yang lebih baik mengenai kebijakan publik, partisipasi masyarakat, serta arah pembangunan daerah.

Pembahasan tersebut masih menjadi bagian dari konsolidasi awal dan diharapkan dapat dikembangkan melalui diskusi yang lebih terarah dengan melibatkan berbagai pihak yang memahami masing-masing persoalan.

Para pemuda dan mahasiswa ingin agar wadah yang dibentuk nantinya tidak hanya menjadi forum untuk menyampaikan kritik, tetapi juga menjadi ruang untuk merumuskan gagasan dan menawarkan kontribusi sesuai kemampuan pemuda dan mahasiswa.

Menyiapkan Keberlanjutan Gerakan

Sebagai tindak lanjut, para pemuda dan mahasiswa berencana merancang kegiatan-kegiatan lanjutan yang dapat memperkuat komunikasi dan menghasilkan kontribusi nyata bagi Saparua.

Pembentukan wadah perkumpulan bersama menjadi salah satu gagasan utama yang dibahas. Wadah tersebut diharapkan terbuka bagi pemuda dan mahasiswa dari seluruh negeri, dengan mengedepankan prinsip kebersamaan, kesetaraan, keterbukaan, dan tanggung jawab kolektif.

Melalui wadah itu, para peserta berharap dapat menyusun agenda diskusi berkala, menghimpun gagasan dari setiap negeri, memetakan persoalan daerah, serta mengembangkan kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Basyir bersama para perwakilan pemuda yang hadir menekankan pentingnya menjaga komunikasi setelah pertemuan awal tersebut. Semangat yang telah dibangun perlu diteruskan agar semakin banyak anak negeri yang terlibat dan memiliki kesadaran untuk ikut memikirkan masa depan Saparua.

Gerakan ini tidak dimaksudkan sebagai milik individu tertentu, melainkan sebagai ruang bersama yang tumbuh dari kepedulian pemuda dan mahasiswa terhadap daerah asal mereka.

Pertemuan di Caffe Robot, Ambon, pada Jumat (9/10/2026) tersebut menjadi titik awal untuk memperkuat konsolidasi pemuda dan mahasiswa Saparua. Dengan menyatukan gagasan, meninggalkan ego sektoral, dan menjaga keberlanjutan kegiatan, mereka berharap lahir gerakan bersama yang mampu menjembatani perbedaan antarnegeri sekaligus mendorong kemajuan Saparua.

Bagi para pemuda dan mahasiswa, membangun Saparua merupakan tanggung jawab bersama. Persatuan tidak cukup berhenti pada kesamaan asal-usul, tetapi perlu diwujudkan melalui komunikasi, kerja sama, dan langkah nyata yang berorientasi pada kepentingan masyarakat serta masa depan generasi berikutnya. (ACT-GM)

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *